<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559</id><updated>2011-12-06T19:52:40.694+07:00</updated><category term='musik'/><category term='politik'/><category term='media'/><category term='resensi buku'/><category term='skenario'/><category term='esei'/><category term='teater'/><category term='sepakbola'/><category term='budaya'/><category term='sastra'/><title type='text'>MEMPERALAT KATA-KATA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-3316467542846700177</id><published>2011-12-06T19:28:00.002+07:00</published><updated>2011-12-06T19:52:40.713+07:00</updated><title type='text'>Public Intellectuals (or A Tribute to Books)</title><content type='html'>By Benedict Anderson&lt;br /&gt;Pensiunan profesor di Universitas Cornell, AS&lt;br /&gt;Terjemahan Vivi Triasanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa minggu terakhir, saya mendapat pengalaman membaca yang menyenangkan melalui sebagian besar topik tahunan Nippon Foundation. Kebanyakan kontribusinya membuka mata, tidak hanya karena kualitas, tapi juga karena jangkauan perbandingannya, dan beragam jaringan yang terbuka untuk orang-orang yang peduli tentang ketersediaan daftar panjang kebijakan negara. Meskipun begitu, secara keseluruhan, topik-topik itu membangkitkan ketertarikan tertentu dalam pikiran saya, mungkin karena saya menghabiskan tahun-tahun akademis sebagai ilmuwan politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekade yang lalu, katakanlah 1998 sampai 2008, terlihat banyak perubahan yang cepat, tidak hanya pada negara-negara dalam lingkup prakarsa yayasan ini, tapi di seluruh dunia. Hal ini diakhiri dengan krisis ekonomi paling kolosal dan mendunia setelah depresi besar-besaran tahun 1930-an, dan diikuti krisis finansial regional tahun 1997-1998.  Bicara secara politis, dekade ini diawali oleh ledakan politik pembaharuan, tapi diakhiri oleh tekanan pertahanan oligarki di Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Di tempat-tempat ini, tingkat kesenjangan ekonomi meningkat cepat, hak-hak asasi manusia disalahgunakan secara terus-menerus, dan negara melakukan pengawasan terhadap media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terlintas dalam benak saya ketika membaca tulisan-tulisan ini adalah kekasatmataan huru-hara yang ditimbulkan. Sebagai contoh, Thailand, yang sekarang berada dalam genggaman krisis politik jangka panjang, yang tanda-tandanya telah dapat dilihat pada permulaan abad baru. Tapi surat kabar Thailand hampir tidak pernah menyebutkan Thaksin Shinawatra, masalah-masalah monarki, atau pahitnya pemberontakan Muslim, orang Malaysia membicarakan selatan jauh. Tidak ada peringatan akan kedatangan pergerakan Kaus Merah yang kita baca setiap hari di koran. Seseorang bisa membaca kebanyakan koran d Filipina tanpa mendapatkan satu gagasan pun tentang buruknya kepresidenan Gloria Arroyo-Macapagal — dan sebagainya. Mengapa harus seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bisa mulai dengan kemunduran jangka panjang cendikiawan publik tradisional yang audiens atau pembaca utamanya adalah publik secara luas. Pada tahun 1960-an dan 1970-an, cendikiawan publik paling berpengaruh di Filipina adalah Renato Constantino, yang menulis banyak kajian sejarah dengan karakter nasionalis kiri yang kuat dan yang berlawanan dengan apa yang dia sebut ‘mental kolonial’ yang tertinggal di antara para pengikutnya. Dia tidak sendiri. Contohnya,seorang Amerika penganut protestan, William Henry Scott, juga menulis buku berpengaruh tentang sejarah awal Filipina, dan tentang kaum pagan minoritas yang terzalimi di Luzon Cordillera. Tidak seorang pun dari mereka sarjana jurnalistik atau jurnalis profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini hampir tidak ada orang seperti itu. Di Indonesia, tidak ada keluaran hebat seperti Pramoedya Ananta Toer, yang tidak pernah menyelesaikan sekolah menengah, tapi mampu menulis sejumlah novel dan cerita pendek luar biasa untuk masyarakat umum, meskipun dia di penjara bertahun-tahun. Hingga kini, belum ada penggantinya. Di Thailand, Sulak Sivarak selama beberapa dekade, menjadi kritikus sosial-politik paling kuat di negaranya, dan berulang kali dituduh menghina monarki. Dia tidak punya gelar akademis, dan bukanlah seorang jurnalis. Sekarang dia berusia 70 tahun, dan tidak punya pengganti yang jelas. Malaysia punya satu orang seperti itu, masih muda, seorang satir, editor, pembuat film terkemuka, penulis esai, Amir Muhammad. Lagi, bukan akademisi, jurnalis, atau pegawai sipil. Tapi dia juga sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan memperhatikan saya terutama sekali menekankan tidak adanya jabatan akademis. Hal ini membawa saya pada poin pertama dari dua perubahan mendalam yang menyulitkan pertahanan cendikiawan publik: profesionalisasi universitas, mengikuti contoh Amerika, yang secara bergiliran dipinjam dari Jerman abad 19. Profesionalisasi ini aslinya dibangun diatas institusi yang kuat disiplinnya, dengan kata lain, pemecahan pengetahuan dan kajian berdasarkan metode divisi tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mematahkan sejarawan yang tertarik pada antropologi dan pakar ekonomi pada sosiologi; tapi juga berarti kesuksesan dalam kehidupan ilmiah secara luas ditentukan oleh figur senior dalam disiplin. Sebagai tambahan, profesionalisasi mendorong pertumbuhan jargon-jargon teknis dapat dimengerti hanya oleh orang-orang dalam disiplin akademis yang sama. Pada gilirannya hal ini berarti bahwa semakin banyak dan lebih banyak lagi akademisi menulis untuk sesama mereka, diterbitkan dalam ‘jurnal profesional’ dan buletin kampus. Masyarakat umum secara bertingkat ditiadakan oleh kecenderungan ini. Menulis buku untuk pembaca jenis ini secara khusus dianggap dangkal dan tidak ilmiah. Prosa elegan semakin tidak dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, Amerika unik dalam beberapa hal. Pertama, tidak ada universitas negeri bertaraf nasional, tidak seperti hampir di semua negara di dunia. Kebanyakan universitas top adalah milik swasta. Kedua, negara ini mengembangkan ribuan universitas dalam menanggapi permintaan kebanyakan pada saat gelar universitas dianggap persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak di dalam dan di luar universitas itu sendiri. Ketiga, negara ini memiliki tradisi lama permusuhan terhadap kaum intelektual universitas secara umum, yang berarti hanya minoritas kecil profesor  memiliki koneksi kuat dengan elit politik atau media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap, contoh tersebut sangat kuat sejak 1950-an ke depan,  memberikan Amerika posisi global hegemonis selama dan setelah Perang Dingin. Puluhan ribu pemuda dari sebagian besar tempat yang dikenal sebagai Dunia Bebas diundang datang ke Amerika untuk mendapatkan gelar lebih tinggi dan diberi dana berlimpah oleh yayasan swasta dan agensi negeri. Saat kepulangan, mereka diharapkan  mengikuti contoh dari guru mereka dan menemukan kembali kehidupan kampus, sering dengan sokongan keuangan dan politik Amerika yang besar. Tapi tugas ini hanya diemban sebagian, menimbangkan karakter masyarakat asal para pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Asia Tenggara, sebagai contoh, universitas-universitas top biasanya dimiliki oleh negara, dan pegawainya adalah pegawai negeri sipil. Ada tradisi lama penghargaan terhadap pembelajaran, berdasarkan masa perintahan sebelum dan sesudah kolonial. Penghargaan ini dibentengi koneksi yang kuat dengan negara. Para pengajar memiliki akses terhadap elit politik dan media massa dengan cara yang hampir tak terpikirkan di Amerika. Di sisi lain, status sosial mereka tidak selalu diikuti oleh dukungan keuangan yang sebanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, dosen dibayar tinggi, banyak dosen-dosen senior menghasilkan lebih dari  100.000 dolar AS per tahun. Di Asia Tenggara, kontras sekali, dosen memperoleh penghasilan yang rendah, sehingga mereka akhirnya mengerjakan proyek negara yang tidak bermanfaat, kerja sambilan di universitas lain, berspekulasi di bisnis perumahan, dan berbagai peluang yang diberikan media massa, seperti menjadi pengisi kolom di koran, tampil di TV, dan sebagainya. Mahasiswa sering terabaikan, atau diperlakukan secara birokratis. Banyak akademisi bagus memilih untuk tidak mengajar sama sekali, tapi bekerja di institusi penelitian, yang jarang produktif. Itulah mengapa kebanyakan mahasiswa terbaik belajar secara mandiri dan meremehkan dosen mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keadaan ini, banyak akademisi praktis membariskan diri dengan elite politik. Cara lain, mereka bersaing keras demi dana yang disediakan oleh agensi-agensi di negara-negara kaya, yang punya agenda sendiri. Kecenderungan ini memiliki sisi bawah menurun. Saya mengingat dengan baik seorang wanita dengan dedikasi menakjubkan yang menangani dana dari Toyota Foundation untuk akademisi Asia Tenggara. Dia mengatakan bahwa dia sangat terkejut melihat bahwa akademisi Filipina yang mengikuti konferensi yang didanai yayasan tidak hanya mengharapkan seluruh biaya mereka dibayarkan, tapi juga meminta pembayaran tunai atas kontribusi mereka. Pembayaran tunai ini biasanya digunakan uuntuk berbelanja barang mahal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja sambilan di media massa juga memiliki masalah sendiri. Slot televisi bergaji lumayan, tapi biasanya tidak ada yang diberikan lebih dari lima menit, yang tidak cukup untuk menerangkan hal apapun yang penting. Menulis kolom setidak-tidaknya mendorong akademisi menulis untuk masyarakat luas, tapi sarjana yang serius tidak bisa menghasilkan kolom mingguan tanpa mengulangi diri sendiri, membicarakan diri sendiri, dan mematuhi instruksi editor dan pemilik koran tanpa henti. Mereka menjadi karyawan negara, yayasan asing, hartawan koran, dan manajer TV. Mengherankan bahwa mereka memiliki sedikit waktu untuk melakukan penelitian yang sebenarnya, menulis buku yang penting, atau dengan serius melakukan sesuatu yang menantang. Secara khusus mereka terisolasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan saya memberi Anda satu contoh. Dua tahun yang lalu, saya memberi kuliah di universitas top di Bangkok di depan sekitar 300-an dosen dan mahasiswa. Pada saat itu, saya berbicara tentang seorang jenius asli Tailand, filmmaker hebat Apichatpong Weerasethakul, yang memenangkan dua hadiah teratas di Festival Film Cannes dalam kurun waktu tiga tahun, dan juga telah memenangkan penghargaan di seluruh dunia perfilman. Di akhir perkuliahan, saya meminta audiens yang pernah mendengar tentang Apichatpong untuk mengangkat tangannya. Sekitar 10 tangan teracung, semua milik mahasiswa. Berapa yang telah menonton filmnya? Enam, lagi-lagi hanya mahasiswa. Saya tiba-tiba menyadari ketidaktahuan dosen, yang hanya menonton film-film Hollywood, dan keangkuhan mereka; filmmaker tidak mempunyai gelar universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tidak ada jembatan antara dosen dan filmmaker, novelis, pelukis, dan sebagainya. Tidak mengherankan kalau filmmaker dan novelis biasanya juga merendahkan dosen. Hanya mahasiswa yang tidak profesional yang terhubung dengan kedua dunia tersebut. Semua ini memberikan alasan mengapa susah menemukan cendikiawan publik di kampus-kampus, meskipun selalu ada pengecualian. Profesionalisasi, status kantor pemerintahan, kedekatan dengan penguasa, penghasilan yang rendah, penghinaan terhadap mahasiswa, semua ambil bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi universitas tidak dapat disalahkan tanpa mempertimbangkan lingkungan. Saya sampai pada perubahan besar kedua yang mempengaruhi pertahanan cendikiawan publik. Hal ini bisa dijelaskan sebagai perubahan kebudayaan elite nasional dan cara mereka menggunakan kekuatan negara. Hal pertama untuk diperhatikan adalah tren bersama para elite ini untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah dasar dan lanjutan internasional di negara mereka, kemudian mengirim mereka kuliah ke luar negeri, terutama ke Inggris dan Amerika, dan juga Prancis, Jepang, Singapura, Australia, dan sebagainya. Pandangan ini secara nyata menyiratkan ketidakpedulian, kalau bukan penghinaan terhadap institusi pendidikan negara. Oleh karena itu, kaum elite memiliki sedikit kecemasan tentang intervensi politik besar-besaran di kehidupan kampus. Pada akhirnya, hanya sarjana dari universitas asing yang memiliki prestise sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini berlawanan dengan apa yang terjadi di awal kemerdekaan saat semua orang bangga akan sekolah-sekolah mereka, dan guru-guru masih dihormati. Apa yang dipelajari anak-anak kaum elite, jika mereka sama sekali tidak belajar? Bisa dipastikan bahwa gelar sarjana mereka pada umumnya adalah komersil profesional: manajemen bisnis, ekonomi, tekhnik, teknologi informasi, dan lainnya, bukan sejarah, sastra, antropologi, atau sosiologi. Disiplin ilmu di atas sering terlihat tidak berguna dan tidak sesuai untuk ‘anak-anak kita’ yang akan menggantikan tempat orangtua mereka secepatnya dalam sistem politik di mana  nepotisme tanpa malu-malu ditunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anekdot: saat terakhir saya berbincang dengan Amir Muhammad, dia mengatakan bahwa firma penerbitan kecilnya baru saja mencetak sebuah koleksi cerita pendek yang ditulis oleh kaum gay dan lesbian. Karena saya mengetahui hukuman keras untuk hubungan seksual abnormal di Malaysia, saya bertanya apakah dia takut akan penindasan. “Tidak sama sekali,” ujarnya sambil tertawa. “Penguasa kami tidak pernah membaca buku, selain dua lembar usulan kebijakan dan surat kabar harian. Lagi pula, buku ini ditulis dalam bahasa Inggris, bahasa Inggris mereka tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbolis, dengan cara lain, adalah apa yang terjadi pada pemerintahan diktator panjang Soeharto. Di tahun 1978 terjadi pemberontakan mahasiswa di seluruh negeri melawan rezim yang dengan cepat dihancurkan. Para pemimpin intelektual pada umumnya adalah pemuda yang memiliki hubungan dengan kampus bergengsi, Institut Teknologi Bandung. Tapi selama pemberontakan melawan Soeharto di tahun 1998, institusi ini tidak melakukan apa-apa. Mengapa? Alasannya sederhana. Soeharto mempekerjakan sejumlah besar lulusan ITB, juga mengirim mereka ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi, ke kementerian yang berorientasi teknologi, yang segera terkenal untuk nepotisme dan korupsi. Sang diktator tahu bahwa orang-orang tersebut bukanlah ancaman untuknya. Mereka tidak lagi punya basis politik atau moral dalam masyarakat Indonesia. Mahasiswa yang mengambil alih posisi  mereka berasal dari universitas kelas dua, biasanya berorientasi agama dan milik swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini sedikit banyak punya cerita yang berbeda. Saat saya memasukkan visa untuk penelitian di tahun 1961, saya mesti menunggu sembilan  bulan sebelum disetujui. Alasan utamanya adalah kemalasan birokrasi, tapi ada juga ketakutan yang dapat dimengerti bahwa peneliti asing terutama dari Amerika, mungkin agen rahasia CIA. Di bawah pemerintahan Soeharto, presiden favorit Amerika, perubahan yang timbul memperburuk keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambisi rezim ini adalah untuk mencoba penguasaan penuh terhadap seluruh mahasiswa asing, memblokir mereka mempelajari apapun yang dianggap ‘sensitif.’ Kontrol ini dilakukan oleh badan intelijen negara, menggunakan LIPI, senjata birokrat yang ditangani para peneliti terpercaya yang jarang mengajar dan berinteraksi dengan mahasiswa, sebagai topeng. Teknik manajemen ini menyebar ke Malaysia dan Thailand, dan sedikit ke Filipina. Kekuatan veto berbagai aparat intelijen di semua negara ini  sama, sehingga mahasiswa yang mendaftar untuk visa penelitian, berganti mengerjakan proyek yang aman dan tidak berbahaya, atau belajar bagaimana berbohong secara intelijen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan mahasiswa asing ini didanai oleh yayasan swasta atau pemerintahan asing. Institusi-institusi ini—-Amerika, Jepang, Belanda, Inggris, Prancis, Kanada, dan lainnya—-punya tujuan jangka panjang, dan belasan, mungkin ratusan mahasiswa bergantung pada sokongan dana dari mereka. Pemerintah asing dengan beragam minat katakanlah di Indonesia atau Malaysia, harus memikirkan dengan cermat bagaimana untuk tidak mengecewakan pemerintah tuan rumah. Yayasan swasta menghadapi masalah yang sama, bagaimana cara mendorong penelitian yang baik tanpa menyerang atau mengecewakan aparat negara. Jika mereka terlalu berani, mereka akan diblokir, proyek mereka ditutup, hubungan mereka dengan menteri luar negeri, menteri pendidikan, dan di atas semua itu, aparat intelijen, penuh dengan muslihat. Di bawah tekanan seperti ini, cukup dimengerti agensi dan yayasan merasa dipaksa untuk berhati-hati dan bersikap konservatif. Dengan begitu  Anda dapat dengan mudah melihat mengapa program-program mereka yang berarti jarang membantu intelektual publik, tapi proyek yang ditekankan para teknokrat atau proyek berskala kecil mau tidak mau menciptakan masalah--tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga untuk para pemuda yang mereka sponsori dan danai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam, atau bersekutu dengan negara, ada beberapa grup veto yang sangat kuat yang juga perlu diperhatikan. Izinkan saya memberi satu contoh dari setiap negara di Asia Tenggara yang terlibat dengan program Nippon Foundation. Di Indonesia, grup veto paling penting adalah militer dan politisi Muslim. Saya tidak bisa memikirkan satu buku yang bagus tentang militer Indonesia (di tingkat nasional) yang diterbitkan dalam 30 tahun terakhir baik oleh sarjana Indonesia atau orang asing. Kebanyakan yang terbaik pada beragam tingkatan dan tempat. Tapi mempelajari kerajaan luas militer di bisnis, legitimasi dan ilegitimasi, tidak diizinkan. Anda mungkin berpikir bahwa orang-orang akan tertarik mempelajari situasi janggal dari sebuah negara yang jumlah penduduk Muslimnya 90 persen, tapi jumlah total perolehan suara dari berbagai partai Islam selama 10 tahun terakhir tidak pernah mencapai setengah dari angka tersebut. Atau, mengapa di saat pengaruh Islam terlihat meningkat sejak satu dekade yang lalu, prestise politisi Muslim berada di tingkat yang rendah? Sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Filipina grup veto paling berkuasa adalah gereja Katolik, yang selalu berhasil menghalangi hukum perceraian yang meringankan, menyebabkan banyaknya perceraian yang sungguh merusak wanita dan anak-anak. Kelompok ini juga menghalangi distribusi penyebaran mekanisme pengontrol kelahiran yang tidak hanya menyebabkan pertumbuhan populasi yang tidak terkontrol di negara yang dilanda kemiskinan dan emigrasi besar-besaran tapi juga menghalangi perjuangan melawan AIDS. Jumlah aset dan anggaran internal hirarki biasanya menjadi rahasia yang tersimpan rapi. Saya tidak menemukan satu buku pun yang secara sistematis menginvestigasi bunga, kebijakan, dan konsekuensi sosial dan ekonomi gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malaysia, grup veto yang penting adalah oligarki UMNO yang memegang kekuasaan tak terpatahkan selama lebih dari setengah abad. Selama bertahun-tahun grup ini secara reguler menggunakan hukum keamanan drakonik ISA, yang diwarisi dari kolonialisme Inggris tapi kemudian dikembangkan untuk menindas pemberontak, kritik, dan orang-orang dengan ide berseberangan. Semua kedok untuk menjaga perdamaian sosial, kesatuan nasional, dan kelanggengan hubungan antaretnik. Betul bahwa UMNO saat ini mengalami kemunduran, terima kasih pada perubahan sosial yang dalam dan meluas, kepemimpinan korup, dan diskriminasi terutama mayoritas India yang menyedihkan, dan sebagainya. Tapi sebuah serangan frontal melawan korupsi, ketidakmampuan, kemunafikan, sikap diskriminasi, dan sebagainya dari eliet UMNO itu sendiri: belum, meskipun para sarjana sedikit demi sedikit menjadi lebih berani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, Thailand. Satu-satunya buku bagus tentang monarki adalah karya Paul Handley, The King Who Never Smiles. Handley adalah seorang mantan jurnalis yang berbasis di Bangkok, saat ini dia diusir dari negaranya. Saat tersiar berita bahwa Yale University Press akan menerbitkan bukunya, pengadilan melakukan segala usaha untuk menghentikannya, tapi tak ada manfaatnya. Tidak perlu dikatakan lagi, buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand dan beredar di internet, satu melompat di depan agen pemeriksaan elektronik milik negara. Tapi efek terdalamnya adalah di dunia akademis intelektual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu contoh kecil adalah kisah Thailand dari 800 tahun yang lalu sampai sekarang yang terperinci dan dikemas dengan indah yang terdapat di museum nasional. Yang benar-benar aneh adalah pameran permanen ini hanya menamai sekitar empat orang, dan semuanya adalah monarkis yang dipuja. Bukan pengarang, jenderal, dokter, penyair, ilmuwan, biarawan, hakim, filsuf, filantropis atau pelukis. Pameran ini tentunya tak terpikirkan di Indonesia, Filipina, bahkan Malaysia. Hal yang sama, bahkan dalam bentuk yang lebih canggih, dapat dilihat dalam disiplin akademis seperti sejarah seni, sejarah, sastra nasional, ilmu politik, etnologi, dan sebagainya. Secara alami, ada jiwa-jiwa bebas, termasuk beberapa dosen yang cukup tua untuk pensiun. Tapi gambaran umum jauh dari menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat argumentasi ini--tentunya dibuat untuk memprovokasi--bahwa profesonalisasi dan komersialisasi universitas, kekuatan birokrasi negara yang sedang tumbuh dan agen pemeriksaan, seperti juga tren oligarki kepemimpinan negara, ruang bagi cendikiawan publik, setidak-tidaknya saat ini cukup terbatas. Tapi izinkan saya menyimpulkan dengan beberapa kata tentang buku-buku dan mengapa hal ini penting bagi intelektual publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran, dengan kolomnya hanya berlangsung sebentar, dikonsumsi untuk output hari berikutnya. Televisi bisa memiliki momen yang gamblang, tapi tak seorang pun menonton program tahun lalu. Film juga bagus, tapi biasanya hanya ditonton sekali atau dua, kecuali oleh ahlinya. Internet memiliki saat-saat emansipatoris, tapi lalu lintasnya sangat besar, dan pesan di blogosphere, Facebook dan lainnya pendek, hanya untuk saat itu. Buku yang bagus bisa dibaca ulang beberapa kali dan bisa bertahan, dihidupkan kembali, untuk periode yang sangat lama. Seseorang masih bisa menikmati membaca karya Lady Murasaki, seperti karya José Rizal, Milton, Hafiz, Voltair, dan sebagainya. Mereka memberi ruang untuk semua yang rumit dan kompleks. Karya mereka dibaca secara pribadi dalam pikiran seseorang. Dan pembacanya tidak perlu memiliki spesifikasi lanjutan, semua orang bisa belajar dari buku-buku itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah saya akan mengatakan bahwa perkembangan jaringan, seperti yang dipromosikan Nippon Foundation, selain sangat berharga dan patut dipuji, masih berarti bahwa kelompok yang saling memahami dan memikirkan hal yang sama. Tapi ini, bukanlah akhir dari pemikiran saya, seperti kontribusi publik intelektual, yang secara prinsip berbicara pada siapa saja dan setiap orang. Kita berharap mereka punya pembaca selain orang-orang terdekat. Tapi setiap masyarakat membutuhkan keduanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-3316467542846700177?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/3316467542846700177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=3316467542846700177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3316467542846700177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3316467542846700177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/12/public-intellectuals-or-tribute-to.html' title='Public Intellectuals (or A Tribute to Books)'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-6281753140511525927</id><published>2011-06-11T07:19:00.001+07:00</published><updated>2011-06-11T07:22:13.946+07:00</updated><title type='text'>Jangan Bilang Mamamu Aku Menciummu Semalam</title><content type='html'>Bak musim semi dan musim gugur yang berpagutan&lt;br /&gt;Begitulah balada kita berdua, &lt;br /&gt;Keras-sedih dan barangkali mengguncang&lt;br /&gt;Tapi jangan mimpi kita seperti John Lennon dan Yoko Ono, yang kau gilai setengah mati&lt;br /&gt;Aku tak sekuat itu&lt;br /&gt;Kau pun mungkin tak akan berani&lt;br /&gt;Kau anak mama, anak manja yang kupuja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam kau mungkin tak ingat apa-apa&lt;br /&gt;Agaknya terpengaruh suasana melantai &lt;br /&gt;Kau mabuk sedikit&lt;br /&gt;Aku pun tak berpikir normal&lt;br /&gt;Ku cium saja bibirmu sepuasnya, lalu minum sedikit&lt;br /&gt;Berdua kita sempoyongan di lampu yang gelap&lt;br /&gt;Pegangan saling erat  seakan pasangan haram yang hendak dieksekusi...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kira itulah pacaran terbaik kita&lt;br /&gt;Kau tak bicara soal Mamamu yang menjengkelkan, &lt;br /&gt;pacar-pacarmu yang ganteng yang kau sebut teman itu. &lt;br /&gt;Bahkan kau sama sekali lupa dengan Blackberry-mu&lt;br /&gt;Kau tertawa saja, ngomong jorok sesekali&lt;br /&gt;Kau hepi betul, aku lebih hepi,&lt;br /&gt;Aku menciummu hingga lemas, &lt;br /&gt;Aku masih yakin adalah bibirmu yang kucium, bukan buah persik…!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-6281753140511525927?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/6281753140511525927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=6281753140511525927' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/6281753140511525927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/6281753140511525927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/06/jangan-bilang-mamamu-aku-menciummu.html' title='Jangan Bilang Mamamu Aku Menciummu Semalam'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-55336130452864937</id><published>2011-05-08T21:25:00.000+07:00</published><updated>2011-05-08T21:26:59.568+07:00</updated><title type='text'>Bukittinggi, Taman Bosan</title><content type='html'>Kubangan rutin menikam harihariku yang hitam &lt;br /&gt;pada kota yang tergerus sejarah dan sedang kalah ini; &lt;br /&gt;Entah kerjaan, kultur, mental dan sikap;&lt;br /&gt;Aku serasa terkurung di taman bosan&lt;br /&gt;dengan orang-orang serupa zombi &lt;br /&gt;nyinyir dan bosan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bukittinggi waktu bak dimatikan dengan sengaja&lt;br /&gt;Tanggalan hanyalah kedok untuk  ganti angka&lt;br /&gt;kemajuan beringsut seperti keong&lt;br /&gt;Tak ‘da statistik, semua jalan di tempat&lt;br /&gt;bahkan bila pun kau berjalan keluar enam tahun dari kota ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aih, semonoton itukah?”seseorang berbisik,&lt;br /&gt;Aku terhening sebentar, lalu bergumam &lt;br /&gt;pada pagi yang lambat, kota mungkin bergerak, &lt;br /&gt;menggeliat oleh celotehan dan otaota warung kopi&lt;br /&gt;tapi jelang siang, kota telah padam &lt;br /&gt;bungabunga layu, tunastunas jua redup&lt;br /&gt;Dan jelang sore, selimut mimpi telah dilemparkan menutup kota&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-55336130452864937?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/55336130452864937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=55336130452864937' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/55336130452864937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/55336130452864937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/05/bukittinggi-taman-bosan.html' title='Bukittinggi, Taman Bosan'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-4462860730530110443</id><published>2011-05-06T06:20:00.000+07:00</published><updated>2011-05-06T06:21:38.387+07:00</updated><title type='text'>Pagi Terakhir Orang Sepi</title><content type='html'>Pagi terakhir seorang sepi&lt;br /&gt;dipungutnya nasib, utangutang, dan tugastugasnya&lt;br /&gt;dikemasnya bersama ribuan buku&lt;br /&gt;lalu ia pun berpakaian melintas mentari&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pagi pun lewat bersama kereta peluru&lt;br /&gt;yang dikemudikan sopir metromini&lt;br /&gt;Terguncang-guncang ia, dalam kenangannya&lt;br /&gt;tiada pacar yang akan rindu,&lt;br /&gt;tiada rekan yang patut dikenang&lt;br /&gt;semua berengsek dan cuma tempat berutang&lt;br /&gt;hanya&lt;br /&gt;k&lt;br /&gt;a&lt;br /&gt;m&lt;br /&gt;p&lt;br /&gt;r&lt;br /&gt;e&lt;br /&gt;t&lt;br /&gt;!&lt;br /&gt;Pada sebuah tikungan tajam, &lt;br /&gt;ia nekat&lt;br /&gt;melompat, &lt;br /&gt;lalu tergulung bersama nasibnya &lt;br /&gt;sebagai orang paling sepi di kereta kehidupan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sempoyongan, tidak terluka, &lt;br /&gt;hanya berdarah sedikit&lt;br /&gt;tapi hatinyalah yang paling parah&lt;br /&gt;hancur terburai serupa daging terlindas&lt;br /&gt;mirip dendeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ribuan tahun ia akan selalu mengingat momen tersebut,&lt;br /&gt;pagi yang sudah tak ada, terdampar&lt;br /&gt;pada alam kosong abu-abu,&lt;br /&gt;tak berpenghuni &lt;br /&gt;dan tak lagi punya hati…!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-4462860730530110443?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/4462860730530110443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=4462860730530110443' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4462860730530110443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4462860730530110443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/05/pagi-terakhir-orang-sepi.html' title='Pagi Terakhir Orang Sepi'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-3290013530045353668</id><published>2011-05-05T22:29:00.000+07:00</published><updated>2011-05-05T22:31:43.855+07:00</updated><title type='text'>Gaya Yankee</title><content type='html'>Diskusi kecil kami dimulai di McD&lt;br /&gt;tentang sosialisme hingga Rusia&lt;br /&gt;kami keluarkan sebatang Malrboro&lt;br /&gt;sambil minum pepsi&lt;br /&gt;lalu mulai ngobrol ngalor-ngidul&lt;br /&gt;soal musik hati kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang setengah jam&lt;br /&gt;ada yang mulai menyebut-nyebut&lt;br /&gt;keberingasan G.I. Joe&lt;br /&gt;tapi mencintai film-film Hollywood&lt;br /&gt;mengecam sikap pro-Israel&lt;br /&gt;namun setengah mati ingin studi ke Amerika &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Parfumparfum kami,&lt;br /&gt;pakaianpakaian kami, semuanya merk Amerika&lt;br /&gt;kami mempersoalkan mereka,&lt;br /&gt;tapi kami juga ngewek dan pacaran kayak mereka&lt;br /&gt;Kami ingin bertukar tempat dengan mereka &lt;br /&gt;Amerika ada dalam relung hati kami!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-3290013530045353668?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/3290013530045353668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=3290013530045353668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3290013530045353668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3290013530045353668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/05/gaya-yankee.html' title='Gaya Yankee'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-4781787678410126597</id><published>2011-05-02T06:34:00.000+07:00</published><updated>2011-05-02T06:35:23.599+07:00</updated><title type='text'>Kabul Jatuh</title><content type='html'>Malam mungkin kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit yang merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memekakkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kota yang bermandi cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu bayi menangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersahutan tatkala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mesiu jatuh laksana ujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ditulis sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabul jatuh diiringi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orkestra tangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debudebu yang bertebangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayatmayat yang bergelimpangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditingkahi suara kemarahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam mungkin kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak di Kabul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah ini telah dikapling-kapling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagi-bagi laksana kue&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bak paket McD&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-4781787678410126597?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/4781787678410126597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=4781787678410126597' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4781787678410126597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4781787678410126597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/05/kabul-jatuh.html' title='Kabul Jatuh'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-4174171626871982353</id><published>2011-05-01T21:50:00.001+07:00</published><updated>2011-05-01T21:52:48.668+07:00</updated><title type='text'>Dia Ditolak Pujaannya</title><content type='html'>Dia ditolak pujaannya, lalu berjalan gontai&lt;br /&gt;Ada bom meledak menakutkan, dia berjalan letoi&lt;br /&gt;Ada orang menodong, dia keluarkan uang, &lt;br /&gt;lalu berjalan dengan kantong kosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ditolak pujaannya, ada homo yang ditikam&lt;br /&gt;Dia terus berjalan, homo itu terbaring mandi darah dan mati&lt;br /&gt;Dia berjalan nanar, seorang anak kecil tertabrak&lt;br /&gt;Dia berjalan sempoyongan, seorang nenek terjerembab kena senggol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dia berjalan kepayahan, ada genangan bening di matanya&lt;br /&gt;Seorang tentara membentaknya,”Liat-liat kalau jalan!”&lt;br /&gt;Dia berjalan terus,  tentara itu menempelengnya&lt;br /&gt;Dia berjalan lemah, hatinya perih, matanya kabur menyeberang jalan&lt;br /&gt;Seorang pengendara menabraknya, dia terjatuh lima depa&lt;br /&gt;Dia bangkit, berjalan, dan tertabrak lagi…!&lt;br /&gt;Dia ditolak pujaannya….!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-4174171626871982353?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/4174171626871982353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=4174171626871982353' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4174171626871982353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4174171626871982353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/05/dia-ditolak-pujaannya.html' title='Dia Ditolak Pujaannya'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-4597734128729056538</id><published>2011-04-08T14:50:00.000+07:00</published><updated>2011-04-08T14:58:22.924+07:00</updated><title type='text'>Menggugat Nama-nama Jalan di Indonesia</title><content type='html'>Oleh Zamakhsyari Abrar*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu “warisan” rezim Orde Baru yang luput diotak-atik hingga kini setelah jatuhnya Soeharto adalah berkaitan dengan pemberian nama-nama jalan di Indonesia. Bila para pembaca cermat, nyata sekali bahwa pemberian nama jalan di negeri ini merupakan bagian dari desain besar penguasa Orde Baru untuk mengukuhkan supremasi militer di atas masyarakat sipil. Mengapa saya sampai pada kesimpulan demikian? Kalau kita amati, harus diakui bahwa banyak tempat strategis, pusat bisnis dan sentra pemerintahan di kota-kota besar negeri ini diberi nama dengan nama pahlawan militer seperti Sudirman, Ahmad Yani, dan S. Parman. Seolah-olah hanya nama merekalah yang pantas menghiasi jalan-jalan utama tersebut, bukan nama Sukarno, Mohammad Hatta, Syahrir dan apalagi orang kiri seperti Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ambil misal jalan di Jakarta. Sejumlah kawasan strategis dilabeli dengan nama petinggi militer TNI. Misalnya kawasan elite Semanggi yang terletak di jantung Jakarta. Jalan yang menghubungkannya ke arah timur diberi nama dengan Jalan Gatot Subroto (mengambil nama Gatot Subroto, tentara angkata 45),  lebih ke timur lagi ke arah UKI, Cililitan, adalah Jalan MT Haryono (MT Haryono adalah salah seorang jenderal yang menjadi korban dalam peristiwa 30 September 1965). Ke barat dari Semanggi, tepatnya menuju Slipi adalah Jalan S. Parman di mana di sepanjang jalan ini berdiri gedung politis daan berpengaruh yakni Gedung DPR/MPR dan DPD. Dari Semanggi menuju Blok M atau sebaliknya, berdiri gagah Jalan Sudirman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan yang saya sebut itu adalah jalan elite, jalan protokol, jalan-jalan utama yang strategis dan mulus dengan kantor-kantor menjulang berdiri di atasnya. Saya kasih contoh lain. Jalan penghubung utama dari Cililitan menuju utara Jakarta ke arah Tanjungpriok diberi nama  dengan Ahmad Yani, lagi-lagi nama petinggi militer, salah seorang korban peristiwa 30 September 1965. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pekanbaru atau Padang misalnya, Jalan Sudirman dan Jalan Ahmad Yani merupakan jalan utama, sentra bisnis dan pusat pemerintahan. Di Bandung, Semarang  dan hampir sebagian besar di kota-kota seluruh Indonesia, nama-nama untuk jalan protokol kebanyakan menggunakan nama Surdirman, panglima besar TNI kita atau nama Ahmad Yani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa iya semua jalan protokol diberi nama dengan nama petinggi militer TNI? Saya jawab saja langsung, tentu tidak semua kawasan elite dinamai dengan nama petinggi militer kita. Misalnya Jalan Thamrin, Jakarta, yang seperti kita tahu diambil dari nama mendiang MH Thamrin, pahlawan Betawi yang berasal dari sipil. Atau kawasan segitiga emas Kuningan, Jakarta Selatan, jalannya dinamai dengan pahlawan sipil HR. Rasuna Said, pejuang wanita gigih asal Minangkabau. Atau di Padang ada Jalan Hamka dan Jalan Adinegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu sulit bagi kita untuk tidak memungkiri, ada diskriminasi dalam pemberian nama-nama jalan tersebut. Kebanyakan nama-nama yang menghiasi jalan protokol di negeri ini berasal dari kalangan militer, bukan tokoh sipil, apalagi tokoh kiri. Kita bisa saja menggugat, kenapa nama Sukarno, salah seorang founding fathers kita, seperti dilupakan di jalan ibukota negara ini? Kenapa tidak ada jalan yang diberi nama dengan Jalan Sukarno di Jakarta (mungkin juga di Indonesia)? Apa Sukarno tidak pantas untuk mengisi nama jalan elite di DKI yang notabene merupakan halaman depan negara ini? Bagaimana pula Bung Hatta? Nasibnya saya kira mirip dengan Sukarno. Setahu saya, tiada jalan di Jakarta yang diberi nama dengan Bung Hatta. Kalau Sukarno dan Hatta bernasib kurang elok, tidak demikian halnya dengan Sjahrir. Sjahrir masih beruntung. Namanya diabadikan untuk sebuah jalan (meski) kecil dan tak berarti di kawasan Menteng, Jakarta Selatan. Apakah mungkin karena tokoh Partai Sosialis itu pernah tinggal di kawasan sana? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya kemudian, kriteria apa yang dipakai tim perumus sehingga nama seorang yang dianggap pahlawan pantas menghias sebuah jalan di negeri ini? Mengapa nama para founding fathers kita seperti disingkirkan dari jalan-jalan utama di negeri ini? Lihat misalnya Tan Malaka. Orang komunis yang banyak menghabiskan waktunya dalam pelarian ini tidak mendapat tempat di jalan-jalan elite di negeri ini. Di Padang, memang ada nama jalan atas tokoh pendiri PARI ini. Tapi itu hanya jalan pinggiran dan tidak berarti. Rupanya Tan Malaka tidak hanya dikesampingkan dari buku sejarah resmi negeri ini, bahkan namanya pun tak pantas untuk menghias jalan utama di sejumlah kota besar negeri kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sjahrir lebih beruntung dibanding Tan Malaka. Yang saya tahu, Perdana Menteri pertama republik ini namanya  menghias jalan di Bukittinggi, kota asalnya, tepatnya jalan arah ke terminal Simpang Aur. Sebuah jalan yang lumayan strategis karena terletak di pusat kota wisata tersebut. Kalau Mohammad Hatta bagaimana? Ironisnya bahkan nama untuk jalan raya yang melintas di rumah pribadinya di dekat Pasar Banto, Bukittinggi, tidak menggunakan nama Jalan Mohammad Hatta. Nama untuk jalan tersebut memadukan nama Hatta setelah Sukarno yakni Jalan Sukarno-Hatta, seolah-olah kedua tokoh proklamator tersebut tidak pantas sendiri-sendiri untuk menghiasi nama sebuah jalan. Kalau di kota kelahirannya sendiri Bung Hatta tidak layak diabadikan untuk nama sebuah jalan (yang melintasi rumahnya), bagaimana pula nasibnya di kota-kota lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian halnya, Bung Hatta dan Sukarno saja, yang begitu besar jasanya di negeri ini dipinggirkan, bagaimana pula dengan pejuang-pejuang lain yang kebetulan menganut paham kiri ? Bagi Anda yang suka traveling, jangan heran ke mana pun Anda pergi, yang Anda temui adalah Jalan Sudirman, Jalan Ahmad Yani dan nama jalan pahlawan militer lainnya. Herannya lagi, tidak ada seorang pun yang memberi perhatian terhadap hal ini. Bagaimana dengan Anda? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah mantan wartawan dan blogger, kini bermukim di Bukittinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-4597734128729056538?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/4597734128729056538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=4597734128729056538' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4597734128729056538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4597734128729056538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/04/menggugat-nama-nama-jalan-di-indonesia.html' title='Menggugat Nama-nama Jalan di Indonesia'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-7608079953736344719</id><published>2011-03-22T21:52:00.000+07:00</published><updated>2011-03-22T22:03:29.154+07:00</updated><title type='text'>Lawang oh Lawang</title><content type='html'>Pernah mendengar nama Lawang? Bagi Anda yang belum pernah mendengar nama ini, baiklah saya terangkan sedikit. Lawang adalah sebuah nagari dingin di atas bukit barisan. Sebuah nagari kecil di atas Danau Maninjau, Kabupaten Agam, dengan pemandangan alam yang mempesona. Bila Anda  ingin melihat sunset, Anda bisa datang ke sini. Pemandangan terbaik melihat matahari terbenam adalah seusai hujan turun mengguyur Lawang. Yang Anda saksikan akan membuat Anda terkesima. Kata-kata tidak akan mampu menjelaskan pemandangan cantik yang Anda lihat. Sekali Anda ke Lawang, dijamin Anda tidak akan bosan untuk datang lagi dan lagi ke sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lawanglah saya dilahirkan, tempat di mana tumbuh berserakan pepohonan tebu, tempat di mana lotion yang digunakan oleh penduduknya nyaris sama satu sama lainnya. Beneran lho! Ke mana-mana saya mencium bau itu-itu lagi, sampai saya nyaris mau muntah karena tidak tahan lagi dengan aromanya. Saya pikir orang Lawang tak ada bedanya dengan anak kos yang kebetulan hidupnya serba pas-pasan hingga harus berbagi deodoran yang sama dengan penghuni lain. Maaf, enggak bermaksud menghina. Ini hanya sekadar ilustrasi untuk menjelaskan kekhasan daerah ini, sehingga Anda yang belum pernah ke Lawang bisa langsung dapat membayangkan keunikan daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menyamakan orang Lawang dengan nasib anak kos pasti akan menuai protes dari mereka. Bisa-bisa saya dicemberutin orang se-Lawang. Saya sebut cemberut karena sikap ini banyak yang menghampiri kaum mudanya. Entah setan mana yang mampir di Lawang hingga banyak kaum mudanya yang mahal senyum dan lebih suka cemberut atau mambuduik bahasa Minangnya. Bahkan pagi sekalipun mereka sudah mambuduik ketika berbelanja ke lepau tante saya. Wajah itu akan makin cemberut apabila berpapasan dengan sosok asing yang tak dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hemat saya, mungkin tekanan ekonomilah yang merampas senyum mereka tadi. Di daerah ini saya menyaksikan  anak-anak dipaksa matang sebelum waktunya. Remaja dikarbit menjadi orang dewasa. Ibu-ibu muda yang terdesak kebutuhan kanan-kiri sehingga tidak punya waktu mengurus “wilayah domestik” mereka  akhirnya kelihatan sepuluh tahun lebih tua dibanding usia mereka yang sebenarnya. Dan bapak-bapak yang menjadi tulang punggung keluarga makin menguatkan indikasi  tersebut. Kerut di paras mereka berlapis-lapis dan menjelang sore mereka pulang dari sawah dengan langkah letih, seperti kuda beban yang kelebihan muatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya nagari terpencil lain di Sumatra Barat, kebanyakan masyarakatnya menggantungkan hidupnya dengan bertani. Tahu sendirilah nasib petani di negeri agraris minus politik pertanian ini. Orang Lawang memang cukup makan, tapi sebagian besar nyaris hidup dengan kantong pas-pasan. Bahkan tidak sedikit yang gali lobang tutup lobang.  Sebagian karena ketidakmampuan mengelola keuangan akibat pendidikan yang tidak memadai, dan sebagian lagi karena kemalasan. Padahal, mereka sebenarnya terbilang kaya. Sebab dibanding nasib petani marjinal di Jawa yang miskin lahan, orang Lawang rata-rata punya tanah garapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membiayai hidup sehari-hari, mereka membuat saka (sejenis gula merah) yang diolah dari pohon tebu yang tumbuh subur di daerah ini. Saka yang baik satu kilonya bisa dihargai enam ribu rupiah. Harga segitu sudah lumayan tinggi. Ada kalanya harga bisa naik atau tiba-tiba merosot turun mengikuti harga durian (kalau lagi musim durian). Bila raja buah ini cuma dihargai sebiji dua ribu saja, maka saka dengan tidak masuk akal ikut mengekor turun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah bermurah hati ikut mengotorkan tangan membuat saka di maruang tante saya, saya pikir harga enam ribu tersebut benar-benar tidak sepadan dengan beban kerja dan waktu yang diperlukan untuk membuatnya. Mula-mula tebu dikumpulkan di maruang (tempat mengolah saka). Lalu batangnya diperas dengan mesin kilangan (kalau Anda cukup kaya untuk membeli mesin) atau kalau tidak dengan cara tradisional yakni menggunakan kilangan yang dihela dengan kerbau. Cara tradisional ini amat menyiksa kerbau dan menguras waktu serta tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling berat setelah ini adalah menjarang air tebu untuk dibuat menjadi saka. Buat memasaknya diperlukan waktu rata-rata lima jam. Kayu bakar harus cukup, sabar juga jangan dilupakan. Sebab untuk memanaskan tungku saja, diperlukan waktu lebih kurang dua jam saja. Hitung-hitung waktu yang diperlukan untuk memproduksi gula merah ini sekitar sebelas jam. Jadi misalnya Anda mulai mengilang pagi buta sekitar pukul setengah enam, prediksikan sendiri kapan selesainya. Kerja segitu belum termasuk mencari kayu bakar, mengambil batang tebu yang akan dikilang, hingga mengangkat kuali raksasa berisikan air tebu yang mendidih!   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan beban kerja model begini, tak  heran banyak orang muda Lawang kehilangan senyumnya. Mereka pun lebih suka merantau dibanding memanggang diri di depan tungku. Saya sebut memanggang karena untuk memasak air tebu menjadi saka diperlukan api yang segarang-garangnya. Biasanya saat mengilang ada satu orang yang khusus bertugas menghidupkan perapian tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Lawang dengan nada mencemooh menyebutkan mengilang membuat Anda tidak akan melihat cahaya matahari. Jika Anda mulai mengilang pagi buta, maka baru akan selesai menjelang Magrib. Apalagi dengan kondisi geografis Lawang yang berada sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut, sinar matahari kalau lagi kumat terbilang langka di sini. Mendung sedikit di atas Danau Maninjau, kabut yang tebal segera menutup nagari dingin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memprihatinkan saya, pendidikan formal nyaris tidak menjadi perhatian mereka. Banyak ninik mamak yang hanya menginjak bangku sekolah pada tataran SD. Situasi ini mendorong kaum muda Lawang yang berpendidikan dan kebetulan merantau kurang menghargai mereka. Di Lawang sini, bila Anda rajin dan pandai bertani serta membuat saka, sekolah tak perlu tinggi-tinggi, demikian kira-kira pameo klasik para pembenci sekolah itu. Kalaupun ada yang sekolah tinggi-tinggi, mereka enggan turun ke maruang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gempa mengguncang Sumbar pada 30 September 2009, bukit-bukit yang berada di sebelah barat Danau Maninjau ikut luluh lantak meninggalkan  bekas longsoran. Hal ini terlihat jelas sekali dari Puncak Lawang. Untunglah gempa dahsyat tersebut tidak sampai menimbulkan korban di kawasan ini. Padahal banyak daerah lain di sekitar dan di bawahnya terkena gempa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersyukurlah Lawang selamat dari gempa. Tiap hari banyak yang mengantar dosa ke nagari awak ini,” ujar Win, salah seorang pareman Lawang, merujuk banyaknya pasangan muda-mudi yang pergi ke Puncak Lawang. Memang tidak sedikit pasangan muda-mudi yang kepergok tengah bermain “kuda-kudaan” di atasnya. (Pikirnya karena banyak hutan dan rerumputan hijau, sehingga dalam pikiran syetan mereka, lezat mungkin untuk main “kuda-kudaan”.  Edan!.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lawang, khususnya Kampuang Tangah tak pernah kehabisan ulama,” ujar seorang warga lain mencoba mencari alasan mengapa daerah mereka selamat dari gempa dahsyat itu.  Kaderisasi ulama berjalan baik di sini. Lawang hampir tak pernah kehabisan ulama. Pendidikan agama dibanding sekolah formal memang cukup banyak mendapat perhatian orang-orang di daerah ini. Kuatnya perhatian terhadap agama ini bukanlah hal yang mengherankan. Dalam sejarah Perang Padri, Lawang tercatat sebagai salah satu basis orang putih dan memainkan peranan yang cukup penting sebelumnya jatuhnya Bonjol. Hamka dalam bukunya Ayahku menulis Lawang merupakan salah satu benteng terakhir orang putih untuk menahan gempuran Belanda. Ketika Lawang kemudian jatuh, maka terbukalah jalan ke Bonjol melalui Palembayan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang membanggakan saya, gempa telah mendekatkan satu nagari dengan nagari lain di Sumbar. Saya menyaksikan sendiri solidaritas spontan dan kepedulian untuk berbagi tanpa menunggu bantuan pemerintah kalau masih ada, itu pun bila tidak dikorupsi. Di mana-mana didirikan posko gempa dan ketika barang bantuan sudah  terkumpul, mereka dengan berkonvoi lalu membawa berbagai sumbangan tadi menuju Pariaman, lokasi yang terparah dihajar gempa, melewati jalan Danau Maninjau (karena jalan Padang-Bukittinggi saat itu masih putus).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-7608079953736344719?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/7608079953736344719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=7608079953736344719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7608079953736344719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7608079953736344719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/03/lawang-oh-lawang.html' title='Lawang oh Lawang'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-3296738619932597197</id><published>2011-03-11T11:07:00.004+07:00</published><updated>2011-03-13T21:43:20.865+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Interview dengan Jorge Luis Borges</title><content type='html'>Jorge Luis Borges adalah pria yang punya banyak dunia dan suasana hati. Sebagai tokoh penting dalam sastra berbahasa Spanyol modern, dia banyak mengambil ide kreatifnya dari Jerman: puisi Inggris, Franz Kafka, dunia mitologi pejuang Inggris dan Norwegia tempo doeloe. Sarat dengan anti-moral dan anti-politik, karya-karya pengarang Argentina ini banyak berkisar mengenai sejarah Amerika Selatan dan pengacauan perasaan manusia. Pengarang yang mengklaim menyajikan karyanya dengan cara yang sederhana ini bisa saja mengatur setting ceritanya dalam sebuah kuil yang eksotik atau di sebuah bar; mungkin dengan menggambarkan harimau dan pisau yang berkilauan di bawah sinar bulan, atau kesabaran seorang sarjana memahami manuskrip kuno. Tulisan-tulisan Borges berasal dari mimpi-mimpi dan pengalaman. Tidak ada hal yang pasti; kehidupan sangat berkuasa, tapi sayang hanya terlihat sekilas sebelum terlindas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari kerja keras terus-menerus yang dilakukan Borges dalam menyilangkan lingustik, mitologi, dan batasan sosial adalah sebuah karya—esai, cerita, dan puisi—yang mendapat pengakuan dunia. Pada  1960 dia menerima penghargaan World Publisher's Prize bersama dengan penulis drama Prancis, Samuel Beckett, dan dia juga sering diprediksi bakal meraih hadiah Nobel Sastra di masa y.a.d. (Nyatanya Borges tidak pernah meraih penghargaan bergengsi tersebut itu hingga akhir hayatnya-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;catatan yang punya blog&lt;/span&gt;).   Meskipun Borges mulai menerbitkan karyanya di Buenos Aires tahun 1920-an,  dan bahkan koleksi prosa pentingnya, Ficciones, diterbitkan tahun 1944, kumpulan cerita itu baru dikenal publik  setelah terbitnya Labyrinths (New Directions) pada 1961, sebuah antologi cerita-cerita, esai, dan puisi Borges di awal karirnya, sehingga karyanya tersebar ke Amerika Serikat dan negara-negara berbahasa Inggris lainnya. Terjemahan Ficciones keluar tahun 1962, menyusul terjemahan A Personal Anthology (1967), The Aleph and Other Stories (1972), dan In Praise of Darkness (1974), yang pengerjaannya dilakukan dan diawasi oleh Norman Thomas di Giovanni, yang pernah bekerja bersama Borges.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara akrab dengan Jorge Luis Borges berarti menelusuri labirin masa lalu pengalaman dan pendiriannya, dan tembok yang dihadapi saat melakukan penelusuran mungkin tidak terduga. Hal ini mungkin menjadi petunjuk atau hanya pengalihan dalam pencarian, tapi untuk memahami Borges, atau sebagian dari dirinya, perlu disadari bahwa petunjuk dan pengalihan itu adalah Borges sendiri. Jangan berharap bisa menemukan Borges yang sama setiap kali adanya. Ada banyak sekali ‘Borges’. Inilah Jorge Luis Borges yang ditemui Artful Dodge pada 25 April 1980. Tulisan ini berasal dari versi Inggris yang bisa dicari di "Om Google".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jorge Luis Borges: Biar saya sampaikan lebih dulu: pertanyaan langsung. Contohnya, bukan, "Apa pendapatmu tentang masa depan?" ada banyak masa depan yang berbeda satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel Bourne: Izinkan saya bertanya tentang masa lalumu, kalau begitu, pengaruhmu, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Well, saya bisa mengatakan pengaruh yang saya terima, tapi tidak pengaruh yang mungkin telah saya berikan. Saya tidak begitu tahu, dan saya tidak terlalu peduli. Saya lebih merasa sebagai pembaca, baru penulis. Saya pembaca yang baik, dalam banyak bahasa, terutama Inggris, terlebih karena saya mengenal puisi melalui bahasa Inggris, awalnya melalui kecintaan ayah saya pada Swinburn, Tennyson, dan Keats, Shelley dan sebagainya –tidak melalui bahasa ibu saya, Spanyol. Puisi datang seperti mantra. Saya tidak memahaminya, tapi dapat merasakan. Ayah saya mengizinkan saya mengelola perpustakaannya. Saat saya mengingat masa kecil, yang terbayang adalah buku-buku yang saya baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Anda benar-benar seorang pecinta buku. Bisakah anda menjelaskan bagaimana cita kepustakawanan dan barang kuno anda membantu memberikan kesegaran dalam tulisan anda? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Saya sendiri bertanya-tanya apakah tulisanku memiliki kesegaran. Saya menganggap diri saya pada dasarnya termasuk ke dalam abad ke19. Saya lahir di tahun terakhir abad itu. 1899, dan juga tulisan saya- well, saya juga membaca karya penulis kontemporer- tapi saya dibesarkan dengan karya Dickens dan injil, atau Mark Twain. Tentu saja saya tertarik dengan masa lalu. Mungkin salah satu alasannya adalah kita tidak bisa membuat, tidak bisa mengubah masa lalu. Maksud saya, kita tidak bisa membatalkan masa depan. Tapi masa lalu pada akhirnya hanyalah kenangan, mimpi. Anda tahu kelihatannya masa lalu saya berubah terus menerus setiap kali saya mengingatnya, atau membca hal yang menarik perhatian saya. Saya merasa berhutang banyak pada para penulis, yang karyanya pernah saya baca, aatau penulis yang benar-benar merupakan bagian bahasa mereka, bagian dari tradisi. Bahasa sendiri merupakan sebuah tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Stephen Cape: Jika anda tidak keberatan, mari kita membicarakan puisi anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Teman-teman saya berkata saya adalah pengacau karena saya tidak betul-betul menulis saat  saya mengerjakan puisi. Tapi teman-teman saya yang menulis prosa mengatakan saya bukan penulis saat saya mengerjakan prosa. Saya tidak tahu akan melakukan apa, saya kebingungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SC: Penyair modern, Gary Snyder, menjabarkan teori puitisnya dalam puisi pendek berjudul Riprap. Ide puisinya memiliki kemiripan dengan puisi anda, jika diizinkan saya ingin mengutip sebagian kecil puisi tersebut yang menggambarkan sikapnya terhadap kata-kata dalam puisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Ya, tapi kenapa sebagian kecil, lebih banyak lebih baik, kan? Saya ingin menikmati pagi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SC membaca Riprap Gary Snyder, dalam RIPRAP. San Francisco: Origen Press, 1959)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SC: Judul Riprap merujuk kepada membuat jalan setapak dari batu di atas karang yang licin, agar kuda beban bisa mendaki gunung, jalan penghubung yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Tentu, dia menulis dengan metafora yang bervariasi, dan saya tidak, saya menulis dengan bahasa yang sederhana. Dia memiliki bahasa Inggris yang bisa dimainkan, saya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SC: Idenya terlihat seperti membandingkan penempatan kata-kata dalam puisi dengan membangun penghubung dimana setiap bagian berdiri sendiri. Anda menyetujui pendekatan seperti itu terhadap puisi, atau ini hanyalah salah satu dari sekian pendekatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Well, seperti kata Kipling, "ada 69 cara menggagas syair tribal, dan setiap cara itu benar"- dan mungkin itu salah satunya. Tapi syairku tidak seperti itu. Saya punya- sejenis hubungan, yang samar-samar. Saya mendapat ide; well, idenya mungkin berupa kisah atau puisi. Tapi saya hanya diberi titik awal dan akhir. Dan saya harus mereka-reka apa yang terjadi di antaranya, dan saya melakukan yang terbaik. Secara umum, saat mendapat inspirasi seperti itu, saya melakukan apapun untuk melawannya, tapi jika tetap mengganggu, saya harus menuliskannya. Tapi saya tidak pernah mencari persoalannya. Mereka datang dalam sebuah sangkar, mereka bisa datang saat saya berusaha tidur, atau saat saya terjaga. Mereka menghampiri saya di jalan-jalan di Buenos Aires, atau di mana saja, kapan saja. Contohnya, seminggu yang lalu saya bermimpi. Saat terbangun- ini sebuah mmpi buruk- saya berkata, well, mimpi ini tidak layak diceritakan, tapi ada sebuah cerita  yang bersembunyi di sini. Saya ingin menemukannya. Saat saya merasa menemukannya, saya menulisnya dalam lima atau enam bulan. Saya memberdayakan waktu saya untuk itu. Jadi saya punya, katakanlah, metode yang berbeda. Setiap seniman mempunyai metode yang berbeda, tentu saja, dan saya menghargai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SC: Snyder mencoba untuk menyampaikan cara pikirnya kepada pembaca secara langsung dengan campur tangan sesedikit mungkin dari pemikiran pembaca. Dia mengejar sensasi metode itu. Apakah ini terdengar sedikit ekstrem bagi anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Tidak, tapi dia terlihat sebagai penulis puisi yang sangat berhati-hati. Sementara saya tua dan ‘bersih’. Saya hanya mengoceh, mencoba mencari cara. Orang-orang berkata, contohnya, pesan apa yang saya miliki. Saya khawatir saya tidak punya. Well, ada fabel, apa pesan moralnya? Saya tidak tahu. Saya hanyalah pemimpi, kemudian penulis, dan saat paling membahagiakan adalah ketika saya menjadi pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SC: Apakah menurut anda kata-kata memiliki pengaruh yang tak terpisahkan dengan kesan yang dibawanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Well ya, contohnya, jika anda menulis sonnet, misalnya, jika kamu mengerjakan sonnet, dalam bahasa Spanyol, anda harus menggunakan kata-kata tertentu. Hanya ada sedikit rima. Dan tentunya digunakan sebagai metaphora, metaphora yang ganjil, karena anda terikat dengannya. Saya berani mengatakan- tentu saja ini pernyataan dalam arti luas - mungkin kata ‘moon’ dalam bahasa Inggris berbeda akarnya dengan ‘luna’ dalam Latin atau Spanyol. Kata ‘moon’ mempunyai bunyi yang tidak hilang. Moon adalah kata yang indah. Bahasa Prancisnya juga indah: lune. Tapi dalam Inggris kuno, bulan adalah mona. Sama sekali tidak indah, dua suku kata. Bahasa Yunaninya lebihburuk. Celena, tiga suku kata. Moon adalah kata yang indah. Bunyinya tidak ditemukan, katakanlah dalam bahasa Spanyol. Moon. Katanya hidup. Kata-kata menginspirasi anda. Memiliki jiwa sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SC: Kehidupan kata, apakah itu lebih penting daripada makna yang dimiliknya dalam konteks tertentu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Saya rasa makna lebih atau kurang irrelevant. Satu, atau dua fakta penting yang mesti saya katakana adalah emosi, kata-kata muncul dari emosi. Saya rasa anda tidak akan bisa menulis tanpa emosi. Jika anda mencoba, hasilnya palsu. Saya tidak menyukai cara tulisan seperti itu. Puisi yang hebat, menurut saya, anda merasa telah menulisnya sendiri, bukan pengarangnya. Harus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SC: Bisakah sebuah mitos digantikan jika penyairnya lain tapi pengaruh puitisnya tetap sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Saya rasa setiap penyair memiliki mitos sendiri. Mungkin dia tidak menyadarinya. Orang-orang berkata saya telah mengembangkan mitos tersendiri tentang harimau, pedang, labirin, dan saya tidak menyadarinya. Pembaca saya yang menemukannya. Saya rasa itulah tugas seorang penyair. Saat memikirkan Amerika, saya cenderung memikirkan kata ‘Walt Whitman’. Kata Manhattan diciptakan untuk dia, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SC: Gambaran Amerika yang sehat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Well, ya. Pada waktu yang sama, Walt Whitman sendiri adalah sebuah mitos, laki-laki yang juga penulis, sangat tidak beruntung, kesepian, dan kemudian membuat dirinya sendiri pengembara yang hebat. Saya menandai bahwa Whitman mungkin satu-satunya penulis di bumi yang telah berencana untuk menciptakan mitologi dirinya sendiri dan salah satu dari tiga trinitas adalah pembaca, karena ketika membaca Walt Whitman, anda adalah Walt Whitman. Sangat aneh bagaimana dia melakukan itu, satu-satunya di muka bumi. Tentu saja, Amerika menghasilkan penulis-penulis besar dunia. Terutama New England. Dunia memiliki orang-orang yang tidak bisa dikesampingkan. Contohnya, literatur kontemporer tidak akan sama tanpa Poe, Whitman, dan mungkin Melville dan Henry James. Tapi Amerika Selatan, kita punya banyak hal yang penting  untuk kita dan Spanyol, tapi tidak untuk bagian dunia yang lain. Saya merasa literatur Spanyol dimulai dengan sangat baik. Di sana, dengan penulis seperti Quevado dan Gongora, anda merasakan sesuatu menegang, bahasa tidak mengalir sebagaimana seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Apakah ini untuk abad ke 20? Ada Lorca, contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Saya tidak terlalu suka Lorca. Well kamu lihat, ini adalah sebuah kesalahanku, saya tidak suka puisi visual.dia selalu seorang visual, dan dia memasuki metafora yang kaya. Tapi tentu saja, saya tahu dia sangat dihargai. Saya mengenalnya secara pribadi. Dia tinggal setahun di New York. Dia tidak belajar satu pun kata dalam bahasa Inggris setelah setahun di New York. Sangat aneh. Saya hanya bertemu dengannya sekali di Buenes Aires. Dan kemudian, adalah sebuah keberuntungan baginya untuk dieksekusi. Hal terbaik yang bias terjadi pada penyair. Kematian yang baik, kan? Kematian yang mengesankan. Kemudian Antonio Mucharo menulis puisi yang indah tentang dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SC: Indian Hopi seringkali digunakan sebagai contoh karena sifat dasar bahasa mereka, ide bahasa dan kosa katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Sedikit sekali yang saya  tahu tentang ini. Saya mengenal Indian Pampa dari nenek saya. Seumur hidup dia tinggal di Junin; di ujung barat peradaban. Dia mengatakan bahwa ilmu hitung mereka maju. Dia mengangkat satu tangannya dan berkata, "aku akan mengajarkanmu matematika Indian Pampa." "aku tidak akan mengerti," "Ya," katanya, "kamu akan mengerti. Lihat tanganku: 1, 2, 3, 4, banyak." Jadi, jumlah tak terbatas ditandai ibu jarinya. Saya memperhatikan, yang disebut pujangga Pampa, orang-orang tersebut sedikit gagasan tentang jarak. Mereka tidak memikirkan kata mil, serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Teman saya yang berasal dari Kentucky mengatakan bahwa ukuran jarak bagi mereka adalah satu gunung, dua gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Benarkah? Betapa anehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SC: Apakah perubahan dari Spanyol ke Inggris, Jerman atau Inggris kuno memberikan anda cara lain memandang dunia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Saya rasa setiap bahasa pada dasarnya berbeda. Dengan bahasa Spanyol, sangat sulit membuat bahasa mengalir, karena kata-katanya sangat panjang. Dalam bahasa Inggris, kata-katanya lebih ringan. Contohnya, slowly, quickly, dalam bahasa Inggris, yang kamu dengar adalah bagian bermakna dari kata itu: slow-ly, quick-ly. Kamu mendengar slow and quick. Dalam bahasa Spanyol ada lentamente, rapidamente, dan yang kamu dengar adalah mente-nya. Percuma, begitulah. Seorang teman menerjemahkan sonet Shakespeare ke bahasa Spanyol. Saya katakan dia butuh dua sonet Spanyol untuk satu sonet Inggris, karena kata-kata bahasa Inggris pendek dan langsung ke intinya, berbeda dengan Spanyol. Bahasa Inggris punya kualitas fisik. Well, dalam bahasa Inggris kamu bisa katakan: menjelaskan diri. Dalam Kipling Ballad of East and West, seorang petugas Inggris sedang mengejar seorang Afganistan pencuri kuda. Keduanya mengendarai kuda. Kipling menulis: "They have ridden the low moon out of the sky./ Their hooves drum up the dawn." Kamu tidak bisa menaiki bulan yang rendah di langit Spanyol dan tidak bisa menghidupkan fajar. Bahkan kalimat sederhana seperti dia jatuh atau dia kembali berdiri, tidak bisa dibuat dalam bahasa Spanyol. Kamu harus mengatakan dia berusaha sebaik mungkin untuk bangkit atau paraphrase lemah lain. Tapi dalam bahasa Inggris kamu bisa melakukan lebih dengan kata kerja dan posisi. Kamu bisa tulis: dream away your life; live up to; something you have to live down. Hal-hal seperti itu mustahil dalam bahasa Spanyol. Tidak bisa dilakukan. Kemudian ada kata majemuk. Contohnya wordsmith. Bahasa Spanyolnya adalah un herrero de palabras, agak kaku, kasar. Tapi bisa dalam bahasa  Jerman, kamu bisa menyusun kata setiap kali. Kamu tidak memiliki kebebasan yang dimiliki orang-orang Anglo-Saxon. Contohnya, ada sigefolc, atau orang-orang yang berjaya. Di Inggris kuno, kata-kata ini bukanlah kata-kata tiruan, tapi tidak demikian halnya dalam bahasa Spanyol. Tentu saja, kamu punya apa yang saya anggap indah di Spanyol: bunyinya sangat jelas. Dalam bahasa Inggris bunyi vokalnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SC: Apa yang pada awalnya membuat anda tertarik pada puisi Anglo-Saxon?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Well, penglihatan saya tidak bisa lagi digunakan untuk membaca saat saya menjadi kepala pustakawan di Argentine National Library. Saya berkata saya tidak akan tunduk dan mengasihi diri sendiri. Saya akan mencoba sesuatu yang lain. Dan kemudian, saya ingat, di rumah saya memiliki Sweet's Anglo-Saxon Reader dan The Ango-Saxon Chronicles. Saya berkata saya akan mencoba Anglo-Saxon. Saya memulainya; saya mempelajarinya melalui Sweet's Anglo Saxon Reader. Lalu saya jatuh cinta karena dua kata, yang masih bisa saya ingat dengan baik; nama London, Lundenburh; dan Roma, Romeburh. Sekarang saya sedang mencoba Norwegia kuno, literatur yang lebih baik daripada Inggris kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SC: Bagaimana anda menggambarkan mitologi abad ke 20 bagi penulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Itu pertanyaan yang besar! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Saya rasa tidak perlu dilakukan dengan sengaja. Kamu tidak perlu mencoba jadi kontemporer. Kamu sudah kontemporer. Apa yang dimiliki seseorang dalam mitologi berevolusi sepanjang waktu. Secara pribadi, saya rasa saya  bisa membuat mitologi Yunani dan Norwegia kuno. Contohnya: saya rasanya tidak membutuhkan pesawat, jalur kereta api, atau mobil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charles Silver: Saya ingin tahu apakah ada bacaan mistis atau religius yang mempengaruhi anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Ya, saya telah membaca, dalam bahasa Inggris dan Jerman, tentang Sufi. Lalu saya berpikir, sebelum meninggal, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menulis buku tentang mistik Swedenborg. Blake juga seorang mistis. Saya tidak suka mitologinya. Terasa sangat dibuat-buat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Anda berkata, "saat seseorang membaca Whitman, dia adalah Whitman," dan saya bertanya-tanya apakah saat anda menerjemahkan Kafka, anda merasa seperti Kafka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Well, saya merasa berhutang banyak pada Kafka sehingga saya merasa tidak perlu eksis.  Saya hanyalah sebuah kata untuk Chesterton, Kafka, dan Sir Thomas Browne- saya mencintainya. Saya menerjemahkannya ke dalam Spanyol abad ke 17, dan hasilnya sangat bagus. Kami mengeluarkan satu bab Urne Buriall dan Quevado's Spanish – periode yang sama, ide yang sama tentang menuliskan bahasa Latin dalam bahasa yang berbeda, Inggris, Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Anda adalah yang pertama menerjemahka Kafka ke Spanyol. Apakah anda merasa ini sebuah misi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Tidak, itu adalah ketika saya menerjemahkan Song of Myself Walt Whitman. "apa yang sedang kulakukan adalah hal yang sangat penting," saya berkata pada diri sendiri. Tentu saja saya hapal Whitman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Apakah anda merasa dengan melakukan penerjemahan, anda terbantu dalam memahami dan menghargai karya anda sendiri, apakah ini memberikan alasan atas apa yang anda kerjakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Tidak, saya tidak pernah memikirkan karya saya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Saat anda menerjemah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Tidak, di rumah, silahkan kunjungi Buenos Aires, saya akan memperlihatkan pustaka saya, kamu tidak akan menemukan satu pun buku hasil karyaku. Saya sangat yakin-saya memilih buku-buku saya. Siapalah saya, bisa memasuki lingkungan Sir Thomas Browne, atau Emerson. Saya bukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Jadi Borges sang penulis dan Borges sang penerjemah benar-benar terpisah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Ya. Saat menerjemah, saya berusaha untuk tidak mencampuri. Saya mencoba untuk melakukan terjemahan yang wajar, dan juga menjadi penyair .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Anda berkata bahwa anda tidak pernah berusaha untuk memasukkan makna apapun ke dalam karya anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Well, kamu lihat, saya merasa saya adalah orang yang beretika, tapi saya tidak berusaha untuk mengajarkan etika. Saya tidak punya pesan. Saya hanya tahu sedikit tentang kehidupan modern. Saya tidak membaca koran. Saya tidak suka politik dan politikus. Saya bukanlah anggota partai apapun. Kehidupan pribadi saya adalah kehidupan pribadi. Saya berusaha menghindari pemotretan dan publisitas. Ayah saya pun punya pandangan yang sama. Dia berkata, "saya ingin menjadi orang yang tak terlihat." Dia cukup bangga dengan hal ini.. Di Rio de Janeiro, dulunya, tak seorang pun mengetahui nama saya. Saya benar-benar merasa tak terlihat di sana. Dan entah bagaimana, publisitas menemukan saya. Apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak mencarinya, dia yang menemukan saya. Tentu saja, seseorang hidup sampai usia 80, seseorang ditemukan, seseorang terdeteksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Tentang ada atau tidaknya makna dalam kaya anda- dalam karya Kafka ada rasa bersalah, dan di karya anda semuanya melewati rasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Ya, itu betul. Kafka memiliki rasa bersalah. Saya rasa saya tidak memiliki itu karena saya tidak percaya pada keinginan yang bebas. Karena apa yang telah saya kerjakan telah dilakukan, oleh saya sendiri atau melalui saya. Saya tidak benar-benar melakukannya. Tapi saya tidak terlalu percaya pada keinginan yang bebas, say tidak bisa merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Apakah ini terkait dengan kata-kata anda bahwa hanya ada kombinasi yang terbatas dari elemen-elemen dan sebenarnya konsepsi ide hanyalah pengungkapan kembali dari masa lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Ya, saya rasa begitu. Saya rasa setiap generasi harus menulis kembali buku-buku di masa lalu dengan cara yang sedikit berbeda. Saat saya menulis puisi, yang sudah sering ditulis ulang, saya tetap harus menemukannya. Itu adalah tugas moral saya. Saya menduga kita semua mencoba variasi yang sangat sedikit, tapi bahasa itu sendiri sangat sukar diubah. Joyce, tentu saja, berusaha melakukannya. Tapi dia gagal, meskipun dia menulis beberapa baris puisi yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Apakah anda lalu akan mengatakan bahwa semua puisi yang pernah ditulis kembali di dinding yang sama dalam labirin? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Ya, itu adalah metafora yang bagus. Tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Bisakah anda memberikan kami pedoman kapan anda beranggapan bahwa menggunakan warna lokal adalah logis dan kapan tidak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Saya rasa, jika kamu bisa melakukannya dengan rendah hati, semuanya untuk kebaikan. Tapi jika kamu menekankannya, semuanya adalah palsu. Tapi hal ini harus digunakan, maksud saya, bukanlah sesuatu yang di larang. Tanpa penekanan. Kami telah mengembangkan sejenis bahasa slang di Buenes Aires. Para penulis menyalahgunakannya. Tapi orang-orang lain hanya sedikit menggunakannya. Mereka mungkin mengatakan satu kata dalam bahasa slang setiap 20 menit, tapi tak seorangpun berbicara dengan bahasa slang sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Apakah ada penulis Amerika Selatan, menurut anda, yang menyampaikan warna lokal ini secara efektif  kepada anda sebagai orang luar dari budaya tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Ya, saya rasa rasa Mark Twain memberiku banyak hal. Kemudian Ring Lardner. Kamu menganggap dia sangat Amerika, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Dan urban...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Lebih urban, ya. Dan penulis lain? Saya sudah baca Bret Harte. Saya beranggapan bahwa Faulkner adalah penulis yang hebat-saya tidak suka Hemingway- tapi Faulkner penulis hebat, meskipun, well, menyampaikan sebuah cerita dengan cara yang salah dan mencampuradukan urutan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Anda menerjemahkan Wild Palms Faulkner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Ya, tapi saya tidak terlalu menyukai buku itu. Menurut saya Light in August jauh lebih baik. Dan buku yang diremehkannya. Sanctuary, buku yang juga sangat menarik. Itulah buku Faulkner yang pertama saya baca, dan saya kemudian membaca yang lain. Saya juga membaca puisinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Saat anda menerjemahkan Faulkner dan penggunaan warna lokalnya, bagaimana anda menyikapinya, apakah anda terpaku dengan Spanyol yang sebenarnya atau anda mencoba untuk menggunakan sejenis Spanyol lokal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Tidak, saya beranggapan bahwa jika seseorang harus menerjemahkan bahasa slang, dia harus menerjemahkan ke dalam  ke dalam bahasa Spanyol yang sebenarnya, karena kamu bukanlah… kamu memperoleh warna local yang berbeda. Contohnya, ada terjemahan puisi berjudul El Gaucho, Martin Fierro. Diterjemahkan menjadi cowboy English. Saya mesti berkata, itu salah, karena anda jadinya memikirkan cowboys, bukan gauchos. Saya akan menerjemahkan Martin Fierro, ke dalam bahasa Inggris semurni yang saya bisa. Karena mungkin cowboy dan gaucho memiliki tipe yang sama, tapi saat mendengar nama mereka, kamu memikirkan hal yang berbeda. Saat memikirkan cowboy, yang terlintas adalah senapan. Tapi saat memikirkan gaucho, kamu teringat pisau belati dan duel. Semuanya dilakukan dengan cara yang sangat berbeda. Saya sudah melihat beberapa. Saya pernah melihat seorang laki-laki tua, sekitar tujuh puluh lima, menantang seorang pemuda berduel, dan dia berkata, "aku akan kembali dalam waktu singkat." Dia kembali dengan dua pisau belati yang terlihat sangat berbahaya, salah satunya memiliki hulu perak, dan salah satunya lebih besar daripada yang lain. Ukurannya berbeda. Dia meletakkan pisau-pisau itu di atas meja dan berkata,"Well, sekarang, pilih senjatamu." Jadi kamu lihat, dia menggunakan sejenis retorika. Maksudnya: "kamu boleh pilih yang lebih besar, aku tidak keberatan." Dan tentu saja kemudian pemuda itu meminta maaf. Laki-laki tua itu punya banyak belati di rumahnya, tapi dia memilih keduanya dengan maksud tertentu. Dua pisau belati itu menyiratkan, "orang tua ini tahu bagaimana menguasai pisau belati, karena dia bisa memilih yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Itu mengingatkan cerita anda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Well, tentu saja, saya menggunakannya dalam cerita saya; dari menceritakan pengalaman seseorang, muncullah sebuah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Ada makna di sana, tapi anda tidak perlu menyebutkannya, anda tinggal menyebutkan apa yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Well, maknanya adalah bahwa laki-laki itu seorang penjahat, penipu. Tapi di saat yang sama dia punya tanda kehormatan. Maksud saya, dia tidak akan menyerang seseorang tanpa peringatan. Dia tahu bagaimana melakukannya. Semua dilakukan sangat, sangat lambat. Seorang laki-laki mungkin akan mulai dengan saling memuji. Dan kamu akan berkata dia tidak tahu cara berkelahi. Kamu mengajarinya, mungkin. Setelah itu, dia akan menyela dengan kata-kata pujian dan berkata, "ayo ke jalan," "pilih senjatamu," dan sebagainya. Tapi semuanya dilakukan dengan sangat lambat, sangat lembut. Saya bertanya-tanya apakah retorika seperti ini telah hilang. Saya rasa begitu. Well, sekarang mereka menggunakan senjata api, revolver, dan semua kode itu telah lenyap. Kamu bisa menembak seseorang dari jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Pertarungan dengan pisau lebih intim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Intim, ya. Well, saya menggunakan kata itu. Di akhir sebuah puisi saya memakainya. Seorang laki-laki terluka di lehernya, dan saya berkata, "akhir yang intim di lehernya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Anda berkata penulis baru mesti memulai dengan meniru pola lama dan penulis yang mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Saya rasa itu adalah pertanyaan kejujuran, bukan? Jika kamu ingin memperbarui sesuatu, kamu mesti menunjukkan bahwa kamu bisa melakukan apa yang telah dilakukan. Kamu tidak bisa memulai dengan inovasi. Kamu tidak bisa memulai dengan syair bebas, misalnya. Kamu mesti mencoba sonnet, atau stanza, dan melanjutkan dengan sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Kapan waktu untuk melepaskan diri? Bisakah anda memberi gagasan dari pengalaman anda sendiri kapan waktunya memulai dengan pendekatan baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Tidak, saya membuat kesalahan. Saya mulai dengan syair bebas. Saya tidak tahu bagaimana menanganinya. Sangat sulit, dan kemudian saya akhirnya menemukan, menulis dengan syair bebas kamu harus membuat pola sendiri dan menggantinya setiap kali. Well, prosa, prosa datang setelah puisi, tentu saja. Prosa lebih sulit. Saya tidak tahu. Saya menulis dengan insting. Saya rasa saya bukan penyair yang bersemangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Anda berkata seseorang mesti memulai dengan bentuk yang sedikit banyak tradisional. Bukankah hal ini tergantung audiens? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Tidak, saya tidak pernah memikirkan audiens. Saat mencetak buku pertama saya, saya tidak mengirimkannya ke toko buku, atau penulis lain, melainkan kepada teman-teman saya- sekitar tiga ratusan. Buku-buku itu tidak dijual. Tapi tentu saja, saat itu tidak seorang pun yang berpikiran bahwa dengan menjadi penulis sama dengan terkenal, sukses, atau gagal. Pemikiran seperti itu tahun 1920, 1930 masih asing bagi kami. Tak seorangpun memikirkan sukses atau gagal menjual buku. Kami menganggap menulis sebagai selingan, atau sejenis peruntungan. Dan saat saya membaca autobiografi DeQuincey, saay menemukan bahwa dia selalu tahu bahwa dia hidup dalam sastra, juga Milton, dan Colerige, saya rasa. Mereka tahu, kapan pun. Mereka tahu hidupnya akan dihabiskan untuk literatur, membaca, dan menulis, yang semuanya sejalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Puisi pendek anda Borges and I dan The Watcher memperlihatkan ketertarikan anda pada kesepasangan. Apakah kita bisa meminta Borges yang bukan penulis bicara sejenak dan memberi penilaian terhadap karya Borges, apakah dia menyukainya atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Saya tidak terlalu menyukainya. Saya lebih suka karya yang asli. Saya lebih suka Chesterton dan Kafka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Jadi, anda beranggapan tidak adanya buku-buku Borges di pustaka anda adalah keputusan Borges si penulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Ya, tentu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Dia menyelaraskan diri dengan keadaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges: Ya. Kamu takkan menemukan satupun buku karyanya di sekitarku, karena saya memperingatkannya, saya sakit dan lelah. Saya mengingatkannya pada apa yang saya rasa. Saya katakan, nah, Borges datang lagi. Apa yang bisa saya lakukan? Mengaturnya. Semua orang merasa begitu, saya rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DB: Sebuah komentar yang dibuat Jean-Paul Sartre selalu mempesona saya. Dia berkata: "Man is a wizard unto man." Bagaimana menurut anda? Setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Manusia adalah seorang penyihir? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DB: Dia menciptakan ide-ide, hukum alam semesta, dan berusaha membuat sesama mempercayainya. Anda setuju dengan hal seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Saya rasa itu digunakan khusus untuk penyair dan penulis, kan? Dan teologis, tentu saja. Bagaimanapun juga, kalau kamu memikirkan, Trinitas jauh lebih aneh daripada Edgar Allan Poe. Ayah, anak, dan roh suci, dan ketiganya menjadi tunggal. Sangat, sangat aneh. tapi tak seorangpun percaya hal ini, saya harap. Setidaknya saya tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DB: Mitos tidak perlu dipercayai supaya efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borges: Tidak, dan saya heran. Misalnya, imajinasi kita menerima Centaur, tapi bukan, katakanlah, kerbau dengan wajah kucing. Tidak. Itu tidak bagus, amat kasar. Tapi kamu menerima Minotaur, Centaur, karena mereka indah. Well, setidak-tidaknya kita menganggap mereka indah. Mereka bagian dari tradisi. Tapi Dante, yang tidak pernah melihat monument, koin, tahu mitos Yunani dari penulis Latin. Dan dia memikirkan Minotaur sebagai kerbau dengan wajah pria berjenggot. Sangat jelek. Dalam banyak edisi Dante kamu lihat Minotaur seperti itu, saat kamu memikirkannya sebagai manusia berkepala kerbau. Tapi karena Dante telah membaca semi-boven, semi-hominem, dia beranggapan seperti itulah Minotaur. Dan imajinasi kita susah menerima ide itu. Tapi sebagaimana saya memikirkan banyak mitos, ada satu yang sangat berbahaya, mitos tentang negara-negara. Maksud saya, mengapa saya harus memikirkan diri saya sebagai orang Argentina, bukan orang Cili, atau Uruguay. Saya tidak tahu pasti. Kita memaksakan semua mitos itu, dan mereka dibuat untuk menciptakan kebencian, perang, permusuhuan-sangat membahayakan. Well, saya duga dalam jangka panjang, pemerintahan dan negara-negara akan habis sama sekali, dan kita akan jadi, well, kosmopolitan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-3296738619932597197?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/3296738619932597197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=3296738619932597197' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3296738619932597197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3296738619932597197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/03/interview-dengan-jorge-luis-borges.html' title='Interview dengan Jorge Luis Borges'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-8693886175193951182</id><published>2011-01-22T08:15:00.005+07:00</published><updated>2011-01-22T09:35:10.733+07:00</updated><title type='text'>In Memoriam Mario Monicelli 16 May 1915–29 November 2010</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mario Monicelli, demikian nama filmaker asal Italia ini. Selain menyutradarai, ia juga dikenal sebagai penulis skenario, pioner film komedi ala Italia. Sutradara kelahiran 16 Mei 1915 mengakhiri hidupnya secara tragis dengan bunuh diri. Berikut tulisan mengenai Monicelli yang dimuat di sebuah majalah film terkemuka Eropa oleh &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pasquale Iannone&lt;/span&gt;, penulis dan pengamat film serius.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seluruh film terbaikku adalah tentang kegagalan. Dalam tawa ada kepahitan atau keputusasaan. Namun aku tidak merasa menjadi orang yang pesimistis, aku sendiri pribadi optimistis yang senang melihat segi negatif dari sesuatu yang positif,” Mario Monicelli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah Monicelli bunuh diri, Curzio Maltese menulis dalam koran lokal La Repubblica dan menggambarkannya sebagai Balzac Italia, penulis “karya besar komedi kemanusiaan Italia”, termasuk lusinan filmnya yang kebanyakan adalah karya masterpiece.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam sebuah wawancara pada 1978, Monicelli mengungkapkan bahwa, lebih dari sekedar Balzac, pengaruh besar dari film-filmnya seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I soliti ignoti&lt;/span&gt; (Persons Unknown, 1958) atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I compagni&lt;/span&gt; (The Strikers, 1963) berasal dari sastrawan besar abad ke-19; Charles Dickens. Pada Dickens, ada ketidakadilan yang diperlihatkan secara buka-bukaan, tapi tetap penuh humor dan berkarakter. Dickens sangat mempengaruhi karya-karya Monicelli yang penuh sindiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monicelli lahir di Viareggio pada 1915. Kemampuannya melebihi anak-anak seusianya. Sutradara berusia 95 tahun ini menyutradarai film-film pendek di usia belasan. Dia menjadi sutradara kedua di film pertamanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I ragazzi della via Paal&lt;/span&gt; (The Boys of Via Paal), bekerja sama dengan Alberto Mondadori yang ditampilkan pada Venice Film Festival tahun 1935.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monicelli juga tercatat pernah bekerja sebagai penulis skenario dan asisten bagi orang-orang seperti Mario Camerini, Ferdinando Poggioli dan Augusto Genina di akhir 1930-an dan awal 1940an sebelum kerjasama besarnya yang pertama dengan sutradara Pietro Germi. Dia menulis skenario untuk film seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gioventù Perduta&lt;/span&gt; (Lost Youth, 1947) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;In nome della legge&lt;/span&gt; (In The Name of the Law, 1948), sebuah film yang kemudian digambarkan sebagai film terhebat yang mengisahkan sepak terjang mafia Sicilia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain nama Germi, tokoh penting lain dalam karir Monicelli adalah Steno (nama panggung Stefano Vanzina). Mereka bertemu tahun 1949 dan berlanjut dengan menyutradarai beberapa film bersama, seperti Guardie e Ladri (Cops and Robbers) pada 1951, lalu dengan Aldo Fabrizi dan komedian terkenal Neapolitan Totò.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Steno sangat hebat sebagai penulis skenario, tapi tidak sebagai sutradara,” kata Monicelli. “Seorang sutradara butuh energi dan kepribadian yang kuat, sementara Steno membiarkan dirinya diatur oleh keadaan, aktor dan produser, dia terlalu sopan,” nilainya. Kerjasama ini pun berakhir di pertengahan 1950-an dan Monicelli pun lebih memilih berdiri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1958 dia membuat sebuah film yang bagi kebanyakann kritikus dan sejarawan film merupakan contoh pertama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Commedia all’italiana&lt;/span&gt; (komedi bergaya Itali). Merupakan campuran thriler-kriminal seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Huston’s The Asphalt Jungle&lt;/span&gt; (1950) atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dassin’s Rififi&lt;/span&gt; (1955), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Persons Unknown&lt;/span&gt; mempertemukan Marcello Mastroianni, Vittorio Gassman, Claudia Cardinale dan Totò dalam pahit-manis perjuangan berat, tipikal film-film Monicelli. Film ini ditulis oleh Monicelli bersama penulis naskah Age, Scarpelli dan Suso Cecchi D’Amico, dengan shot oleh Gianni Di Venanzo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak lanjut Monicelli dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Persons Unknown&lt;/span&gt; – dia bekerja sama dengan produser Dino De Laurentiis dalam kisah Perang Dunia I yang terinspirasi oleh karangan Guy de Maupassant tahun 1882 &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Deux amis&lt;/span&gt; (Two Friends). “Apa yang akan terjadi,” De Laurentiis membayangkan, “Jika kita membuat film seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;All Quiet On The Western Front&lt;/span&gt; tapi dengan dua peran yang tak berarti oleh Gassman dan [Alberto] Sordi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Monicelli, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;La grande guerra&lt;/span&gt; (The Great War, 1959) adalah sebuah keberuntungan – dua tahun setelah film Kubrick &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Paths of Glory&lt;/span&gt; – untuk menghilangkan anggapan akan mitos kepahlawanan Perang Dunia I. Sang sutradara sangat tertarik pada film antihero, untuk mewakili kisah serdadu Itali sederhana yang terlempar dalam peperangan tanpa benar-benar memahami mengapa dia harus berperang. Dapat ditebak, film ini dengan cepat mengundang kontroversi. Sejumlah kritikus sangat marah karena Monicelli berani menampilkan Perang Dunia I dalam bentuk komedi, apalagi dalam bentuk sinis seperti itu. Bagaimanapun juga, kritikan terebut membuat film ini sukses, memenangkan Golden Lion, dan membuatnya disebut-sebut sebagai film terbaik tahun 1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi yang melingkupi The Great War menuntun Monicelli mencerminkan peranan pembuat film komedi di Italia, dan bagaimana sutradara seperti dirinya, Luigi Commencini atau Dino Risi jarang dihargai sebagai sutradara “serius”. Hal ini didukung oleh penerimaan yang diberikan pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I compagni&lt;/span&gt; (The Strikers, 1963), sebuah film tentang pekerja tekstil yang mengalami eksploitasi diakhir abad ke 19. Luigi Chiarini, seoarng teoritikus film andal, dan sutradara Venice Film Festival, menolak untuk memutar film itu pada acaranya karena dia yakin topik seperti itu tidak seharusnya dikemas dalam bentuk komedi. Namun film ini mendapat pujian luas, bahkan menerima Academy Award untuk nominasi Best Screenplay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek utama Monicelli selanjutnya adalah film sejarah lain yang bersetting abad pertengahan, dan kemudian menjadi film komedi cinta terbaik Italia tahun 1960-an. Film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;L’Armata Brancaleone&lt;/span&gt; (For Love and Gold, 1966) memberikan peran ikonik untuk Vittorio Gassman, ia sering disebut sebagai aktor favoritnya. Monicelli, Age dan Scarpelli bersikukuh bahwa film ini mestinya terhindar dari sanitasi Hollywood tentang gambaran abad pertengahan– film ini tidak akan ragu-ragu menggambarkan mewabahnya kekerasan, kesengsaraan, dan kebodohan. Sekuel film ini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brancaleone alle crociate&lt;/span&gt; (Brancaleone at the Crusades) dibuat tahun 1970, bisa dianggap sebagai cikal bakal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Monty Python and the Holy Grail&lt;/span&gt; (1974).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlatar suasana akhir 60-an, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;La ragazza con la pistola&lt;/span&gt; (The Girl With The Gun, 1968) sangat bermakna dalam mewujudkan bayangan Antonioni oleh Monica Vitti, yang merupakan peran besar pertamanya di film komedi. Aktris ini bermain sebagai gadis Sicilia yang setelah mengalami pelecehan dan dibuang begitu saja, menelusuri jejak pelakunya ke Inggris. Film ini diputar di berbagai kota, termasuk Edinburgh, Sheffield, London dan Brighton, dan juga dibintangi oleh Stanley Baker dan Corin Redgrave. Film ini menjadi titik penting dalam karir Vitti, sebagaimana halnya dengan peran-peran dalam banyak film komedi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1974, mentor dan teman lama Monicelli, Pietro Germi, tengah mempersiapkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Amici Miei&lt;/span&gt; (My Friends) – semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I Vitelloni&lt;/span&gt; abad pertengahan – namun dia meninggal sebelum sempat memulai syuting. Monicelli menyelesaikan film ini, dan kemudian film ini menjadi fenomena, melemparkan Jaws-Spielberg dari daftar box office Italia dan terus lanjut tahun 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kerusuhan sosial politik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;anni di piombo&lt;/span&gt; (‘years of lead’), Monicelli membuat film yang bagi kebanyakan orang adalah filmnya yang paling pesimistis, kisah tentang seorang ayah yang hidupnya terkoyak kematian anaknya dalam sebuah perampokan. Dibuat berdasarkan novel Vincenzo Cerami, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Un borghese piccolo piccolo&lt;/span&gt; (An Average Little Man, 1977) Alberto Sordi dan Shelley Winters bermain sangat luar biasa sebagai Giovanni dan Amalia Vivaldi, orangtua yang dilingkupi kesedihan. Dengan istrinya yang lumpuh karena kehilangan, Giovanni memutuskan untuk menyelesaikan masalah dengan tangannya sendiri dan memburu pembunuh anaknya. Sebagaimana Monicelli memberi aktris Monica Vitti peran komedi pertamanya, sang sutradara memberi aktor komedi handal Sordi peran dramatis pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Un borghese&lt;/span&gt;, saya ingin menelusuri kenyataan dramatis di Italia di akhir 1970,” Monicelli mengenang. “Pergeseran tematis dan gaya terlihat logis dan alami. Selama produksi, saya berkata bahwa film ini menandai kematian ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;commedia all’italiana&lt;/span&gt;’. Well, mungkin bukan kematian, tapi lebih tepat transformasi dan perubahan total.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sinema Italia secara perlahan mengalami kemunduran dari awal 1980, Monicelli tetap membuat film dan menyutradarai teater. Menyoroti periode ini, termasuk di dalamnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Speriamo che sia femmina&lt;/span&gt; (Let’s Hope It’s a Girl) di tahun 1986, sebuah perayaan kaum wanita yang menampilkan pemain internasional (Liv Ullmann, Catherine Deneuve, Stefania Sandrelli) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Il male oscuro&lt;/span&gt; (Dark Illness) di tahun 1990 yang dibintangi Sandrelli, Giancarlo Giannini dan Emmauelle Seigner. Dia membuat film yang kemudian menjadi karya terakhirnya pada tahun 2006. Dengan setting Perang Dunia II, film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Le rose del deserto&lt;/span&gt; (The Roses of the Desert) menceritakan pengalaman perang tentara Italia di Libya, sang sutradara kembali menciptakan film bersejarah untuk terakhir kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat seminggu sebelum kematiannya, Monicelli aktif dalam kampanye menolak pemotongan karya seni di negeri pizza tersebut, bahkan mengadakan pertemuan dengan mahasiswa. Menyuarakan kampanyeanti-Berlusconi dengan lantang, dia menyatakan dalam sebuah wawancara TV di awal tahun itu bahwa dia melihat banyaknya kaitan antara Il Cavaliere Italia itu dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Il Duce&lt;/span&gt;, bahwa yang dibutuhkan adalah “revolusi, sesuatu yang tidak kita miliki di negara ini.” Meyakinkan, kukuh, dan terang-terangan, Monicelli juga mudah dimengerti dan memiliki pemikiran yang gamblang sampai akhir hayatnya. Dia meninggalkan karya yang luar biasa, yang layak mendapat penghargaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-8693886175193951182?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/8693886175193951182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=8693886175193951182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/8693886175193951182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/8693886175193951182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2011/01/in-memoriam-mario-monicelli-16-may.html' title='In Memoriam Mario Monicelli 16 May 1915–29 November 2010'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-68655388852941527</id><published>2010-04-02T14:45:00.002+07:00</published><updated>2010-04-02T14:47:32.146+07:00</updated><title type='text'>Lihat Sejarah Bangsa Lewat Iklan Masa Lalu</title><content type='html'>Jakarta - Poster film itu menarik perhatian. Tidak hanya karena usianya yang tua yakni 59 tahun, tapi juga melalui poster film itu kita secara sekilas diingatkan bahwa ternyata di tengah kondisi Indonesia yang serba tidak menentu pada 1950, film sebagai sebuah karya seni masih tetap diproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poster film tersebut tertulis bahwa judul film itu adalah Bantam produksi Tan dan Wong, dibintangi oleh R. Mochtar Sofia, D. Ismail, Moch Mochtar, dan Sukarsih. Tentu saja gambar poster itu tidak bisa disamakan dengan gambar poster yang sekarang. Di poster itu ada latar bergambar wanita dengan ilustrasi hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tulisan dalam poster itu mengenai film Bantam. Satu romance jang luar biasa menarik hati, penu dengan actie dan pertempuran-pertempuran heibat! Satu film jang laen dari jang laen! Lihatlah bagaimana harta-dunia tida mungkin menangkan kabedjikan, hingga achirnya se'orang Ajah jang hanja utamakan berkrintjingnya ringgitan, telah insjaf dari kekeliruannja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dilanjutkan dengan kalimat, Pertjintahan murni jang terhalang oleh rupa-rupa rintangan, achirnya keluar dengan kamenangan jang gilang-gumilang dan...hati dua mendjadi satu! Diiderken buat seluruh Indonesia-Sariket oleh Tan &amp; Wong Bros. Film Coy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poster itu hanyalah salah satu yang dimiliki oleh Pietjie yang bekerja sebagai designer interior. Melalui poster itu, kita seakan diingatkan lagi dengan perjalanan sejarah kita sebagai sebuah bangsa dan perkembangan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu dari kalimat posternya bahwa film itu diproduksi ketika Indonesia masih menyatu dalam sebuah serikat yakni 1950. Kita tidak tahu kapan tepatnya. Yang pasti, film itu diedarkan sebelumnya dileburnya RIS menjadi negara kesatuan pada 17 Agustus 1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bahasa yang dipergunakan memakai ejaan yang belum disempurnakan. Kata-katanya arkaik meski dari segi konten, kalimat yang dipakai sama dengan iklan sekarang, penuh rayuan meski tidak terlalu gombal seperti iklan-iklan calon presiden kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu (21/6) kemarin, poster itu bersama iklan-iklan kuno dan benda antik lain dipamerkan Pietjie dalam rangka Batavia Art Festival di Taman Fatahillah, Kota, Jakarta Barat. Selain poster dan iklan zaman dulu, ada kopor besi, tanjidor, telepon kuno, dan puluhan bungkus rokok yang sebagian besar sudah almarhum. Ada bungkus rokok Saritoga, Sukun, Grendel Utama, dan Gudang Garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pietjie, benda-benda kuno itu didapatnya dari luar daerah. Sedangkan poster-poster itu diambilnya dari media terbitan dulu seperti Star Weekly dan Panca Warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih ada stand lain yang juga ikut memajang iklan-iklan zaman dulu, cuma yang membedakan adalah Pietjie hanya mengoleksi iklan-iklan dari Indonesia, sementara yang lain juga dari luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah iklan lain adalah iklan Rinso produksi tahun 1930-an. Sayang sekali Pietjie lupa dari media mana ia memfotokopinya. Ada juga iklan bir Javabier produksi 1950-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang designer interior, iklan-iklan zaman dulu itu diproduksi ulang oleh lelaki berusia 55 tahun ini untuk keperluan kliennya. Kebanyakan iklan-iklan lama itu dipesan oleh kafe dan restoran kelas menengah. Namun kini dengan kondisi ekonomi yang sulit, iklan-iklan itu hanya jadi barang sekunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, iklan-iklan itu betapa pun kecilnya tetap punya nilai dokumentasi sosial. Ia tidak sekadar dokumentasi produk biasa, tapi juga sejarah itu sendiri. Apalagi belum banyak ssejarawan di negeri ini yang sudi melirik benda-benda remeh itu untuk merekonstruksi perjalanan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata Yasin, penjaga stand ini, "Benda-benda kuno ini juga catatan sejarah perjalanan bangsa. Karena ada kesan hal seperti itu dihilangkan. Kita bangkitkan lagi."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-68655388852941527?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/68655388852941527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=68655388852941527' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/68655388852941527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/68655388852941527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2010/04/lihat-sejarah-bangsa-lewat-iklan-masa.html' title='Lihat Sejarah Bangsa Lewat Iklan Masa Lalu'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-3323057146132845860</id><published>2010-03-30T07:54:00.001+07:00</published><updated>2010-04-02T16:22:39.414+07:00</updated><title type='text'>Politik Sastra Saut Situmorang: Wacana, Sikap dan Ideologi</title><content type='html'>Sebelum membahas buku Politik Sastra, saya merasa terganggu dengan kata pengantar Zen Hae untuk buku pemenang lomba kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 2007. "Di tengah iklim kesusastraan kita yang penuh gosip, hujatan, dan caci maki. Dibutuhkan ketabahan tersendiri bagi penulis kritik sastra untuk meloloskan diri dari hal itu," demikian Zen Hae. Meski cuma sebaris, kalimat Zen Hae itu penting diketahui publik sastra Indonesia, karena secara tidak langsung bersinggungan dengan konteks (buku) Saut Situmorang dan Zen Hae sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamak diketahui Zen Hae belakangan juga salah seorang dari penulis yang diserang Saut Situmorang karena "afiliasinya" dengan Goenawan Mohamad (atau kelompok TUK) dalam perspektif Perang Sastra boemipoetra vs Teater Utan Kayu (TUK) yang digelorakan Saut cs. Kata pengantar Zen Hae di atas juga penting diketahui publik karena suka atau tidak suka, pandangan tadi dapat dianggap mewakili "sikap resmi" pihak Dewan Kesenian Jakarta terkait kondisi riil sastra kontemporer kita, karena ia merupakan orang dalam, atau paling tidak sikap ia pribadi selaku Ketua Komite Sastra DKJ periode 2005-2008.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu timbul pertanyaan di benak kita, siapakah yang bergosip,  menghujat, dan mencaci maki itu seperti yang disinyalir oleh Zen Hae? Meski tidak menunjuk hidung, orang-orang yang mengikuti perkembangan sastra kita dalam lima tahun terakhir pasti paham siapa salah seorang tukang gosip yang dimaksud oleh cerpenis asal Betawi itu. Siapa lagi kalau bukan Saut sendiri, penyair yang dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi pusat kontroversi sastra kita, penyair yang dinilai hanya mencari-cari perhatian terkait kritik-kritiknya yang tiada henti terhadap kelompok TUK, penyair yang dinilai hanya bergosip dan mencacimaki dalam tulisan-tulisannya di internet maupun di  jurnal boemipoetra, media yang dikelolanya bersama kawan-kawannya sepaham seperti penyair buruh Wowok Hesti Prabowo dan istrinya Katrin Bandel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari pandangan "penuh gosip, hujatan, dan caci maki" inilah saya mencoba membaca buku ini. Betulkah Saut bergosip terkait kuatnya dominasi TUK dalam jagad sastra kontemporer kita? Gosip atau faktakah terkait tuduhan Saut, bahwa mengapa sejak Hasif Amini menjabat sebagai redaktur puisi koran Kompas Minggu, puisi-puisi kawan-kawannya seperti Goenawan Mohamad, Nirwan Dewanto dan Sitok Srengenge selalu muncul sehalaman penuh, sementara penyair lain puisinya diterbitkan beramai-ramai? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Saut cs dianggap hanya mencacimaki lewat jurnal boemipoetra, lalu apakah pernyataan Goenawan bahwa boemipoetra cuma coret-coretan di kakus itu bukan caci maki? Bagaimana pula dengan kebenaran kabar pencopotan Chavchay Syaifullah sebagai wartawan budaya Media Indonesia yang konon terjadi atas intervensi Goenawan Mohamad setelah laporannya mengenai Utan Kayu International Literary Biennale 2007 dianggap fitnah berat oleh TUK? Benar atau tidaknya kabar ini, yang pasti tidak bisa dipungkiri pencopotan Chavchay ada kaitannya dengan laporannya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka pertanyaan di atas penting saya kemukakan karena berkaitan erat dengan isu sentral yang ditawarkan Saut dalam buku ini yakni politik sastra, hal yang menurut Saut belum banyak disadari para pengarang di negeri ini. Untuk menjelaskan pandangannya ini, Saut menulis esei panjang Politik Kanonisasi Sastra. Ia memulai tulisannya dengan tinjauan historis kanonisasi sastra yang bermula dari tradisi agama Kristen hingga mengerucut pada kondisi kontemporer sastra kita yang kental dengan politik sastra TUK dan juga oleh Kompas Minggu (hal. 171-183). Politik sastra yang dinilai Saut telah menyeragamkan tema hingga style of writing, terutama pada puisi kontemporer Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Saut, politik sastra TUK terlalu kasat mata, terlalu vulgar, untuk tidak mungkin terlihat oleh orang-orang di luarnya. Misalnya kasus Chavchay Syaifullah tadi dan manipulasi komentar Pramoedya Ananta Toer untuk buku Saman karya Ayu Utami, hingga "dongeng Der Spiegel bahwa TUK merupakan sebuah gerakan politik kiri". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak topik yang dibahas Saut, mulai politik sayembara sastra, masalah cerpen koran Indonesia, puisi cyber sampai soal feminisme, manifesto boemipoetra, sebuah wawancara serta alasan Saut menolak anugerah Khatulistiwa Literary Award. Tulisan-tulisannya penuh polemik dan terkadang provokatif. Dalam tulisan-tulisannya, secara terang-terangan ia menyangsikan pengetahuan orang yang diserangnya. Menulis dengan kesangsian seperti ini barangkali akan membuat orang yang diserangnya malu hati. Paling tidak itulah yang saya rasakan sebagai pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang paling banyak menyita perhatian Saut adalah masalah kritik sastra di Indonesia. Minimnya pemahaman akan teori sastra disinyalir Saut telah menyebabkan merebaknya "anarkisme interpretasi dan evaluasi" dalam dunia kangouw sastra Indonesia (istilah kangouw adalah istilah Saut sendiri). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saut lalu merujuk tulisan-tulisan akhir tahun Nirwan Dewanto di majalah Tempo sebagai contoh populer tulisan "kritik sastra" yang dikecamnya tersebut, sebuah tulisan yang tergantung kata hati penulisnya saja tanpa adanya metode yang jelas. Dalam tulisan Nirwan berjudul Kilas Balik 2002, Saut mengkritik betapa mudahnya Nirwan membuat kesimpulan-kesimpulan mentah yang final tentang karya produk non-TUK, tanpa sanggup membuktikannya lewat kritik "close reading", sementara hanya berbasa-basi puja-puji terhadap kawan-kawannya di TUK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengkritik gampangnya para pelaku sastra kita menyebut diri sebagai kritikus sastra tanpa adanya pertanggungjawaban ilmiah. Tiap orang yang menulis atau berkomentar tentang sastra secara serampangan disebut atau menyebut diri sebagai kritikus sastra.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat buku ini Saut mencoba mengajak pembaca untuk menyadari betapa parahnya kondisi sastra kita tanpa adanya kritik sastra yang baik dan bermutu. Sebab kritik sastra diibaratkan Saut semacam pasangan hidup bagi karya seni sastra supaya yang terakhir ini tidak hidup kesepian, halusinasif, dan kering meranggas (hal. 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tidak sekadar menerangjelaskan mengapa Saut memusuhi TUK, tapi sekaligus juga menjelaskan pandangan dan ideologi sang penyair (dan boemipoetra) dalam berkesenian. Esei-esei Saut ini juga tercatat sebagai dokumentasi pertama terkait wacana sastra Saut (dan boemipoetra) dalam perseteruannya dengan kelompok TUK, yang selama ini lebih banyak berserakan di berbagai milis dan forum dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : Politik Sastra&lt;br /&gt;Penulis    : Saut Situmorang&lt;br /&gt;Tebal buku : 204 halaman&lt;br /&gt;Ukuran     : 15,5 x 230 cm&lt;br /&gt;Penerbit   : [SIC] Yogyakarta 2009&lt;br /&gt;Harga      : Rp 35.000&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-3323057146132845860?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/3323057146132845860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=3323057146132845860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3323057146132845860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3323057146132845860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2010/03/politik-sastra-saut-situmorang-wacana.html' title='Politik Sastra Saut Situmorang: Wacana, Sikap dan Ideologi'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-4426687298772294297</id><published>2010-02-26T13:49:00.000+07:00</published><updated>2010-02-26T13:50:49.364+07:00</updated><title type='text'>Kegundahan Sastra Saut Situmorang</title><content type='html'>Jakarta - Saut Situmorang, nama penyair ini, dalam beberapa tahun belakangan mencuat namanya dalam panggung sastra negeri ini. Lewat kritik-kritiknya yang tajam dan keras, ia menyerang Goenawan Mohamad dan kawan-kawan atas apa yang disebutnya sebagai politik sastra Teater Utan Kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan penyair Wowok Hesti Prabowo, sastrawan yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 29 Juni 1966, ini lalu menerbitkan jurnal Boemipoetra, sebuah jurnal yang terbit dwibulanan, wadah tempat mereka untuk menulis dan mengekspresikan tulisan untuk "menyerang" politik sastra Goenawan cs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait banyaknya reaksi yang kaget ketika membaca Boemipoetra, Saut menilainya hal itu wajar-wajar saja. Menurut pria berambut gimbal ini, selama pemerintahan Orde Baru, seniman kita memang tidak terbiasa berpolitik dalam kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dan bagaimana Boemipoetra? Bagaimana tanggapan Saut terhadap pernyataan Goenawan yang beberapa waktu sebelumnya menyebut Boemipoetra tak lebih dari coret-coretan di toilet? Berikut petikan perbincangan WartaOne.com dengan Saut di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (9/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WartaOne (WO): Salah satu pemicu berdirinya Boemipoetra adalah karena sakit hati penyair Wowok Hesti Prabowo yang gagal masuk dalam pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada 2006?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saut Situmorang (SS): Seandainya pun itu benar, tak apa-apa toh. Karena kita tahu Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian terbentuk, itu kan Dewan Kesenian Goenawan Mohammad. Mulai dari ketuanya yang namanya Marco K itu (Marco Kusumawijaya), sampai ke dalam bidang-bidang dalam Dewan Kesenian Jakarta. Misalnya sastra, di situ ada Ayu Utami, Nukila Amal, dan di situ juga ada yang kusebut antek-antek Goenawan Mohamad atau TUK, Zen Hae. Dan (kelompok Goenawan) itu juga ada di teater dan film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian terbentuk itu, semua orang bisa melihat bahwa jelas sekali itu Dewan Kesenian Jakarta versi Teater Utan Kayu. Kita tahu permainan Goenawan Mohamad di Akademi Jakarta mempengaruhi anggota-anggota lain supaya mereka itu terpilih. Dan bukan hanya Wowok saja itu yang ketendang keluar dari pemilihan itu, ada juga Ahmadun Y. Herfanda, dan juga Radhar Panca Dahana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau misalnya itu dibuat semacam ejekan bahwa Wowok akhirnya memulai jurnal Boemipoetra karena sakit hati itu, ya ndak apa-apa. Itu wajar saja, sebab itu sebuah perlawanan terhadap manipulasi yang terjadi pada pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada periode tersebut. Sebuah perlawanan yang konkret karena melahirkan jurnal Boemipoetra, yang kau tahu efeknya ya, sekarang Boemipoetra sudah terbit sekitar dua tahunlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Boemipoetra mencoba menandingi wacana kebudayaan Goenawan Mohamad cs. Goenawan cs menurut saya menguasai wacana kebudayaan Indonesia, misalnya sastra, teater dan agama. Boemipoetra apa yang ditawarkan untuk menandingi mereka? Saya kok melihat Boemipoetra tidak menawarkan apa-apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Aku sangat tidak setuju dengan pendapat itu bahwa kami tidak menawarkan apa-apa. Sekarang kita bicarakan apa yang kau bilang dominasi wacana kebudayaan Goenawan. Itu buktinya mana? Kalau Goenawan menguasai wacana teater, maksudnya apa? Kalau hanya sekadar mengerti teater, semua orang mengerti teater, mengerti sastra, semua orang mengerti sastra. Tapi kalau kau bilang menguasai wacana, maksudnya apa pernah dia menulis kritik sastra dan teater? Tidak pernah. Banyak orang seperti kau mengenal Goenawan Mohamad karena ia itu menjadi mitos dari catatan pinggirnya di Tempo. Mayoritas hanya mengenalnya dari catatan pinggirnya tadi. Sebagian besar mereka juga adalam pembaca Tempo, majalah kelas menengah ke atas. Bahasa catatan pinggir itu bahasa kelas menengah. Kalau kau benar-benar mau membahas catatan pinggir, itu enggak ada yang dibicarakan oleh Goenawan. Dia itu cuma bermain-main dalam retorika yang berbudi indah. Silahkan kau baca, tidak ada yang dibicarakan. Ia mengelak membicarakan isu yang merupakan judul dari setiap catatan pinggirnya. Ia bermain-main dalam retorika bahasa yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau kau bilang Goenawan Mohamad itu menguasai macam-macam itu, begini aja, silahkan saja Goenawan Mohamad itu diskusi dengan Saut Situmorang dari Boemipoetra, topik apa aja, untuk membuktikan (pernyataan) itu. Karena justru mitos besar yang kosong inilah salah satu tujuan (berdirinya) Boemipoetra. Jadi pembaca itu disadarkan. Sebab kalau kalian baca tulisan, apalagi tulisan seperti Goenawan Mohamad, kalian tidak bisa membaca seperti membaca berita di koran. Karena kita berbicara soal politik retorika. Kebanyakan pembaca kita bacaannya paling-paling majalah Tempo, atau Kompas. Itu tidak cukup. Kalau Anda mau bergerak di dunia baca-membaca, apalagi seperti Goenawan yang dengan sadar mempermainkan retorika, enggak cukup. Bacaan harus lebih canggih lagi man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Wacana agama, misalnya, kelompok Teater Utan Kayu memiliki Ulil Abshar-Abdalla cs dengan JIL-nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Kau salah. Kalau kau melihat komposisi redaksi Boemipoetra, itu macam-macam. Wowok itu orang buruh, saya Marxist, Kusprihyanto Namma itu Islam. Anda boleh ngomong macam-macam tentang Islam dengan Kusprihyanto. JIL itu apa? JIL itu labelnya aja yang Islam. Kalau kau mengerti apa yang disebut dengan Islam liberal, kau akan kaget bahwa itu adalah sebuah proyek besar disebut orientalisme, terutama oleh Amerika Serikat untuk mengacaukan Islam. Tokoh-tokohnya seperti Bernard Lewis dan lain-lain, orang yang mengaku Islam tapi menghina Islam. Jadi kalau berbicara JIL, Anda tak bisa melihat apa yang mereka omongkan. Anda harus tahu mereka berasal dari mana. Nah bacalah (buku) Edwar W. Said (Orientalisme), Anda akan tahu apa itu Islam liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Bukankah gejala kelompok seperti ini bukan gejala baru dalam sastra Indonesia. Di luar juga seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Ya, makanya. Itulah harus ada counter. Jadi kenapa ada Boemipoetra, seolah-olah dianggap anomali, aneh. Karena orang kita itu selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru, selama itu berkuasa Horison-Manikebu. Orang Indonesia itu sudah terlalu biasa untuk tidak berpolitik dalam kesenian. Jadi kalau melihat munculnya fenomena Boemipoetra yang menentang Goenawan Mohamad dengan Teater Utan Kayunya dalam perspektif sastra secara luas, bukan hanya karya ya, baik politik karya, politik kanonisasi sastra, informasi tentang sastra di dalam maupun luar negeri, orang pada kaget karena belum pernah terjadi sebelumnya (dalam sejarah sastra Indonesia). Banyak sekali polemik-polemik STA (Sutan Takdir Alisyahbana) dengan lawan-lawannya termasuk yang terakhir itu perdebatan sastra kontekstual, itu hanya membicarakan karya. Belum membicarakan sebuah isu. Sosiologi sastra, politik sastra, bukan semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini sesuatu hal yang baru yang dibawa oleh jurnal Boemipoetra. Kalau Anda ingin tahu tentang perspektif yang lebih luas tentang perlawanan Boemipoetra terhadap Goenawan Mohamad dan TUKnya, saya baru menerbitkan kumpulan esei saya judulnya Politik Sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku itu, jelas sekali yang kami tawarkan, sesuatu yang selama ini dikoar-koarkan oleh GM yaitu pluralisme. Baik pluralisme dalam berpikir, pluralisme dalam berkarya. Mereka kan tidak. Lihat saja seleksi pengarang. Yang mereka undang, yang sama gaya menulisnya dengan mereka. Pernahkah mereka mengundang dalam acara bienale sastra itu pengarang Islam seperti Helvy Tiana Rosa? Atau pengarang yang mewakili suara buruh. Banyak sekali kan. Tidak hanya Wowok. Pernah gak? Kan enggak. Tapi yang diundang hanya pengarang-pengarang yang mengangkat cerita seks, sesuatu yang abstrak yang tidak ada dalam persoalan kehidupan sehari-hari. Berarti mereka itu menyeragamkan topik, menyeragamkan style of writing. Di sisi lain mereka berkoar-koar soal pluralisme dan macam-macam. Mereka tidak plural sama sekali. Mereka antipluralisme. Seperti Jaringan Islam Liberal. Kenapa rupanya kalau ada FPI (Front Pembela Islam), dan kelompok fundamentalis? Anda kan plural, Anda kan liberal, liberal itu kan plural. Siapa aja silahkan, atheis juga silahkan. Tapi kan tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Jadi yang diomongkan tak sesuai dengan perbuatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Terbukti kan? Anda yang berseberangan ide, ideologi, style dengan mereka, dikucilkan. Buktinya Boemipoetra tidak setuju dengan mereka. Harus terima dong, kan mereka plural. Kalau mereka hanya menerima orang yang setuju dengan mereka, itu bukan plural. Itu seragam. Itu fasis namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Yang menonjol dari jurnal Boemipoetra adalah bencinya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Ya, kita harus benci waktu kita melawan sesuatu, bukan sayang, karena kalau sayang itu kan munafik. Kita benci dengan segala sesuatu yang mereka presentasikan. Seperti yang saya bilang tadi. Di Islam itu ada JIL, di sastra itu ada TUK, di dunia kesenian mereka itu ada Salihara. Ya, kita benci itu karena (mereka) tidak konsisten. Itulah politik kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pretensi orang selama ini bahaslah karya. Coba kita lihat. Selama ada sastra Indonesia, tidak ada kritik sastra. Coba sekarang bahas karya, GM tidak mampu. Apalagi Sitok (Srengenge), Nirwan Dewanto, tidak mampu apa-apa itu. Jadi mereka itu berpolitik sastra. Semuanya itu berpolitik sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Saya pernah mewawancarai Sapardi Djoko Damono terkait tidak adanya kritik sastra seperti yang dikeluhkan oleh Bang Saut. Menurut Sapardi, hal itu tidak benar. Banyak kritik sastra diproduksi dalam bentuk tesis dan disertasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Itu tugas kuliah, bukan kritik sastra. Hahaha... Kalau benar kritik sastra, mereka kritikus dong yang menulisnya. Tapi gak kan? Itu tugas supaya dapat gelar sarjana. Beda. Kritik sastra itu sebuah profesi, seperti kau wartawan, tukang becak dan tukang bajaj. Kalau profesi itu ada karir, mulai dari bawah. Kritik sastra itu karir. Dan Sapardi juga bukan kritikus sastra. Dia gak ngerti apa-apa. Sapardi gak bisa bahas karya, baca aja semua kumpulan tulisan dia. Gak ada. (Tulisan) dia itu seperti opini Kompas aja. Opini itu lain, itu bukan kritik. Kritik itu kau menganalisis sesuatu, kau punya sebuah hipotesis, lalu kau buktikan. Kau bahas. Tidak bisa sekadar, oh temanya begini, tokohnya begini, dan mereka berantem. Itu namanya menceritakan kembali. Mengkritik bukan menceritakan kembali, tapi menganalisis cerita yang kau ceritakan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Jadi problemnya sumber daya manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Sumber daya manusia kita sangat parah. terutama di dunia seni. tidak ada kritikus seni, baik teater, sastra. Tidak ada itu. tapi memang ini berangkat dari pendidikan yang anjlok itu. Kau lihat misalnya. Berani tidak mahasiswa mendebat dosennya di kelas? Pasti habis dia. Ini persoalannya di sini, kita memang diadakan untuk tidak kritis, kalau sistem pendidikan seperti ini di mana debat antara mahasiswa dan dosen, murid dan gurunya tidak diperbolehkan sama sekali, bagaimana akan ada kritik seni atau kritik kebudayaan? Itu awalnya, pendidikan kita diciptakan oleh Soeharto seperti itu untuk menurut. Siswa kerjanya sekolah, sks, lulus, mudah-mudahan dapat kerjaan, kemudian kawin mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Saya sepakat dengan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Ya, gak akan mungkin ada satu elemen dari kebudayaan yang anjlok aja. Ini semua, struktural. Jadi kalau misal ada kerusakan ekonomi, di dunia politik partai, gak ada di situ aja. Itu gak akan terjadi kalau gak didukung oleh unsur-unsur lain, dalam berpikir, dalam cara orang beragama, bersekolah. Itu mendukung sistem ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: GM menganggap Boemipoetra cuma coret-coretan di toilet? Tanggapan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Sama aja. Kami mengggap semua tulisannya juga cuma coret-coretan toilet di terminal bis umum. Gak apa-apa. Tapi persoalannya ketika dia ngomong begitu, apa pernah dia buktikan? Apa pernah dia kasih alasan? Kan gak pernah kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Anda pernah menyamakan jurnal Boemipoetra dengan manifesto kaum Dada dan Surealisme Prancis? Apa itu tidak berlebihan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Lho, sekarang Anda sudah pernah baca manifesto kaum Dada dan Surealisme tersebut? Belum. Kalau belum, sulit saya menjelaskannya. Coba Anda baca manifesto mereka, seperti apa bahasa mereka? Itu majalah kecil juga, mereka juga menyebutnya jurnal. Nanti kalau saya jelaskan, Anda anggap pembelaan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WO: Jadi konkretnya seperti apa agenda kebudayaan jurnal Boemipoetra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS: Pertama pluralisme. Selama ini Utan Kayu mengklaim dirinya pluralis. Nah, kami itu mengkritik itu. Mereka itu sebenarnya antipluralis. Kedua, kita antiideologi Goenawan cs bahwa seks adalah satu-satunya standar estetika kesenian Indonesia. Orang kan bisa menulis tentang Islam, makanan, kan gak apa-apa dong. Mengapa harus seks yang dianggap paling hot? Semua oke, persoalannya bagaimana kau menuliskannya. Dan ketiga, kita antifunding asing. Kalau mereka sudah masuk, kacau dunia kesenian. Contohnya ya Teater Utan Kayu itu. (mak/mak)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-4426687298772294297?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/4426687298772294297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=4426687298772294297' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4426687298772294297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4426687298772294297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2010/02/kegundahan-sastra-saut-situmorang.html' title='Kegundahan Sastra Saut Situmorang'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-7022223202825747365</id><published>2009-04-01T11:58:00.006+07:00</published><updated>2009-04-01T12:05:02.215+07:00</updated><title type='text'>Koto Gadang, Fenomena Sosio-Kultural Nagari Abad 19 dan 20</title><content type='html'>DALAM SEJARAH Indonesia modern, belum pernah ada sebuah kampung yang begitu fenomenal dan menimbulkan cemburu seperti Kota Gadang. Sebuah nagari yang dipandang elite serta melahirkan begitu banyak kaum terdidik dan intelektual terkemuka, mulai dari jaksa, dokter, ulama, wartawan hingga tokoh pergerakan sampai sastrawan. Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, Syekh Ahmad Khatib, Abdul Muis, Rohana Kudus, Emil Salim, dan Taufiq Ismail, untuk menyebut beberapa saja, mereka semuanya adalah produk asli Koto Gadang. Sejumlah pihak yang iri sempat menuding pemerintah Belanda menganakemaskan orang Koto Gadang karena banyak pegawai pemerintah kolonial berasal dari kampung kecil di seberang Ngarai Sianok, Bukittinggi ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melalui buku Koto Gadang Masa Kolonial (diterbitkan LKiS tahun 2007)  sedikit banyak kita mendapat jawaban mengapa nagari ini begitu istimewa dibanding nagari lain di Minangkabau. Kita pun diajak melihat lebih dekat perubahan yang terjadi di Koto Gadang, tokoh-tokohnya yang progresif, dan adat istiadatnya yang kukuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejarah Intelektual Koto Gadang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hubungan historis orang Koto Gadang dengan pihak penjajah setua usia kolonial Belanda. Sedari awal nenek moyang orang Koto Gadang sudah menyadari bahwa Belanda memiliki keunggulan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga amatlah sulit ditandingi. Adalah Abdul Gani Rajo Mangkuto (1817(?)-1907) yang pertama kali menyadari hal ini. Abdul Gani yang begitu terpesona bertekad menyerap ilmu pengetahuan pihak kolonial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia belajar membaca dan menulis. Ia lalu diangkat menjadi juru tulis pada perusahaan kopi Belanda. Semangatnya yang begitu ingin maju mengantarnya menjadi pengusaha sukses. Abdul Gani kemudian menjelma sebagai orang terkaya di Minangkabau di zamannya. Seiring kesuksesannya, banyak tercipta peluang lapangan kerja. Abdul Gani membutuhkan orang terpelajar, minimal menguasai bahasa Belanda secukupnya. Banyak anak kemenakan Pak Haji ini yang notabene satu kampung itu masuk sekolah berbahasa Belanda (hal. 145).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perhatian terhadap pendidikan bahasa Belanda ini begitu fenomenal. Orang-orang Koto Gadang berduyun-duyun belajar baca dan tulis. Tidak berlebihan bila dikatakan tidak ada desa di Indonesia, mungkin juga dunia yang mampu menandingi Koto Gadang dalam perhatian terhadap pendidikan ini. Ketika itu hampir setiap orang Koto Gadang mampu berbahasa Belanda. Tiap rumah memiliki sarjana dari berbagai disipilin ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu tidak bisa tidak pendidikan bahasa Belandalah agaknya kunci untuk memahami kemajuan orang Koto Gadang dibanding nagari-nagari lain di sekitarnya. Di sinilah letak kekhasan orang Koto Gadang. Seperti dikatakan sosiolog Mochtar Naim dalam pengantarnya di buku ini, bila orang-orang serta nagari-nagari lain di Minangkabau menentang penjajahan dengan cara menjauhi dan menentangnya, lalu mencari kekuatan pada sekolah-sekolah agama, maka orang Koto Gadang melawan Belanda dengan menggunakan senjata yang sama dipakai oleh penjajah, yaitu sekolah dan bahasa Belanda, serta bekerja sama dengan Belanda.  Bekerja sama ini tentunya bukanlah dalam artian politik untuk memperpanjang kolonialisme, melainkan memperpendeknya dengan menggunakan jalur pendidikan dan perubahan cara berpikir (hal. x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran bila melihat bagaimana mereka begitu royal mengeluarkan uangnya asal anak dan kemenakannya bisa maju. Sebuah contoh kecil, pada 1912 orang Koto Gadang dengan dana kekuatan sendiri telah mampu mendirikan sekolah berbahasa Belanda di kampung mereka, atau dua tahun sebelum pemerintah Hindia Belanda mendirikan HIS di Bukittinggi. Upaya yang sebanding kalau melihat data berikut ini. Tahun 1924 saja, misalnya, dari sekitar  3 ribuan jumlah penduduk Koto Gadang, sekitar 500 orang memegang jabatan penting dan bekerja di berbagai kota di Hindia Belanda. Sebuah fenomena sosio-kultural abad 19 dan 20, yang menarik untuk disimak dan dipelajari para pecinta sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                       &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Plakat Pendek&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sejatinya buku ini bukanlah buku sejarah. Menyitir penulisnya, buku ini sebetulnya hanyalah sekadar suntingan “paco-paco” cerita dari masa silam, yang disadur sana-sini, dibumbui ala kadarnya. Meski begitu, lewat buku ini kita mengetahui adanya kesepakatan politik rahasia antara orang Koto Gadang dan pihak kolonial yang memungkinkan mereka mengambil keuntungan baik secara politik dan ekonomi. Kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian Plakat Pendek itu ditandatangani tanggal 25 Januari 1841. Belanda diwakili oleh Steinmetz, Asisten Residen Padang Darat. Sedangkan dari pihak Koto Gadang, tidak disebutkan dalam buku ini siapa yang menandatanganinya (hal 134).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sayang sekali perjanjian ini dan latar belakang peristiwa yang mendorongnya tidak banyak disinggung dalam buku ini. Hanya disinggung sekilas dalam beberapa paragraf bahwa perjanjian ini buah pengorbanan orang Koto Gadang dalam membantu Belanda menghadapi pemberontakan Batipuah. Padahal poin ini penting bagi kita karena bisa menjadi titik masuk bagi kita untuk memahami posisi politis yang diambil orang Koto Gadang selama Perang Padri. Atau kalau ini terlalu berlebihan, sekurang-kurangnya untuk kebenaran sejarah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tidak begitu jelas oleh kita kemudian siapa memanfaatkan siapa sebenarnya dalam perjanjian ini. Yang terang, perjanjian tersebut berisi kesepakatan kedua pihak untuk saling membantu jika salah satu diserang pemberontak dan jaminan bagi orang Koto Gadang untuk mendapatkan pekerjaan di pemerintahan (hal. 134). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bandingkan perjanjian tersebut dengan Plakat Panjang yang dimaklumkan Belanda delapan tahun sebelumnya, yang berisi jaminan pembebasan belasting untuk seluruh rakyat Minangkabau. Dipandang dari isi perjanjian Plakat Pendek, maka secara politis sungguh istimewa kedudukan orang Koto Gadang di mata kolonial!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kasus Lompat Pagar Daina&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Walau Koto Gadang merupakan wilayah pertama di Nusantara yang membuka pintu lebar-lebar terhadap pengaruh Barat melalui sekolah berbahasa Belanda. Ternyata nagari ini dalam waktu bersamaan tetap kukuh mempertahankan adat istiadatnya terutama adat perkawinannya yang melarang anak kemenakannya untuk menikah dengan orang di luar Koto Gadang. Hal ini tercermin dari “kasus lompat pagar” yang menimpa Daina, yang nekat kawin dengan Pono, teman sekerjanya di kantor pos di Medan (hal. 27). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sama-sama beragama Islam, Pono adalah laki-laki Jawa. Atas tindakan nekatnya itu, Daina kemudian dihukum buang tingkarang, dibuang secara adat, sebuah istilah yang orang Minang sendiri tidak banyak mengetahuinya. Reaksi terhadap hukuman ini tidak hanya menimbulkan kehebohan di kalangan orang Koto Gadang, tapi juga orang luar. Tak kurang dari Mohammad Hatta memberi perhatian terhadap kasus Daina. &lt;br /&gt;Seiring perubahan zaman, pernikahan sesama orang Koto Gadang itu makin tidak populer. Makin banyak anak kemenakan orang Koto Gadang yang kawin dengan orang luar. Hal ini di antaranya dipraktikkan oleh Haji Agus Salim yang menikahkan adik perempuannya dengan orang di luar nagari lain meski ayahnya menentangnya. Bahkan Haji Agus Salimlah yang bertindak sebagai penghulu dalam pernikahan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membaca buku ini, sebagai pembaca saya pun bertanya-tanya dalam hati, seperti apa realitas terkini Koto Gadang? Masihkah pendidikan menjadi concern utama mereka kini? Kalau benar begitu, mengapa kini tidak lagi lahir figur-figur seperti Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir? Benarkah orang Koto Gadang dan orang Minang umumnya mengalami kemerosotan budaya di berbagai bidang seperti yang banyak dikeluhkan pemerhati budaya Minang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tidak menyediakan jawabannya. Tentulah sangatlah tidak adil bila membebankan seluruh tanggung jawab intelektual tadi ke pundak orang Koto Gadang sendiri. Terhadap miskinnya kelahiran tokoh-tokoh besar seperti Haji Agus Salim, Sutan Syahrir, Bung Hatta, dan Tan Malaka  di Sumbar kini, apologi yang bisa diberikan adalah orang-orang tadi merupakan figur-figur raksasa yang tidak hanya disegani di pentas nasional, tapi juga internasional. Orang-orang seperti ini adalah makhluk langka yang tidak dilahirkan setiap saat. Mereka hanya lahir satu dalam seratus tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Buku&lt;br /&gt;Judul buku : Koto Gadang Masa Kolonial&lt;br /&gt;Penulis  : Azizah Etek, Mursjid A.M., Arfan B.R.&lt;br /&gt;Tebal buku : xxi + 326 halaman&lt;br /&gt;Penerbit : LKiS Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan 1 : November 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-7022223202825747365?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/7022223202825747365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=7022223202825747365' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7022223202825747365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7022223202825747365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2009/04/koto-gadang-fenomena-sosio-kultural.html' title='Koto Gadang, Fenomena Sosio-Kultural Nagari Abad 19 dan 20'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-3079240676492161631</id><published>2009-03-30T08:26:00.001+07:00</published><updated>2009-03-30T08:28:56.567+07:00</updated><title type='text'>Surat-surat Personal Beckett Dibukukan</title><content type='html'>Kumpulan surat pribadi Samuel Beckett yang ditujukan ke sejumlah teman dekatnya diterbitkan belum lama ini. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari surat-surat ini. Sastrawan yang kondang sebagai penulis naskah drama, novelis, dan penyair hebat ini menulis surat tak kurang dari 15 ribu buah. Rencananya buku The Letters of Samuel Bekett ini akan terbit dalam 4 jilid. Sejumlah suratnya bernada keluhan seperti surat Kafka!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penyusunan buku ini, editor mentranskrip lebih dari 15 ribu surat, yang ditulis Beckett dalam rentang waktu 60 tahun. Beckett mulai menulis suratnya saat masih berusia 23 tahun, tepatnya tahun 1929, hingga kematian menjemputnya pada 1989. Tidak semua surat itu dipublikasikan karena penulis Irlandia ini hanya menyetujui surat-surat yang diterbitkan ada hubungannya dengan hasil karyanya. Rencananya sekitar 2.500 surat dipublikasikan secara utuh, ditambah dengan kutipan dari 5 ribu surat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1929 Beckett muda menghabiskan sebagian besar waktunya di Italia dan Jerman, di mana terdapat banyak saudaranya tinggal di sana. Setelah menamatkan pendidikan sastra Prancis dan Italia di Trinity College Dublin, ia menjadi dosen selama dua tahun dalam program pertukaran di Ecole Normale Superieure menggantikan peran McGreevy, sesama Irlandia yang lebih tua umurnya dibanding Beckett. McGreevy yang waktu itu masih tinggal di Paris kemudian mengenalkannya ke sejumlah sastrawan, termasuk James Joyce dan Richard Aldington. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekade itu tahun yang menggelisahkan bagi Beckett. Dia kembali ke Dublin, mengajar di Trinity lalu melepaskan jabatannya itu; menulis buku kecil tentang Proust, menulis banyak puisi hebat, sebagian dipublikasikan, sejumlah ceritanya, termasuk karya agungnya “Dante dan the Lobster”, muncul dalam cerita di bawah judul More Pricks than Kicks, dan dua novelnya,  yang pertama Dream of Fair to Middling Women, gagal menemukan penerbit, dan novel yang kedua Murphy diterbitkan di penghujung dekade tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu mencoba menetap di London dan menjalani terapi psikoanalisis dengan Wilfred Bion; mengalami kematian ayah tercinta dan anjing kesayangannya, mencoba menjalani hidup lagi di Dublin lagi; bepergian ke Jerman selama enam bulan untuk mempelajari seni di museum-museum negara tersebut,  dan akhirnya pindah ke Paris, bertemu dengan pujaan hatinya Suzanne Descheveaux-Dumesnil dan tinggal bersamanya. Saat bersamaan, perang pun pecah. Dan di bulan Juni 1940, pasangan ini memutuskan hijrah ke selatan Prancis setelah tentara Nazi Jerman kian mendekati tempat tinggal mereka di Paris. &lt;br /&gt;Jika awal dekade ini, Beckett dikenal di lingkaran seniman Dublin sebagai seorang akademisi hebat yang amat menjanjikan dengan karir agung menunggu masa depannya, akhir dekade itu Beckett cuma dikenal sekelompok kecil intelektual Irlandia dan Prancis sebagai penulis bohemian dengan syair puisi yang sukar dimengerti dan hampir semua fiksinya juga begitu, seorang pemalu, seorang peminum berat dengan wawasan luar biasa, seorang yang liar dengan frasa jenaka. Apakah kekejaman perang telah menelan jiwanya seperti yang dialami banyak penulis zaman itu?       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kurang dari novelis Gabriel Josipovici memuji surat-surat Beckett ini yang dinilainya begitu berharga.  Josipovici memandang kumpulan surat Beckett ini sama bernilainya dengan surat-surat peninggalan Keats, van Gogh, Kafka dan Wallace Stevens. Sudah pasti sejumlah surat Beckett juga telah pernah disiarkan sebelumnya, seperti suratnya kepada Tom McGreevy yang dikutip oleh Deirdre Bair dalam bukunya yang dipublikasikan tahun 1978. Meski begitu, tetap saja membaca kumpulan surat ini berbeda dengan membacanya sebagai sisipan biografi dramawan mansyur ini.  Josipovici menulis kumpulan surat ini begitu dinamis karena tiap waktu kita merasakan hidup dengan penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amatlah menarik melihat gaya bahasa Beckett menulis surat-suratnya. Bahasanya sopan dan terjaga. Dalam puncak ketenarannya pun, ia tetap berusaha menjawab ratusan surat yang datang padanya secara sopan. Pagi hari ia menyibukkan diri dengan menjawab surat-surat yang masuk. Siangnya ia membaktikan diri sepenuhnya untuk menulis karyanya. Di era 1930-an itu, kita harus melihat surat-surat permulaan tersebut hanya satu dari sekian cara seorang penulis muda yang berusaha menemukan jatidirinya. Surat-surat itu seperti puisi dan cerita yang ditulisnya semasa awal karirnya menjadi penulis. Sebuah percobaan, sebuah suara, sebuah nada, dan bahkan merupakan eksperimen sebuah bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak surat-surat yang ditulisnya kepada penerbit dan agennya. Penerbit Amerika dikabarkan tertarik dengan novelnya Murphy, tapi si penerbit memintanya untuk memangkas cerita tadi. Reaksi Beckett terhadap permintaan tadi layaknya reaksi umum seorang penulis, bahwa ia telah memangkasnya dan tak ada lagi yang bisa dilakukannya.  Beberapa bulan kemudian, dia menulis ke agennya: “Apakah tidak ada kabar lanjutan tentang penerbitan novel Quigley, maksud saya novel Murphy?... Terakhir kali yang saya ingat, kesiapan saya untuk memangkas cerita itu hingga ke judulnya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panas 1929, Beckett dari Kassel menulis surat pertamanya kepada McGreevy: My dear McGreevy, The abominable old bap Russell duly returned my MSS with an economic note in the 3rd person, the whole in a considerably understamped envelope. I feel slightly paralysed by the courtesy of this gesture. I would like to get rid of the damn thing anyhow, anywhere (with the notable exception of “transition”), but I have no acquaintance with the less squeamish literary garbage buckets. I can’t imagine Eliot touching it – certainly not the verse. Perhaps Seumas O’Sullivan’s rag would take it? If you think of an address I would be grateful to know it.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini mungkin mengingatkan pembaca akan dua penulis muda ambisius lainnya, yang menulis satu sama lain untuk saling memberi dukungan dalam karir penulisan masing-masing yakni Kingsley Amis dan Philip Larkin. Tapi setelah itu baris surat selanjutnya mengindikasikan personalitas otentik Beckettian. Usai mengutip dua baris kalimat Dante dalam bahasa Italia untuk menegaskan bahwa luka bakar akibat sinar matahari menyebabkan dirinya susah tidur, Beckett lalu mengomentari buku Proust yang tengah ia baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah membaca volume pertama “Du Côté de chez Swann”, dan menemukan keanehan yang amat sangat. Banyak hal yang tidak dapat dibandingkan - Bloch, Françoise, Tante Léonie, Legrandin, dan ada bagian cerita yang begitu dipilih untuk menyerang, artifisial, dan hampir tidak jujur…. Kecerewetan Dante tentu saja lebih menarik dan lebih pandai dibanding dengan karya Moore, tapi tidak kurang boros….  Kita tahu bahwa ia memang tengah menyusun sebuah buku kecil tentang Proust. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beckett banyak melahap buku. Ia membaca Descartes dan pengikutnya Geulincx (dalam bahasa Latin), Leibniz dan Spinoza, Kant (dalam bahasa Jerman) dan Schopenhauer (salah satu favorit terbesarnya), juga Ariosto, Tasso, Schiller, Goethe, Fielding, Jane Austen, George Eliot, dan banyak penulis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Januari 1934 dalam bahasa Perancis ia menyurati Morris Sinclair dan mengakui tidak punya waktu luang. Kepada McGreevy ia menceritakan ketakutan yang tidak masuk akal. “Saya terkadang takut bahwasanya penyakit untuk menulis itu telah sembuh”. &lt;br /&gt;Tentu saja rasa kompleks seperti ini mengingatkan kita kepada Kafka. Dan layaknya Kafka, Beckett selalu mengeluhkan kondisi tubuhnya, sepertinya kegagalan menulis punya dampak langsung terhadap: sakit giginya, lehernya, penyakit radang selaput dada, dan kakinya. Seperti Kafka, Beckett lumpuh dan bosan. Dan kalau Kafka menyalahkan kota Praha, Beckett menyalahkan kota Dublin. Kafka menemui Rudolf Steiner dan Martin Buber, tapi tidak menolongnya; Beckett menjalani psikoanalisa di London dengan Bion, tapi tidak merubah apa pun. Kafka berkunjung ke Italia, Jerman, dan Perancis dan bermimpi suatu hari dapat tinggal di Palestina, semua itu agar ia bisa lepas dari ayahnya. Sedangkan Beckett dengan meninggalnya sang ayah, ibunya membesarkannya jauh lebih posesif, dan pindah dari Dublin tentu saja berarti menjauh dari sang ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang sangat berminat dengan sastra, saya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, kapan ya kira-kira buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia? Mudah-mudahan ada penerbit bagus yang sudi mengalihbahasakan buku ini dengan bertanggung jawab dan tidak asal-asalan menerjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martha Dow Fehsenfeld and Lois More Overbeck, editors; George Craig and Dan Gunn, associate editors&lt;br /&gt;THE LETTERS OF SAMUEL BECKETT&lt;br /&gt;Volume One: 1929–1940&lt;br /&gt;782pp. Cambridge University Press. £30 (US $50).&lt;br /&gt;978 0 521 86793 1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-3079240676492161631?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/3079240676492161631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=3079240676492161631' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3079240676492161631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3079240676492161631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2009/03/surat-surat-personal-beckett-dibukukan.html' title='Surat-surat Personal Beckett Dibukukan'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-4940627038265933324</id><published>2009-03-10T13:30:00.005+07:00</published><updated>2009-03-14T14:52:38.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teater'/><title type='text'>Pementasan Waktu Itu</title><content type='html'>Memori itu terekam lagi dalam ingatan setelah saya menemukan berita di bawah ini. Enam tahun silam seusai lulus kuliah saya menyandang status baru: penganggur! Bersama teman-teman penganggur yang lain, kami kemudian menggelar pertunjukan teater di Bentara Budaya Kompas. Waktu itu saya bertindak sebagai asisten sutradara. Ah, saya tidak ingin berpanjang-panjang karena pertunjukan itu memang gagal secara artistik. Saya hanya ingin menampilkan berita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt; tentang rencana pertunjukan itu. Berikut saya tampilkan utuh berita tersebut tanpa mengalami penyensoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pementasan Naskah Jepang di Bentara Budaya Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Teater Muda akan mementaskan naskah terjemahan Jepang berjudul Kamar Rias: Yang Mengalir dan Pergi Akhirnya Menjadi Noltalgi, Rabu (16/4) pukul 20.00, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Namun, sutradara Jean Marais mengubah judul itu menjadi Setanggi dalam Salon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah karya Shimizu Kunio itu rupanya ingin mengungkapkan tentang pergulatan mentalitas manusia menghadapi absurditas waktu. "Sebuah masa lampau terefleksi di masa kini dan kemudian mengendap ke dalam tubuh manusia," ujar Marais, Senin (14/4), di sela-sela pembuatan panggung pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lampau dan masa kini, pada Shimizu, sama sekali tak berjarak. Pada ruangan, benda- benda, suara-suara, dan cahaya senantiasa meriwayatkan masa lampau. Seolah-olah waktu berhenti di sana. Sementara letak masa depan tak begitu jelas di masa kini. Ia hanya tercipta oleh sebuah ilusi yang bernama "harapan" dalam bentuk cita- cita dan impian. "Tetapi satu hal tentang masa depan yang pasti adalah kematian itu," ujar Marais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan tersebut seperti sebuah peristiwa teater yang diteaterkan; permainan naskah dalam naskah. Dua orang mantan juru bisik saling memamerkan karier masa lampaunya di alam baka. Sementara Kiiko, juga seorang juru bisik sebuah kelompok teater, terobsesi pada cita-cita dan impiannya untuk menjadi seorang aktor. Ambisi untuk meraih cita-cita itu tak pernah surut, sampai akhirnya ajal menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absurditas naskah ini begitu pekat, ketika nyala api ambisi Kiiko seolah ia tagih lewat apa yang bernama "harapan". Ia malahan menciptakan harapan-harapan baru di mata dua juru bisik lainnya.(CAN)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-4940627038265933324?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/4940627038265933324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=4940627038265933324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4940627038265933324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4940627038265933324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2009/03/pementasan-waktu-itu.html' title='Pementasan Waktu Itu'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-7976397252999086421</id><published>2009-02-19T13:16:00.001+07:00</published><updated>2009-03-18T11:06:02.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Anarkisme Bukanlah Demonstrasi Brutal</title><content type='html'>DEMONSTRASI BRUTAL yang merenggut nyawa Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz Angkat, Selasa (3/2) lalu mengejutkan kita semua. Media massa, baik cetak, elektronik maupun internet berlomba-lomba menyiarkan berita tersebut. Baik congor para pejabat maupun pengamat politik sama semua: mengecam peristiwa anarkisme tersebut dan menuntut adanya tindakan hukum terhadap orang-orang yang dianggap terlibat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan mempersoalkan hal ini. Unjuk rasa yang brutal seperti itu memang harus dikutuk sekeras-kerasnya dan pelakunya mesti diganjar hukuman setimpal sesuai derajat kesalahannya. Yang kita sesalkan, demonstrasi brutal tersebut seenaknya saja mereka samakan dengan aksi anarkisme. (Mereka di sini adalah para praktisi media, para pejabat publik hingga kalangan intelektual). Padahal, anarkisme sebagai paham politik sangat banyak memiliki bentuk dan karakateristiknya. Ia bukanlah suatu prinsip sederhana yang berhubungan dengan hal-hal destruktif, disorder dan chaostic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anarkisme mempunyai kaitan yang erat dengan ide sosialisme, baik dalam cita-cita politik maupun komitmennya terhadap kalangan tertindas. Tapi seiring berjalannya waktu, terutama setelah kemenangan Lenin dalam Revolusi Oktober 1917, yang membuktikan kesahihan sosialisme sebagai suatu praksis politik dibanding anarkisme. Paham anarkisme seakan tersapu ke keranjang sampah sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Pierre-Joseph Proudhon orang pertama yang menggunakan istilah anarkisme sebagai filsafat politik. Bersama dengan Mikhail Bakunin, Peter Kropotkin, Max Stirner dan Leo Tolstoy, mereka ini adalah nama-nama yang dikenal sebagai para pionir terkemuka yang mengenalkan anarkisme sebagai tradisi politik dan filsafat.&lt;br /&gt;Syahdan, dalam sidang internasionale pertama di Den Haag tahun 1872 terjadi perdebatan keras antara Bakunin dan “nabi komunis” Karl Marx. Perdebatan inilah yang memicu konflik yang begitu tajam antara kaum anarkis dan kalangan Marxis. Marx berkeyakinan saat Negara bertindak represif dan eksploitatif, itu cumalah refleksi dari eksploitasi ekonomi dan instrumen dari kelas berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini berlawanan dengan paham Bakunin dkk. Bagi kaum anarkis, Negara lebih dari sekadar sebuah ekspresi kekuatan kelas dan kekuatan ekonomi. Negara mempunya logika dominasi sendiri dan self-perpetuation. Maksudnya, penindasan politiklah yang menyebabkan penindasan ekonomi menjadi mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, penjelasan saya kok kayak kuliah filsafat yach? Hahaha! Tapi biarlah dibanding para pejabat yang sok tahu padahal asbun. Bagi saya ada dua hal yang ingin saya kemukakan dari tulisan ini. Pertama, kesalahkaprahan yang terjadi seringkali terus berulang di kemudian hari tanpa seorang pun mau peduli atau mau mengoreksi. Malu juga presiden kita ngomong tentang anarkisme, tapi substansi aslinya jauh panggang dari api! Kalau begitu, anggaplah tulisan saya ini sebagai koreksi dari penulis muda tidak berbakat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kelihatannya masalah ini sederhana ya. Tapi bagi saya pribadi persoalannya seringkali hal-hal yang sederhana tadi ternyata dalam prosesnya tanpa disadari secara tidak langsung berpengaruh dalam perjalanan kita ke depan. Kecil-kecil kalau terlalu permisif nanti jadi menggunung lho? Kalau dibiarin, lama-lama ngelunjak. Pantesan korupsi gede banget di Indonesia. Hehehe! Enggak nyambung ya? Sebodo! Emang gue pikirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 7 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-7976397252999086421?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/7976397252999086421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=7976397252999086421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7976397252999086421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7976397252999086421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2009/02/anarkisme-bukanlah-demonstrasi-brutal.html' title='Anarkisme Bukanlah Demonstrasi Brutal'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-7509965065066446815</id><published>2009-02-17T17:08:00.003+07:00</published><updated>2009-03-18T11:11:46.907+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Syahwat Kekuasaan yang Membutakan</title><content type='html'>TAHUN 2009 sudah berjalan hampir memasuki satu setengah bulan. Namun hingga kini tidak terlihat adanya kepekaan dalam manajemen pemerintahan kita menghadapi krisis global yang kini tinggal menunggu “boom” saja di negeri ini. Itulah yang hendak disampaikan oleh Faisal Basri dalam artikelnya hari ini di Harian Kompas (9/2). Entah sudah berapa kali pemerintah bolak-balik merevisi APBN. Agaknya pemerintah kita ini memang hobi mengutak-atik angka statistik sehingga melupakan substansi persoalan itu sendiri. Soalnya bagi SBY, itu semua menyangkut citra. Jadi rekayasa statistik pun sah-sah saja.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa memprediksi kalau misalnya pemerintah ini jujur terhadap konstituennya mengenai target dan asumsi pertumbuhan ekonomi, revisi APBN tidak akan terjadi berulang seperti sekarang ini. Kapan membangunnya kalau begitu Pak kalau revisi APBN terus? Masalahnya banyak angka-angka yang disodorkan pemerintah cuma pepesan kosong saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya jumlah pengangguran, angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi dan berbagai klaim omong kosong lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan. Makin lama seiring makin memburuknya ekonomi dunia, angka statistik yang aduhai itu, yang menjadi jualan SBY, betapa pun bagusnya dikemas makin lama makin kelihatan busuknya. Bisa-bisa dikatain muka badak, tak tahu diri, dan lain sebagainya bila asumsi APBN masih muluk-muluk  sementara PHK mengancam dan deflasi sudah dua bulan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjilnya, meski keadaan ekonomi sudah begitu mengkhawatirkan, pemerintah bersikap sekan-akan krisis tidak terjadi. Tentu tidak hanya SBY. Hampir semua pengurus partai politik juga bersikap sama. Tidak ada seorang pun yang mengingatkan kita bahwa krisis global sebenarnya sudah melanda kita. Saya kira kalau ada tokoh parpol yang berani mengatakan hal ini, katakanlah semacam wake up call, bahwa ekonomi sudah terpuruk dan kita harus bersiap untuk yang terburuk, setidaknya kita harus mengapresiasi. Inilah pil pahit yang akan kita hadapi usai pemilu nanti. Sayangnya syahwat kekuasaan sudah membutakan semua politisi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 9 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-7509965065066446815?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/7509965065066446815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=7509965065066446815' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7509965065066446815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7509965065066446815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2009/02/syahwat-kekuasaan-yang-membutakan.html' title='Syahwat Kekuasaan yang Membutakan'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-4774913177276895700</id><published>2009-02-17T17:06:00.002+07:00</published><updated>2009-03-18T11:14:57.527+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sepakbola'/><title type='text'>PSSI, Lelucon Apalagi Ini?</title><content type='html'>PERTAMA KALI mendengar informasi bahwa PSSI berniat mencalonkan diri sebagai tuan rumah untuk Piala Dunia 2018 atau 2022, terus terang saya langsung tidak dapat menahan tawa. Bukan saja karena usul itu sungguh lucu dan sangat mengada-ada, bahkan kenyataannya mengurus diri sendiri saja seperti yang dikatakan Tondo Widodo, PSSI bahkan tidak mampu. Apalagi mengurus suatu pesta sepakbola mondial yang bakal menguras kantong dan mengundang sorotan dari seluruh dunia. Belum lagi soal prestasi tim nasional yang mengalahkan Vietnam saja susahnya minta ampun. Bisa-bisa bertemu Argentina kita kebobolan 20 kali nich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lainnya, apa PSSI lupa hingga kini Ketua Umum Nurdin Halid tidak juga diakui oleh FIFA, organisasi penguasa sepakbola sejagad. Bayangkan saja Nurdin Halid, bekas tahanan koruptor, dengan tidak tahu malu dan jumawa masih memimpin sebuah organisasi olahraga yang mutlak mengedepankan sportivitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran kalau misalnya kompetisi sepakbola kita begitu amburadul dan penuh kericuhan. Wong pemimpin PSSI sendiri seorang bekas koruptor? Siapa sih yang respek dengan eks koruptor ini kecuali segelintir pengurus yang mati-matian mempertahankan Nurdin? Malu-maluin aja! Seperti tidak ada orang lain saja yang layak memimpin PSSI.&lt;br /&gt;Di luar soal centang-perenang itu, tidak bisa tidak, lamaran PSSI untuk menjadi tuan rumah pesta sepakbola sejagad itu tak bisa dilepaskan dari adanya unsur politis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar tidak punya integritas apalagi prestasi, Nurdin Halid didorong rasa putus asa dan modal nekad, kemudian berusaha memancing simpati jutaan penggemar bola di tanah air dengan pencalonan ini. Siapa tahu setelah pencalonan ini, angin pendulum bergerak ke pihaknya sehingga kepemimpinannya yang terus dipersoalkan bisa diredam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal nekad ini kelihatan sekali ketika PSSI resmi mengumumkan pencalonan dirinya. Bayangkan saja, untuk dana pencalonan diri saja PSSI belum tahu berapa anggaran yang dibutuhkan. Bandingkan dengan Inggris dan Australia yang telah mempersiapkan dana bidding yang kisarannya antara 15 juta sampai 20 juta pounds. Itu baru dana bidding. Belum dana untuk membangun 12 stadion minimal berkapasitas 40 ribu penonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah banyak tulisan yang membicarakan karut-marut PSSI ini. Mereka juga tidak pernah peduli  dengan kritikan apalagi himbauan publik. Pengurus PSSI sendiri sering bersikap masa bodoh seakan-akan merekalah yang punya sepakbola di negeri ini. Parahnya lagi, pengurus PSSI juga sering berlaku seperti keledai karena sering terantuk kasus yang sama. Berulang-ulang kerusuhan terjadi, berulang-ulang pemain dihukum. Dan hebatnya berulang-ulang pula yang terlibat hukumannnya dirabat. Jadi kalau misalnya PSSI hendak mencalonkan diri sebagai tuan rumah PD, saya juga berhak untuk tak peduli. Emang gue pikirin?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-4774913177276895700?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/4774913177276895700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=4774913177276895700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4774913177276895700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4774913177276895700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2009/02/pssi-lelucon-apalagi-ini.html' title='PSSI, Lelucon Apalagi Ini?'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-3945288726247487005</id><published>2009-02-17T17:03:00.001+07:00</published><updated>2009-03-18T11:17:10.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Yang Botak dari Afrizal Malna, hehehe!</title><content type='html'>Teks Afrizal Malna adalah kompleksitas yang tak terbaca. Tidak indah, sulit dipahami, dan cenderung liar (tentu saja). Tentu jangan berharap menemukan teks yang merayakan keindahan alam, misalnya, seperti yang sering diyanyikan penyair-penyair salon di negeri ini. Sebaliknya keindahan teks Afrizal terletak dari kerumitannya, keliarannya, dan ketidaklogisannya kalau ini bisa dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu gua baca larik puisi menghormati musim panas karya Afrizal Malna, gua langsung ketawa. Lha iya to, gimana enggak? Coba simak syair berikut ini. aku membeli topi untuk menutup jendela di kepalaku. Hahaha masakan ada jendela di kepala, ada-ada aja Afrizal (gua jadi ingat kepala botak Afrizal yang berkilauan kalo kena sinar matahari. Jangan-jangan idenya dari sini!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula untaian sajak ini tertib logika. kepalaku sekarang sudah ditutup. udara panas dari luar sana tidak bisa lagi masuk ke dalam kepalaku. hanya mataku yang bisa melihatnya. tapi mataku tidak melihatnya sebagai udara panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas imaji pun bermain sekaligus mengelabui kita. mataku tidak setuju dengan udara panas. mataku melihatnya seperti mulut yang terus makan. dan makan yang terus mulut. seperti ada restoran dalam perut mulut itu. mulut yang terus restoran dan terus perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kekocakan dan semangat bermain-main yang mula-mula hadir kemudian berubah menjadi keliaran yang tidak terkendali. sudah 6 buah topi yang aku beli. aku sudah memiliki 6 jendela untuk kepalaku. 6 jendela untuk udara panas dan untuk kepalaku. seluruh 6 topi itu aku pakai untuk menutup jendela di kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ganjil cara Afrizal menghormati musim panas! Tidak ada keriangan, yang ada hanya kecemasan. ayo, kita masuk saja. kita tutup semua jendela. biarkan kita jadi gelap di dalam rumah. biarkan hingga gelap tidak bisa melihat kita, ajak sang penyair. Apakah maksud Afrizal sebenarnya? Entahlah. Barangkali karena aku lirik kehilangan eksistensial. ....kita telah sirna, demikian tutup Malna.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-3945288726247487005?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/3945288726247487005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=3945288726247487005' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3945288726247487005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/3945288726247487005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2009/02/yang-botak-dari-afrizal-malna-hehehe.html' title='Yang Botak dari Afrizal Malna, hehehe!'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-7303741153349236228</id><published>2009-02-06T15:22:00.003+07:00</published><updated>2009-03-18T11:18:23.196+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skenario'/><title type='text'>Episode 3: "Maling CD"</title><content type='html'>KAMPOENG STRAWBERRY&lt;br /&gt;Serial Sitkom 30 Menit&lt;br /&gt;Cerita/Naskah: Zamakhsyari Abrar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;OPENING TEASE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXT. RUMAH BILL KLIWON – SORE HARI&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------&lt;br /&gt;BILL KLIWON MENGISAP ROKOKNYA. BILL DITEMANI BU REGAR. KEDUANYA TENGAH DUDUK SANTAI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR : Pa, kalau Papa merokok, Bayu juga ikut-ikutan merokok...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL KLIWON : Kalo aku ngerokok, gak bakal ada maling malam-malam, apalagi siang hari. Soalnya aku kan batuk-batuk terus. Jadinya disangka belum tidur. Hehehe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (sebel) Basi banget. Garing! Gak lucu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL KLIWON: Emangnya suamimu ini anggota Srimulat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI DALAM TERDENGAR SUARA BAYU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAYU: (OS) Masuk Warkop aja Pa, lebih seru!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BILL MENERUSKAN MEROKOK SAMBIL MELIHAT KE DALAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR : Ngomong-ngomong soal maling, katanya di kampung sebelah lagi banyak maling. Udah dua motor ilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL : Kita kan gak punya motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAYU: (OS) Ya beli dong Pa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Namanya maling ya maling. Liat barang bagus, langsung digasak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEU’ MUMUN TIBA-TIBA LEWAT DI DEPAN MEREKA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL: (senyum melihat Mumun) Ini baru barang bagus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL KLIWON LANGSUNG KECUT SAAT MELIHAT ROMAN BU REGAR YANG SANGAR. DARI DALAM TERDENGAR TAWA BAYU. NAMUN TAWA ITU TERHENTI KETIKA BILL PASANG MUKA MASAM DAN MENATAP KE DALAM. TAPI TAMPANG GALAK BILL BERUBAH KECUT SAAT MELIHAT WAJAH ISTRINYA YANG KESAL TAK KETULUNGAN. DARI DALAM TERDENGAR LAGI TAWA SENANG BAYU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Papa, malam ini tidur di luar aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR EXITS. BILL KELABAKAN. TAPI KETIKA MELIHAT CEU’ MUMUN MEMPERHATIKANNYA, IA PUN TERSENYUM. MUMUN MEMBALAS SENYUMAN ITU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ACT ONE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01. EXT. HALAMAN RUMAH BILL - SORE&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;ANDRY TENGAH BERJALAN KETIKA MELIHAT ADA JEMURAN TERSANGKUT DI PAGAR. ANDRY MELIHAT KE RUMAH BILL. TIDAK TERLIHAT ADA ORANG. ANDRY KEMUDIAN MENGGANTUNG PAKAIAN ITU DI TALI JEMURAN. DI TANAH MALAH ADA CELANA DALAM PEREMPUAN YANG JATUH. ANDRY PUN DENGAN MAKSUD BAIK KEMBALI MENGGANTUNGNYA DI TALI. SAAT ITU MUNCULLAH BU REGAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Bu Regar, jemurannya jatuh. Jadi saya gantungin lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Wah makasih ya Mas Andry! Baik banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Ah, itu aja kok Bu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY MINTA PERMISI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Mari Bu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Mari Mas Andry!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY EXITS. MATA BU REGAR MENATAP KE ARAH KEPERGIAN ANDRY DENGAN KEKAGUMAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Ganteng banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR MENGAMBIL SEJUMLAH JEMURAN YANG KERING. IA TAMPAK KEBINGUNGAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR : Kalau gak salah CD saya tadi tiga. Sekarang kok satu ya? Kemarin juga ada yang gak ketemu. (geleng) Masak ada sih yang doyan CD ibu-ibu. Ada-ada aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA PERHATIAN BU REGAR TERTUJU PADA SESUATU. KAMERA MENYOROT SEORANG TENGAH TERTIDUR DI TANAH PEKARANGAN ITU. JELAS SEKALI ORANG TERSEBUT JARANG MANDI KARENA MUKA, TANGAN, KAKI DAN RAMBUTNYA TAMPAK DEKIL SEKALI. DENGAN MENNGENDAP-ENDAP BU REGAR MENDATANGI ORANG TERSEBUT. MENDADAK ORANG ITU BANGUN. KEDUA MUKA ITU SALING BERHADAP-HADAPAN. BU REGAR YANG KAGET SPONTAN BERTERIAK  MELIHAT MUKA YANG SEPERTI TAK PERNAH DISIRAM AIR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Haaaaaaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG DEKIL:  Haaaaaaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (takut) Orang gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG DEKIL: Orang gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR BURU-BURU MASUK RUMAH. ORANG DEKIL ITU JUGA CEPAT-CEPAT KABUR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02. INT. KAMAR BABAH HONG – SORE&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt;MEI SHIN SEDANG MELIPAT-LIPAT BAJUNYA. BABAH HONG KEMUDIAN MASUK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Pa, kayaknya CD mama ada yang ngambil deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG: Siapa sih yang ngambil? Haiya, mana ada sih maling CD. Ada-ada aja lo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Beneran lo Pa. Ini yang kedua  kali CD mama hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG TAK PERDULI. IA LANGSUNG MEREBAHKAN DIRI DI TEMPAT TIDUR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: (senang) Jangan, jangan malingnya suka sama mama! Makanya CD mama hilang hehehe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENDENGAR HAL ITU, BABAH HONG BANGUN DAN DENGAN BERSUNGUT-SUNGUT MELIHAT KE ARAH ISTRINYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03. INT. RUANG SANTAI RUMAH BANG TOGAR – SIANG&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;BANG TOGAR SEDANG MENONTON TV. MBAK AYU KELUAR DARI KAMAR. MUKANYA KUSUT. TAPI KETIKA MELIHAT WAJAH BANG TOGAR YANG SENYUM MENYAKSIKANNYA, MBAK AYU LANGSUNG GENIT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Bang Togar, jangan main-main dong! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANG TOGAR: Main-main apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Bang Togar ngaku aja. Abang kan yang makai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANG TOGAR: Makai apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: (cubit pinggang Togar) Ih, pura-pura lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANG TOGAR: (bingung)  Apa sih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LILIS KELUAR DARI KAMARNYA DAN MENUJU DAPUR. KEDUANYA PURA-PURA JAIM. SETELAH LILIS PERGI, MBAK AYU KEMBALI BERSIKAP GENIT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU:  (manja) Bang Togar kan yang makai CD aku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANG TOGAR (kaget) Hah? Buat apa? Orang aku pakai CD sendiri kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Jangan becanda Bang. Dari kemarin CD aku udah hilang dua. Pasti Bang Togar abis makai terus...........!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOGAR SUARANYA MAKIN PELAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOGAR: Siapa yang becanda? Mana aku tahu CD kau! Ada-ada aja ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Lho, terus dua CD saya mana dong, yang merah jambu dan warna hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOGAR: Di kamar mandi kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Enggak ada. Aku dah periksa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU MASUK KAMAR LAGI DENGAN MUKA KERUH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03. INT. WARUNG CEU’ MUMUN – SORE&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------&lt;br /&gt;KAMERA SECARA CLOSE UP MEREKAM TANGAN YANG SEDANG MENGADUK GELAS BERISI KOPI. KOPI ITU KEMUDIAN DIHIDANGKAN. KAMERA MUNDUR DAN KITA MELIHAT SUASANA WARUNG. HANYA ADA PAK RT YANG MELIHAT TAK BERKEDIP KE ARAH CEU’ MUMUN YANG BARUSAN MENGHIDANGKAN KOPI. ADA RASA SUKA DI WAJAH PAK RT TERHADAP CEU’ MUMUN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT: Ngomong-ngomong Ceu’ Mumun dah berapa lama ya jadi janda? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;CEU’ MUMUN: Baru dua tahun Pak RT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT: Emang Ceu’ Mumun gak pengen nikah lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEU’ MUMUN: Kayaknya gak deh Pak RT. Semua laki-laki buaya. Bayangin aja Pak RT, dari empat mantan suami, semuanya sama aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT: (merapikan rambut sambil caper) Ehem... Gak semua laki-laki kayak gitu lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEU’ MUMUN: Ah, pokoknya saya sekarang lebih suka menjanda. Kapok deh kawin lagi! KAPOK, KAPOK KAPOK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT: (kecewa) Waah sayang deh kalo begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA ANDRY ON SCREEN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEU’ MUMUN: Enggak kapok sih kalo calonnya kayak Mas Andry!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUMUN SENYUM KE ARAH ANDRY. PAK RT SEBAL SEKALI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04. EXT.  JALAN DEPAN RUMAH BILL – PAGI HARI&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;GEROBAK DORONG BERISI SAYURAN DAN BARANG DAPUR BERANEKA MACAM. BU REGAR MEMILIH PISANG, MBAK AYU SIBUK MEMBAUI IKAN ASIN, MEI SHIN MEMERIKSA DAGING AYAM DI PLASTIK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Eh, ngomong-ngomong kayaknya kampung kita ada malingnya deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Maling apaaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Bukan maling sembarangan. Malu ah nyebutnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MEI SHIN: (pelan) Maling CD, maling celana dalam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Oh, Mei Shin juga ya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Saya juga ada yang hilang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Saya pikir saya aja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Saya kalo gak salah udah dua kali hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: CD saya hilang tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Saya gak pernah jemur CD di halaman lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUKANG SAYUR MENCOBA MENDENGAR LEBIH SEKSAMA. MELIHAT TINGKAH TUKANG SAYUR, PARA IBU ITU KIAN MENGECILKAN SUARANYA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR : Saya pernah baca di koran. Ada orang yang pernah ketangkap maling CD ibu-ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Oh jadi malingnya suka CD ibu-ibu.  Pantesan CD ponakan saya Lilis gak diapa-apain. Terus, terus, gimana Bu Regar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (muka serius) Ternyata dia lagi nuntut ilmu hitam, syaratnya ya itu tadi,  harus maling CD kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGANYA BERGIDIK NGERI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: (takut) Ih serem! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Emang CD kita buat apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Katanya kalau CDnya udah dapat lebih dari 100, orangnya gak bisa kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Masak sih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: (cemas) Pulang aja yuk! Jangan-jangan CD kita diambil lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGA IBU-IBU ITU URUNG BERBELANJA. MEREKA DENGAN TERGESA-GESA PULANG KE RUMAH MASING-MASING. TUKANG SAYUR KEBINGUNGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05. INT. KAMAR BILL – MALAM&lt;br /&gt;-------------------------------------------- &lt;br /&gt;BU REGAR TIDUR GELISAH. IA TERUS BOLAK-BALIK TAK HENTINYA. TIBA-TIBA IA BERTERIAK SEHINGGA MEMBANGUNKAN BILL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL: Kenapa to? Mimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (takut) Ada maling hhiiiiiii!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR MELIHAT KE BAWAH SELIMUT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (lega) Huh masih ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL: Mimpi apaaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Maling CD?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;06. EXT. JALAN – SIANG&lt;br /&gt;---------------------------------&lt;br /&gt;MEI SHIN BERJALAN DENGAN TERGESA-GESA. DI BELAKANGNYA ADA SEORANG PRIA YANG TAK JELAS MUKANYA TERUS MENGIKUTINYA. MEI SHIN TERUS BERJALAN. LELAKI ITU MENGIKUTI LAGI. MEI SHIN MAKIN MEMPERCEPAT LANGKAHNYA. KETIKA MELIHAT KE BELAKANG, SOSOK PRIA ITU TIDAK ADA LAGI. KETIKA MENBGHADAP KE DEPAN. MEI SHIN TERPEKIK MELIHAT WAJAH SERAM PRIA ITU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07. INT. KAMAR MEI SHIN - MALAM&lt;br /&gt;--------------------------------------------------&lt;br /&gt;MEI SHIN TERBANGUN DARI TIDURNYA. TERIAKANNYA YANG HISTERIS IKUT MEMBANGUNKAN BABAH HONG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG: Mimpi buluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Takut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN MEMELUK SUAMINYA. BABAH HONG MEMBALAS MERANGKUL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG: Udah sayang. Itu cuma mimpi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA MEI SHIN MELIHAT KE BAWAH SELIMUTNYA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG: Liat apa sayang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Masih ada, masih ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG: Apa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: CD&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BABAH HONG: Ah ada-ada aja. Udah tidur aja lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Takut! Tadi mama mimpi dikejar-kejar maling. Terus mama dipukul, CD mama  mau diambil. Untung mama bangun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG: Udahlah, papa ambil minum dulu ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08. INT. RUANG SANTAI  BU REGAR  - SIANG&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;BU REGAR DAN MEI SHIN MENDENGAR CERITA MBAK AYU TANPA BERKEDIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Pokoknya tuh orang ngejar-ngejar saya sambil teriak-teriak “serahin gak CDnya” Pokoknya mirip-mirip gitu. Untung sebelum diapa-apain saya kebangun duluan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Aneh ya. Kok mimpi kita bertiga sama ya. Saya juga mimpinya dikejar-kejar kayak gitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: (cemas) Wah, jangan-jangan tuh yang di mimpi kita  orangnya beneran ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Bisa aja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Tadi pagi saya dengar dari Ceu’ Mumun, ia juga kehilangan CD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: Pokoknya saya dah bilang kemarin jangan jemur CD sembarangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Pak RT harus bertindak nih! Bisa-bisa CD-CD kita habis dicolongin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEI SHIN: (senyum) Kalau yang ngambil suami sih gak apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANG LAIN IKUT TERSENYUM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Nanti saya desak suami saya agar Pak RT segera bertindak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M &amp; Mb: Kita juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                           FADE OUT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ACT TWO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FADE IN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01. INT. WARUNG CEU’ MUMUN – SIANG HARI&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;PAK RT MENGGARUK-GARUK KEPALANYA. DI HADAPANNYA ADA PAK RW, ANDRY, BABAH HONG, BILL KLIWON DAN BANG TOGAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT: Keterlaluan banget. CD ibu-ibu aja diembat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RW: Ini maling orang sakit nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Pasti orang sakit Pak RW. Yang hilang cuma CD ibu-ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANG TOGAR: Enggak juga. Gak yang perawan, gak nenek, gak ibu-ibu. Semua diembat. Buktinya, CD ponakan istrinya juga hilang 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMUA MENYIMAK UCAPAN TOGAR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL KLIWON: Bayangkan, sampai istri-istri kita mimpinya sama lagi. Ini serius nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG: Pak LT, kita kan sudah bayal uang keamanan. Satpamnya mana nih? Kalo kayak gini mah, lugi bandal nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL KLIWON: Kemana aja sih Pak Yance! Dia ke sini gak sih? Pak RT dah bilangin kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT MENGANGGUK. ANDRY BANGKIT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Biar saya yang cari Pak Yance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY EXITS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02. EXT. JALAN - SIANG &lt;br /&gt;-----------------------------------&lt;br /&gt;ANDRY BERPAPASAN DENGAN ORANG GILA YANG TEMPO HARI TIDUR DI HALAMAN RUMAH BILL. MELIHAT ANDRY, ORANG GILA MENGGERTAKKAN GIGI. ANDRY DENGAN TERBIRIT-BIRIT LARI DIKEJAR SI ORANG GILA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 03. EXT. HALAMAN RUMAH MBAK AYU – SIANG &lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;DENGAN KETAKUTAN ANDRY MENGENDAP-ENDAP DAN BERSEMBUNYI DI BALIK KAIN SEPREI YANG TENGAH DIJEMUR. SETELAH BEBERAPA SAAT IA MERASA LEGA. LALU KELUAR DAN SECARA SEKILAS MELIHAT KE ARAH JENDELA RUMAH BANG TOGAR. TERLIHAT MUKA MBAK AYU DAN LILIS YANG KEHERANAN. ANDRY MELEMPAR SENYUM SIMPATIK DAN BERLALU DIIKUTI TATAPAN MATA MBAK AYU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;04. INT. WARUNG CEU’ MUMUN – SIANG&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOGAR: Kalau bener malingnya orang yang nuntut ilmu hitam. Alamak! Matilah awak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT: Pokoknya jangan ada CD yang dijemur di halaman tanpa ada pengawasan. Semua harus pasang mata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG, BILL, HARI DAN TOGAR BERSETUJU RIA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT: Kalau ada yang mencurigakan, kita tangkap aja! Kalau ada orang yang gak kita kenal, kita tanya baik-baik keperluannya apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RW: Yang penting kita jangan panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI:  Kalo saya nanya cewek ajalah! Lebih afdol, kayak ehemm!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI MELIRIK KE ARAH CEU’ MUMUN YANG SEDANG BERES-BERES DI BALIK MEJANYA. BILL KLIWON TERTAWA MELIHAT TINGKAH HARI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL KLIWON: Ehem! Ceu’ Mumun, Ceu’ Mumun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUMUN: Ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL KLIWON: Dipanggil Hari nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI LANGSUNG GUGUP MELIHAT CEU’ MUMUN MENDEKATINYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEU’ MUMUN: Ya, Mas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI YANG GELAGAPAN CEPAT-CEPAT KELUAR WARUNG DIBAWAH PANDANGAN HERAN CEU’ MUMUN. YANG LAIN HANYA TERTAWA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05. INT.  POS RONDA – SIANG&lt;br /&gt;------------------------------------------&lt;br /&gt;YANCE NGOROK DENGAN WAJAH DITUTUP TOPI SATPAM MILIKNYA. ANDRY ON SCREEN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: (geleng kepala) Ditungguin eh ternyata dia malah enak-enakan tidur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;06. INT. RUANG SANTAI RUMAH BILL - SIANG&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;MBAK AYU MASUK TERGESA-GESA DISAMBUT ANTUSIAS BU REGAR. ADA TINA YANG TENGAH BERMAIN BONEKA. MBAK AYU MEMBISIKKAN SESUATU, BU REGAR HERAN. MBAK AYU MEMBISIKKAN LAGI. TIBA-TIBA BU REGAR INGAT SESUATU. IA GANTIAN YANG MEMBISIKKAN MBAK AYU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINA: Mama ama Tante, dari tadi bisik-bisik terus! (tawa) Hah, ngomongin cowok ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU DAN BU REGAR MELIHAT KE ARAH TINA SEPERTI MALING YANG KETAHUAN.  KEDUANYA PINDAH KE RUANG TAMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07. RUANG TAMU BILL – SIANG&lt;br /&gt;--------------------------------------------- &lt;br /&gt;TINA MENGIKUTI DENGAN DIAM-DIAM. BU REGAR DAN MBAK AYU DUDUK KE KURSI TAMU. TINA MENGINTIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (pelan) Saya gak percaya sebenarnya. Tapi saya ingat Andry waktu itu saya pergoki ada dekat jemuran saya. Megang CD kalau gak salah!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Nah, nah kan. Orang saya liat sendiri kok dia lagi nyari-nyari di jemuran saya. CD saya kan saya jemur di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Ih, Andry nakal! Gak nyangka Andry ternyata sakit juga. Hiiii!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Pake nyolong segala. Minta aja, pasti saya kasih! Hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Ih! (pause) Pokoknya jangan bilang-bilang dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Iyaalah. Lagian kita kan belum ada bukti. (geleng) Andry, Andry!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Ngomong-ngomong, CD kita buat apa ya untuk Andry &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUANYA CEKIKIKAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Eh, kita tangkap Mas Andry yuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Jangan! Jangan! Entar digebukin suami kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Gak, gak! Dia gak ditangkap kayak gitu. Cuman ngasih pelajaran aja dikit! Biar kapok! Lagian apa yang dikerjain Mas Andry tetap gak bener. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Rencananya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR MEMBISIKKAN SESUATU. MBAK AYU SUMRINGAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Ingat! Ini cuma rahasia kita bedua lho. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU MENGANGGUK. TINA BERDEHEM KELUAR RUANG TAMU. BU REGAR DAN MBAK AYU SEGERA MEMPERBAIKI SIKAP MEREKA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINA: Mama ama Tante ngapain sih? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Hai sayang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08. EXT. JALAN DEPAN KEBUN – SIANG&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------&lt;br /&gt;YANCE MENGGERUTU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANCE: Ada-ada aja. Maling kurang kerjaan. Orang kalo nyuri yang elite dikit. Eh, malah nyuri CD ibu-ibu. Dasar gendeng! Gue gak bisa tidur jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG GILA KELUAR DARI KEBUN KOSONG DAN BERPAPASAN DENGAN YANCE.  YANCE TERTEGUN SEJENAK DAN MELIHAT KE KEBUN KOSONG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09. EXT. JALAN  - SIANG&lt;br /&gt;-----------------------------------&lt;br /&gt;MBAK AYU MENGINTIP. KAMERA MENYOROT ANDRY YANG TENGAH BERJAGA-JAGA. MBAK AYU MELEMPAR ANDRY DENGAN KERIKIL. TEPAT MENGENAI PUNGGUNG ANDRY. ANDRY BERPALING DAN MELIHAT SESOSOK TUBUH BERKELEBAT. ANDRY TAMPAK MENGERINYITKAN DAHINYA PERTANDA HERAN. BERGEGAS IA MENGIKUTI SOSOK YANG BERLARI TERSEBUT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;10. EXT. SEMAK - SIANG&lt;br /&gt;------------------------------------&lt;br /&gt;MBAK AYU MASUK KE SEMAK-SEMAK. ANDRY IKUT MASUK. BEGITU MASUK, ANDRY HERAN MELIHAT BU REGAR DAN MBAK AYU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Ibu berdua, ngapain di sini ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (Galak) Mas Andry!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Mas Andry, jawab aja terus terang. Kalau jujur, mungkin kita beri maaf!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY TAMBAH BINGUNG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Pertama-tama, kami terkejut. Tapi setelah itu jadi kasihan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Betul! Kita kasihan lo Mas! Mas jelas sakit. Sakit rohani!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY TERCENGANG. ANDRY INGIN BICARA, TAPI KEDULUAN BU REGAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: Mas Andry! Saya minta jangan sampai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Bentar! Bentar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU MENYERET BU REGAR MENJAUH DARI ANDRY. MEREKA TERLIHAT CEKCOK MULUT. MBAK AYU MEMOHON-MOHON. BU REGAR AKHIRNYA DENGAN WAJAH TAK PUAS MENGANGGUK. MBAK AYU SENANG. KEDUANYA KEMBALI KE HADAPAN ANDRY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Mas Andry! Saya tahu walau saya sudah bersuami, saya masih tetap menarik! Apalagi buat orang muda seperti Mas Andry!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR MELONGO! ANDRY MAKIN TAK MENGERTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Mungkin karena waktu saya seusia Mas Andry dulu, banyak lelaki yang suka sama saya. Maklum bekas putri ayu dulu. CANTIK, RAMAH, PINTAR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR MENCIBIR! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Mungkin kalau saya belum bersuami, Mas Andry ada peluang jadi pacar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KINI BU REGAR DENGAN JIJAI MENUTUP TELINGANYA. TAPI SAAT KEPERGOK MBAK AYU, BU REGAR MENURUNKAN KEDUA TANGANNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU:  Tapi Mas....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR TAK TAHAN LAGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (galak) Sudahlah Mas Andry, ngaku aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. EXT. KEBUN – SIANG&lt;br /&gt;-----------------------------------&lt;br /&gt;YANCE MASUK KEBUN KOSONG DAN MENEMUKAN SETUMPUK KAIN TERONGGOK RAPI DI TANAH SEPERTI BEKAS DITIDURIN. YANCE MENGAMBIL SALAH SATU KAIN YANG TERNYATA ADALAH CELANA DALAM WANITA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANCE: Lho ini kan...! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANCE CELINGUKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANCE: Orang gila tadi ya! Ah dia malingnya. Buat alas tidur! Ada-ada aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANCE BERLARI MENINGGALKAN KEBUN DENGAN TERGOPOH-GOPOH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUT TO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;12. EXT. SEMAK – SIANG HARI&lt;br /&gt;-------------------------------------------&lt;br /&gt;BU REGAR DENGAN BERSIDEKAP DADA MENATAP ANDRY. SEDANGKAN MBAK AYU MENCOBA SOK WIBAWA, TAPI JADINYA JAYUS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Ibu berdua ngomong apa sih? Saya benar-benar gak tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT ITULAH TERDENGAR SUARA ORANG BERLARI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANCE (OS): Hoi Pak RT! Maling CD nya dah ketahuaan! Maling CDnya tidur di kebun! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR DAN MBAK AYU KAGET. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Wah kayaknya udah ketangkap tuh! Saya tinggal dulu ya ibu-ibu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY MENGHILANG, SEDANGKAN WAJAH BU REGAR DAN MBAK AYU TERLIHAT KECUT. KEDUANYA SALING MENUDING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CLOSING TEASE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01. INT. WARUNG CEU’ MUMUN - MALAM&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;YANCE MINUM KOPI DENGAN WAJAH BERBINAR. PAK RT TERSENYUM, BILL MENEPUK-NEPUK PUNDAK YANCE. BANG TOGAR ADU CANGKIR DENGAN BABAH HONG. PAK RW BAK NINGRAT ZAMAN KUMPENI MENGEPULKAN ASAP ROKOKNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAH HONG: Gak sia-sia kita bayal Pak Yance!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RT: Malingnya orang gila ternyata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK RW: Apa saya bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILL KLIWON: Harusnya kita dah tau. Masak ada orang waras nyolong CD ibu-ibu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMERA MENJAUH MENYOROT SUASANA DI LUAR WARUNG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02. EXT. DEPAN WARUNG MUMUN – MALAM&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;BU REGAR DAN MBAK AYU TAMPAK BERDIRI DENGAN TERSIPU-SIPU DI HADAPAN ANDRY YANG PENASARAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Sebenarnya tadi ibu berdua mau ngomong apa ya pas waktu kita di semak-semak tadi? Saya masih bingung tuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR: (terbata-bata) Ah enggak kok! Kita cuman mau bilang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Mau bilang apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: (bingung) Apa ya? Gak usah lah Mas Andri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: Gak apa-apa kok! Bilang aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU: Kita mau bilang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MBAK AYU DAN BU REGAR SALING MENATAP.&lt;br /&gt;MBAK AYU: Hmmmmm......!&lt;br /&gt;BU REGAR: Mas Andri ganteng! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BU REGAR CEPAT MENGGAMIT TANGAN MBAK AYU. KEDUANYA OFF SCREEN. ANDRY TERSENYUM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDRY: (tiru logat Batak Bu Regar) Ganteng. Ngomong gitu aja ngajak ke semak-semak. Dasar ibu-ibu. Hehehehe!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-7303741153349236228?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/7303741153349236228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=7303741153349236228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7303741153349236228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/7303741153349236228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2009/02/episode-3-maling-cd.html' title='Episode 3: &quot;Maling CD&quot;'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-1167249973505318567</id><published>2008-12-11T09:19:00.002+07:00</published><updated>2009-03-18T11:20:06.404+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Gerakan Padri dan Geliat Ekonomi di Pedalaman Minang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERHATIKAN PENGERTIAN-PENGERTIAN berikut ini. Jihad adalah perang suci;  kewajiban seorang Muslim untuk menyebarkan agama Islam, dengan kekerasan bila perlu (hal. 406). Sedangkan kota adalah inti asal suatu desa Minangkabau, biasanya diperkuat dengan benteng (hal. 407). Contoh lain, orang bangsat adalah jembel, gelandangan; secara populer istilah untuk tukang angkut barang dalam rombongan pedagang (hal. 408).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketiga sampel di atas sama-sama memiliki persamaan yakni kekeliruan pemahaman. Semua itu termaktub dalam buku karya Christine Dobbin Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847 (diterjemahkan oleh Lilian D. Tedjasudhana ke bahasa Indonesia menjadi Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di atas hanyalah segelintir dari sekian banyak ketidakpahaman Dobbin mengenai subjek yang ditulisnya dalam buku setebal 416 halaman tersebut. Padahal apa yang tersebut di atas amat signifikan untuk mengetahui lebih lanjut tentang Perang Padri dan budaya Minang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Marilah kita bahas contoh pertama. Dobbin jelas bias mengenai apa itu makna jihad. Dalam pengertian sebenarnya jihad adalah bersungguh-sungguh. Orang yang berusaha mencari rezeki secara halal merupakan sebuah jihad. Seorang ibu yang berusaha mempertahankan hartanya melawan perampok yang hendak merampas hartanya juga merupakan sebuah jihad. Pendeknya jihad adalah sebuah ikhtiar dengan kesungguhan hati untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Jadi makna jihad sangat luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel kedua lebih fatal lagi. Si penulis buku ini tidak bisa membedakan antara kota dan koto. Pengertian koto dalam kultur Minang disamakan saja secara serampangan dengan lema kota. Contoh ketiga bahkan makin menyedihkan. Dobbin sudah pasti tidak bisa berbahasa Minang. Arti kata bangsaik (bahasa Minang untuk orang miskin atau tidak berpunya) dialihbahasakan saja ke bahasa Indonesia secara tak bertanggungjawab dengan kata bangsat, yang tentu saja maknanya sangat berbeda sekali dengan kata bangsaik! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dengan tiga hal yang sederhana itu saja Dobbin kebingungan memahami makna yang sebenarnya, apa jadinya nasib buku ini secara keseluruhan? Sayangnya buku ini sudah selesai ditulis termasuk dengan segala kekeliruannya tadi. Tentu tidak mungkin kita menuntut penulisnya melakukan revisi atas sejumlah keberatan kita tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas berbagai kesalahan tadi, muncul pertanyaan layakkah buku tersebut menjadi rujukan untuk memahami gerakan Padri yang kini menjadi kontroversi tersebut? Kalau memang akhirnya menjadi rujukan--karena buku mengenai aspek ekonomi dalam gerakan Padri langka--seberapa keliru buku tersebut dan di mana letak kekeliruannya tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, Dobbin jelas tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai Islam dan budaya masyarakat Minangkabau. Kalaupun paham, si cewek bule ini hanya mengerti sepotong-sepotong dan kita pun semua tahu bagaimana jadinya sebuah buku dengan kapasitas penulis yang medioker seperti ini. Sudah tentu ini memprihatinkan. Bagaimana mungkin orang yang tidak tahu dengan subjek yang ditulisnya bisa menghasilkan sebuah penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diperparah lagi dengan ketidaktelitian penulisnya tentang nama-nama daerah yang ditulisnya. Barangkali ada belasan nama tempat yang salah tulis—hal yang sungguh fatal untuk sebuah karya ilmiah. Kekeliruan ini mungkin terjadi karena Dobbin dengan mentah-mentah menelan saja sumber rujukan tertulis dari pihak kolonial Belanda tanpa memeriksa silang dengan kondisi di lapangan. Padahal banyak nama tempat yang tertulis di arsip kolonial sudah berubah era sekarang. Jadinya banyak nama tempat yang asing bagi urang awak yang mengenal daerah yang dibicarakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kita terganggu dengan nama Bengkulu yang ditulis Bengkulen, Pau seharusnya Pauh, Moko Moko semestinya Mukomuko serta selusin contoh lain yang terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Dobbin juga main pukul rata saja. Nama daerah bahkan nama orang dalam bahasa Minang diindonesiakan saja semena-mena. Parahnya lagi, penerjemahannya juga tidak tepat. Karenanya nama baru tersebut menjadi aneh di telinga dan menimbulkan tertawaan bagi orang yang mengerti bahasa Minang. Kesalahan-kesalahan tersebut begitu fundamental dan ditulis berulang-ulang sehingga sudah sampai pada taraf sangat mengganggu kenikmatan membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, buku ini masih memiliki arti penting bagi kita karena dua alasan. Yang pertama, Dobbin menyentuh topik yang jarang diulas, yaitu kondisi ekonomi di pedesaan Minangkabau pada rentang abad 17-18, sesuatu yang minim sekali diketahui oleh publik maupun sejarawan. Yang kedua, Dobbin menyadari sebagai sebuah gerakan, Padri tidak mungkin begitu mengemuka tanpa adanya faktor-faktor ekonomis yang mendorongnya. Inilah arti strategis buku ini!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-1167249973505318567?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/1167249973505318567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=1167249973505318567' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/1167249973505318567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/1167249973505318567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/12/gerakan-padri-dan-geliat-ekonomi-di.html' title='Gerakan Padri dan Geliat Ekonomi di Pedalaman Minang'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-4713100770491263870</id><published>2008-12-11T09:16:00.001+07:00</published><updated>2009-03-18T11:22:47.707+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Komunistophobia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIAP BANGSA memiliki phobianya sendiri. Jerman begitu takut dengan kebangkitan NAZI. Bahkan bagi kita, ketakutan Israel terhadap segala hal yang berbau NAZI sudah di luar akal sehat. Di sejumlah negara Eropa barat malahan ada undang-undang yang akan menghukum orang bila secara kritis mempertanyakan peristiwa holocaust. Indonesia sesuai sejarahnya tentu juga punya phobianya sendiri yakni komunistophobia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal-muasal komunistophobia ini sebenarnya sudah lama sekali. Menurut Hersri Setiawan, bekas tapol Pulau Buru, Bung Karno sedari muda sudah mengecam sikap komunistophobia ini, baik melalui tulisan-tulisan maupun karikatur-karikaturnya dalam harian Pemandangan dari masa sebelum Perang Dunia II. Hersri menulis, untuk mengejek penderita phobia ini yakni kaum kapitalis, Soekarno sengaja membengkokkan kata komunis  menjadi gombinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunistophobia ini mencapai puncaknya di negeri ini tatkala Soeharto berkuasa di republik ini. Soeharto melalui para abdi setianya secara terus menerus mengingatkan bangsa ini mengenai pengkhianatan kaum komunis. Hal-hal yang berbau kiri sama sekali dilarang. Riwayat tokoh-tokoh pergerakan yang kebetulan berideologi kiri seperti Semaun, Tan Malaka, dan Haji Misbah dihilangkan dari buku sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui TVRI dan RRI, rakyat di pelosok pedesaan hingga perkotaan selalu diingatkan mengenai bahaya laten komunis. Kewaspadaan terhadap bahaya laten komunis ini terus ditiup-tiupkan oleh mesin propaganda Orde Baru melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Untuk lebih dramatis, film tentang pengkhianatan G30S/PKI dibikin, dan diputar berulang tiap tahun, setiap tanggal 30 September melalui TVRI, satu-satunya saluran televisi waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jurus komunistophobia ala Cang Harto ini makin luntur seiring memudarnya pamor komunis di seluruh dunia. Negara komunis seperti Uni Sovyet bubar. Jerman Timur dilebur ke dalam Jerman Barat. Bangsa Jerman yang puluhan tahun terpisah oleh tembok Berlin kemudian bersatu kembali sebagai satu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di Indonesia, ideologi komunis tetap dianggap sebagai harimau haus darah. Untungnya seiring kedewasaan sikap masyarakat, jurus lama itu lalu dianggap tidak ampuh lagi. Orang mencibir ketika pemerintah Orba menuduh kerusuhan 27 Juli 1996 didalangi oleh PKI. Berikutnya kita pun tahu, Soeharto tinggal menunggu waktu ditiup sejarah. Hal yang terjadi dua tahun kemudian tatkala krisis ekonomi melanda negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya meski Soeharto telah lengser, komunistophobia warisannya tetap bersemayam dalam hati sanubari sejumlah kecil rakyat Indonesia. Histeria yang kelewatan itu terlihat ketika sekelompok kecil masyarakat memprotes pembuatan film Lastri garapan Eros Djarot, yang dianggap menyuarakan ideologi komunis. Bahkan tidak mengizinkan pengambilan gambar di Solo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, saya sebenarnya merasa kasihan dengan mereka tersebut. Para pelarang itu  betul-betul telah dicuci otaknya oleh rezim Soeharto tentang bahaya komunis. “Hari gini masih takut komunis, capek deh!” meminjam bahasa anak muda zaman sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sikap jumud mengenai hal-hal yang berbau Marxis itu tidak hanya menghinggapi mereka saja, tapi juga kaum intelektual kita. Misalnya Taufiq Ismail, salah satu sastrawan Angkatan 1966 juga dihinggapi penyakit ini. Demikian bingungnya penyair kita ini, sehingga yang bersangkutan tidak bisa membedakan antara Marxisme sebagai filsafat kritis dan ajaran Marxisme sebagai sebuah ideologi. Weleh-weleh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 26 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-4713100770491263870?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/4713100770491263870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=4713100770491263870' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4713100770491263870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/4713100770491263870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/12/komunistophobia.html' title='Komunistophobia'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-2547317926768761190</id><published>2008-11-11T15:15:00.001+07:00</published><updated>2009-03-18T11:23:57.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>“Ciptakan Neraka Dalam Hidupmu, Maka  Sorga Pun Akan Datang”</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA PERTAMA kali mengenalnya secara pribadi saat ia menjadi sutradara grup teater kami untuk pementasan naskah Kamar Rias Yang  Mengalir dan Pergi Akhirnya Jadi Nostalgi karya Shimizu Kunio, sebuah naskah yang sulit karena para aktor dituntut mengeksplorasi aktingnya sedemikian tinggi. Tentu saja ketiga teman saya yang menjadi pemain seperti Nano, Oling, dan Sani mati kutu. Meski sudah lama bermain teater, ketiganya tidak pernah belajar keaktoran secara benar. Akhirnya pementasan di Bentara Budaya pada 2003 itu menjadi sebuah lelucon. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt; menulis resensi yang buruk sekali terhadap pementasan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenadi. Itulah namanya. Saya tidak tahu apakah itu nama aslinya atau bukan. Tapi dalam poster pementasan kami mencantumkan namanya sebagai Jean Marais. Jen—demikian ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain—selain sebagai sutradara, juga bertindak selaku aktor dalam pementasan itu. Pementasan itu meninggalkan kesan yang dalam bagi kami semua, terlebih Jean. Di samping kecewa dengan pencapaian artistik, Jean secara terbuka menyatakan kekesalannya kepada kami. Memang banyak alasan mengapa Jean kecewa. Ketiga teman saya tidak berbakat menjadi aktor. Parahnya lagi, selain gagap dalam berakting, mereka juga malas latihan. Alhasil, ditambah dengan sejumlah perbedaan lain, membuat sebagian besar dari kami terlibat konflik yang begitu tajam dengan Jean. Anehnya di kemudian hari, kami malah makin akrab dengan Jean. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya dari segi fisik tidak ada yang mengesankan dari orangtua ini. Rambut Jean sudah banyak yang rontok sehingga jidatnya terlihat begitu lebar. Gigi bagian depannya juga banyak yang tanggal akibat menjatuhkan diri dengan cara yang salah saat mentas bersama grup Teater Kami beberapa tahun silam. Dengan raut muka yang kehilangan gigi dan rambut yang tipis sana-sini itu, roman Jean tak ubahnya seorang kakek-kakek. Prediksi saya usia Jean paling tua mungkin 50 tahun. Menurut Ugeng, sahabatnya itu pernah ikut terlibat dalam film Beranak Dalam Kubur produksi tahun 70-an. Waktu itu Jean masih kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati begitu, orang yang berbicara dengannya sulit untuk tidak terkesan. Ia pribadi yang hangat dan humoris. Dalam berbicara, ia menggunakan bahasa Indonesia yang bagus sekali, tidak dibuat-buat. Pikiran-pikirannya penuh gugatan dan kadang di luar  kelaziman. Sering dalam diskusi kami berdua, Jean mengungkapkan keresahannya terhadap segala hal. Tak lupa ia mengkritik pula Institut Kesenian Jakarta, tempatnya belajar menempa diri sebagai aktor teater. Menurutnya, teori-teori akting yang diterapkan di IKJ sudah ketinggalan zaman. Kalau sudah diskusi seperti ini, pembicaraan kami akan berubah menjadi sangat serius. Padahal dasarnya ia adalah orang yang kocak sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahu saya Jean tidak pernah menikah. Ia hidup membujang, sama dengan sahabatnya Ugeng. Ia pengangguran dan tidak mempunyai penghasilan tetap. Untuk membayar uang kontrakan, ia menjual buku-buku, termasuk buku milik Ugeng. Bahkan sekali dua ia pernah menjual lukisan Ugeng. Sebetulnya Jean bisa menghasilkan banyak uang kalau misalnya ia mau bermain sinetron. Cukup banyak tawaran yang mampir padanya, namun ditolaknya dengan berbagai alasan, paling sering berhubungan dengan idealisme. Memang sudah lama Jean mengungkapkan kritiknya terhadap dunia sinetron maupun perfilman kita, yang tidak beranjak ke mana-mana. Hanya menampilkan kebodohan dan kepicikan. Hal yang ditentangnya habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari Jean ngantor di TIM. Karena selalu tidak beruang, Jean cukup bijak untuk memalak teman-temannya. Barangkali orang yang biasa nongkrong di TIM sudah mengenal tabiatnya ini. Bagi saya sendiri, Jean tampaknya sudah menyerah dengan kreatifitas. Idealismenya terlalu besar sehingga menenggelamkan kreatifitasnya. Inilah ironi terbesar sahabat kami ini, yang sering menyebut dirinya sebagai aktor besar, besar taiknya ujarnya sambil terkekeh. Acap kali pula kami mendiskusikan kehidupan Jean yang soliter itu. Saya pun teringat dengan sebuah kartu yang ditulisnya untuk saya. Bunyinya, “Ciptakan neraka dalam hidupmu, maka sorga pun akan datang.” Saya tidak tahu apa yang dicarinya, tapi sedikit banyak tulisan itu mencerminkan hidupnya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menutup tulisan saya ini dengan menceritakan sebuah anekdot tentang sahabat kami ini agar Anda dapat memperoleh gambaran yang lebih tepat tentang kepribadiannya ini. Suatu kali, menurut Ugeng, Jean naik kereta api dalam perjalanan TIM-Lenteng Agung. Tak berapa lama kemudian, kondektur kereta menagih karcis kepada Jean. Apa jawab Jean? “Sudahlah Mas, saya lagi banyak problem, belum gajian,” ujarnya sambil mengusir si kondektur.  Usai bercerita begitu, baik saya maupun Ugeng tertawa terbahak-bahak. Saya dapat membayangkan muka kondektur dan penumpang yang keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-2547317926768761190?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/2547317926768761190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=2547317926768761190' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/2547317926768761190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/2547317926768761190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/11/ciptakan-neraka-dalam-hidupmu-maka.html' title='“Ciptakan Neraka Dalam Hidupmu, Maka  Sorga Pun Akan Datang”'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-8935670432327775494</id><published>2008-11-11T15:10:00.002+07:00</published><updated>2009-03-13T13:21:22.937+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Diskusi Intelektual Tentang Turki Yang Terbelah</title><content type='html'>Data Buku&lt;br /&gt;“Snow Di Balik Keheningan Salju”&lt;br /&gt;Judul Asli : Snow&lt;br /&gt;Pengarang : Orhan Pamuk&lt;br /&gt;Penerjemah : Berliani M. Nugrahani&lt;br /&gt;Tebal buku : 731 halaman&lt;br /&gt;Penerbit : Serambi, April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH TURKI modern adalah konflik tak berujung antara kaum sekuler dan kaum Islamis. Kedua pihak yang bertikai sama-sama fanatik dan memonopoli kebenaran. Konflik ini tanpa disadari kedua pihak telah menenggelamkan nilai-nilai kemanusiaan ke palung terdalam. Nilai-nilai hakiki itu tak lebih dari sekadar komoditas politik. Manusia--apa pun pandangan hidupnyanya--atas nama revolusi kemudian hanyalah pion-pion untuk dikorbankan. Inilah yang diurai secara tajam dan memukau oleh Orhan Pamuk lewat novelnya Snow Di Balik Keheningan Salju, sebuah thriller politik yang mengambil setting terkini di Kars, kota terpencil di daerah perbatasan Turki-Armenia.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hikayat Snow berawal dari kedatangan Ka, seorang penyair dan eksil yang kesepian, di Kars. Atas permintaan temannya yang bekerja di sebuah koran nasional di Istambul, Ka diminta meliput pemilihan walikota dan fenomena bunuh diri yang menjangkiti gadis-gadis muda berjilbab di kota terpencil itu. Badai salju yang turun melanda Kars kemudian membuat Ka terjebak di kota ini. Akses menuju dan keluar Kars tertutup longsoran salju.  Secara perlahan ia mulai terseret konflik politik di kota ini. Bersamaan dengan itu, ia pun menemukan kembali cinta lamanya, si jelita Ipek, bekas temannya semasa kuliah dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarangnya, Orhan Pamuk, peraih Nobel Sastra 2006, mengurai plot konflik Snow bak kado misterius yang dibungkus berlapis-lapis kertas. Tiap lapisan kertas yang dibuka kian menggetarkan jantung dan pada akhirnya kita pun tahu bahwa kita sedang disuguhi oleh sebuah novel yang istimewa, yang hanya mungkin ditulis oleh seorang juru cerita yang berkelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan plot dengan intensitas yang tinggi ini sebenarnya juga telah diperlihatkan secara piawai dan jauh lebih rumit oleh Pamuk lewat novelnya yang lain My Name is Red--juga sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Serambi. Tapi harus diakui dari segi cerita, novel Snow jauh lebih kompleks karena berhasil menghadirkan realitas politik Turki terkini, negeri yang terbelah oleh tradisi, agama dan modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Pamuk, pengarang Turki paling terkemuka dan juga paling kontroversial karena sikap politiknya ini lalu mengajak kita menelusuri tiap sudut kota Kars. Mula-mula kita dikenalkan dengan sejarah Kars, kemudian diajak mendengarkan perdebatan intelektual yang brilian antara seorang Islamis dan seorang birokrat pendidikan. Selanjutnya berkenalan dengan para aparat yang korup, lalu bertemu dramawan revolusioner, dan di atas itu semua, kita dipaksa mengikuti kisah cinta bergelora antara Ka dan Ipek, di tengah situasi kota yang mencekam karena kudeta militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati fiksi, kita harus mengakui bahwa buku ini membuat kita makin memahami seperti apa wajah Turki yang sebenarnya, negeri yang hingga kini belum sanggup membebaskan diri dari beban sejarah masa lalunya. Pamuk mengurai problematika itu bak orang dari jauh, dingin dan berjarak, tidak ada nada menggurui, apalagi menghakimi salah satu pihak. Sebagai seorang sastrawan, ia tergolong berhasil dalam hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruslah pula dipuji cara Pamuk melukiskan tokoh-tokoh novelnya. Kendati tokoh-tokohnya tergolong tidak sedikit, pengarang tetap mampu menampilkan tiap karakter tidak saja lewat penggambaran secara fisik, tapi juga psikologis, baik perkembangan emosi maupun pikiran sang tokoh. Kita terbius oleh tokoh Ka, atheis yang kebingungan dengan kebangkitan spiritual yang melanda Kars. Atau sosok Lazuardi yang misterius, seorang Islamis kukuh kharismatis namun ternyata bermoral bobrok, atau Ipek yang mempesona, dan adiknya Kadife yang menawan. Entahlah, saya merasa para karakter itu seperti tidak asing lagi bagi kita yang ada di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, dengan membaca buku ini kita tak ubahnya seperti diajak berdiskusi mengenai nasib demokrasi berikut segala konsekuensinya di sebuah negara sekuler yang kebetulan mayoritas pemeluknya adalah Islam. Sebuah diskusi intelektual &lt;span style="font-style:italic;"&gt;par excellence&lt;/span&gt;. Usai melahap habis buku ini, saya bersyukur karena realitas politik di Indonesia tidaklah seekstrem di Turki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-8935670432327775494?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/8935670432327775494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=8935670432327775494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/8935670432327775494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/8935670432327775494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/11/diskusi-intelektual-tentang-turki-yang.html' title='Diskusi Intelektual Tentang Turki Yang Terbelah'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-6990237650653299415</id><published>2008-11-11T15:05:00.002+07:00</published><updated>2009-03-18T11:26:08.166+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Pidato Kekalahan John McCain</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM TELAH menjelang. Namun puluhan ribu orang yang hadir tetap antusias mendengar pidato tersebut. Dengan suara tegar dan sesekali menenangkan pendukungnya yang kecewa, John McCain kemudian mengakhiri pidatonya dengan mengesankan, bahwa manusia tidak pernah lebih tinggi dari sejarah, tapi sebenarnya manusialah yang membuat sejarah. Itulah akhir pidato McCain menanggapi hasil Pilpres AS yang memenangkan kompetitornya Barack Obama sebagai calon presiden ke-44 negara adidaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Amerika, pidato McCain itu lazim disebut sebagai pidato kekalahan. Pidato kekalahan? Apa itu pidato kekalahan? Barangkali bagi kita yang ada di Indonesia hal ini masih kedengaran asing. Di Amerika, pidato kekalahan sudah menjadi fatsoen politik bagi calon presiden yang kalah bersaing. Melalui pidato kekalahan ini, kandidat yang gagal didorong untuk berjiwa besar mengakui kekalahannya sekaligus mengucapkan selamat kepada rivalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah McCain mengucapkan selamat kepada Obama, menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan ribuan pendukungnya, serta terutama menenangkan pendukungnya yang kecewa. Dengan jiwa besar ia kemudian mengajak para pendukung Republik untuk mendukung kandidat terpilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perlu menyorot pidato kekalahan McCain ini karena di Indonesia tradisi ini nyaris tidak dikenal. Di sini banyak kandidat yang kalah masih enggan mengucapkan selamat kepada lawannya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang gagal mendulang suara terbanyak kemudian menuduh dirinya telah dicurangi. Ia pun kemudian mulai kasak-kusuk menghasut para pendukungnya. Bisa ditebak yang terjadi setelah itu adalah serangkaian kekacauan yang memalukan. Aksi unjuk rasa bahkan kerusuhan bukan lagi berita  baru mewarnai setiap hasil pilkada di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe “pemimpin sakit” ini bukan hanya terjadi pada pemimpin kaliber kabupaten atau gubernur. Orang nomor satu di negeri ini juga terjangkit penyakit yang serupa. Seperti kata Jusuf Kalla, “Kita punya enam presiden yang tidak saling berbicara.” Tidak perlulah saya menyebut nama. Tentu Anda tahulah siapa yang saya maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kita semua bersepakat bahwa memang banyak pelajaran yang kita petik dari proses demokrasi di Amerika. Salah satunya dari kedewasaan sikap kedua kandidat maupun reaksi para pendukung mereka masing-masing menanggapi hasil pemungutan suara. Hingga tulisan ini ditulis, saya juga tidak mendengar adanya pendukung Republik yang ngamuk lalu bakar fasilitas umum karena kandidatnya kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-6990237650653299415?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/6990237650653299415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=6990237650653299415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/6990237650653299415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/6990237650653299415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/11/pidato-kekalahan-john-mccain.html' title='Pidato Kekalahan John McCain'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-744645327641360024</id><published>2008-10-29T15:22:00.002+07:00</published><updated>2009-03-18T11:01:03.201+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Pameran “Dari Penjara ke Pigura” Ketika Teks Masa Lalu Bertemu Perupa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA JADINYA bila teks masa lampau yang ditulis oleh delapan tokoh perjuangan Indonesia dipertemukan dengan guratan kanvas 30 perupa terkemuka kita? Hasilnya; tidak sekadar menjadi rantai penghubung kita dengan sang tokoh yang telah menyejarah, tapi penuh renungan sekaligus mengejutkan, kaya penjelajahan namun penuh gugatan, dan di atas itu semua: membangkitkan spirit dan nasionalisme kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran bertajuk “Dari Penjara ke Pigura” ini digelar di Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mulai 17 Oktober-6 Desember. Ekshibisi ini merupakan bagian dari Festival Salihara, sebuah kantong budaya baru gagasan Goenawan Mohamad dkk yang pertengahan bulan ini resmi dibuka untuk umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pameran ini, sejumlah perupa terkemuka diundang ambil bagian seperti Agus Suwage, Djoko Pekik, Hanafi, Heri Dono, Tisna Sanjaya hingga Ugo Untoro. Para perupa tersebut diminta kurator untuk menafsir ulang petikan teks-teks R.A. Kartini, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Rohana Kuddus, Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka dan S.K. Trimurti. Teks itu bermacam rupa, mulai dari naskah pidato, artikel, surat, maupun catatan harian, yang ditulis delapan tokoh pergerakan itu di rentang waktu pra-kemerdekaan dan revolusi kemerdekaan. Semua teks itu ditulis dari penjara, tempat pengasingan, atau pemingitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu lukisan yang menyita perhatian adalah karya Djoko Pekik “Merdeka atau Mati” (cat minyak  di atas kanvas berukuran 100 x 200 cm). Dalam lukisan tersebut terlihat kerumunan orang mendengarkan pidato seorang tokoh di atas mimbar. Bagian depan mimbar itu dibentangkan bendera merah putih. Sang orator yang berbusana putih berpeci dan berkacamata hitam, dengan tangan mengembang berbicara membius massa yang hadir. Kendati Djoko Pekik tidak terlalu jelas melukiskan raut sang orator, kita semua tahu siapa tokoh yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang kerumunan massa itu melintas kereta api yang membawa penumpang hingga kedua gerbongnya terlihat penuh sesak. Saking berjubelnya penumpang hingga mereka berlomba-lomba naik ke atap gerbong. Di kedua gerbong kereta tertulis slogan Merdeka atau Mati ’45 dan Merdeka ‘45.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menggelitik, di salah satu gerbong itu juga tertulis ‘Keretaku Hari Ini 2008’. Agaknya sang pelukis ingin mengingatkan kita betapa gerbong kemajuan yang bernama Indonesia itu tidak beranjak seperti masa 63 tahun silam.  Kesejahteraan Indonesia untuk memakmurkan rakyatnya jalan di tempat. Sosok-sosok penumpang dan kerumunan massa itu adalah wajah kita semua. Mereka berkulit coklat, bertelanjang dada, sebagian berbaju. dengan raut muka penuh derita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Suwage memberi judul lukisannya (akrilik di atas kanvas, berukuran 180 x 180 cm) Tanpa Judul. Meski begitu, potret sosok berambut coklat dengan sepasang mata teduh dan bibir terkatup ini bukanlah orang yang asing bagi kita semua. Ialah Tan Malaka, salah seorang founding father kita. Sulit  bagi kita untuk tidak simpatik dengan sosok ini. Agus Suwage menghadirkan potret Tan Malaka dengan buram bak foto usang seperti orang yang dilupakan album sejarah. Dengan menggunakan sapuan warna hitam, kecoklat-coklatan, dan hampir monokromatik, wajah Tan Malaka yang begitu polos ini begitu menggugah kita. Apalagi sang perupa mencantumkan pula teks-teks “pejuang yang kesepian ini” di atas potret itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Heri Dono menghadirkan Tan Malaka yang terbaring bertelanjang dada di hadapan tujuh petinggi militer, mulai pejabat dalam negeri hingga penguasa CIA. Salah seorang jenderal terlihat menggambarkan sesuatu di perut Tan Malaka, seakan hendak bersiap untuk membedahnya.  Di tangan kiri pesakitan terselip sebuah buku warna merah “Massa Actie 1926”, karya legendaris Tan Malaka yang menjadi acuan tokoh pergerakan. Heri Dono menggambar figur-figur dalam lukisan “Indonesia’s Che after ‘Massa Actie’ 1926” (akrilik di atas kanvas, 200 x 150 cm) ini dengan realistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Agung Hujatnikajennong dalam pengantar kurator pameran ini, gaya melukis Heri Dono dalam menggambar figur ini merupakan perkembangan mutakhir seni lukisnya. Agung menulis lukisan Heri ini tak pelak adalah parodi yang terinspirasi dari mahakarya maestro Belanda Rembrandt yang terkenal “Anatomy Lesson of Dr. Nicolaes Tulp” (1632), di mana sang pelukis menggambarkan sebuah proses studi anatomi manusia melalui pembedahan mayat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar penulis mengamati sebagian besar perupa yang ikut menyumbangkan karyanya di pameran ini tidak mampu melepaskan diri dari teks para tokoh sejarah tadi atau terlalu tunduk dengan teks. Agaknya mereka kesulitan untuk menafsir ulang tulisan tadi. Barangkali mereka lupa bahwa teks yang disodorkan kurator dan karya yang dihasilkan sebenarnya merupakan dua “teks” terpisah dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang tidak kita saksikan pada karya Sigit Santoso berjudul “Ode untuk Kusno” dengan cat minyak (150 x 180 cm).  Sigit secara mentah-mentah menafsirkan teks Bung Karno ‘Lebih baik jadi harimau sehari daripada seumur hidup jadi kambing’ dengan menggambar manusia yang telanjang dengan kepala kambing, tentu saja lengkap dengan teksnya. Lukisan ini tak lebih daripada visualisasi perkataan Bung Karno saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perupa Hanafi, dua lukisannya yang bergaya abstrak “Kami Ingin” dan “Tanpa Judul”, dua-duanya menggunakan akrilik, tak lebih baik dari Sigit. Di antara kedua lukisan tersebut Hanafi meluangkan ruang yang cukup luas untuk teks. Jadinya lukisannya bak komik karena begitu dominan dan mengganggunya rangkaian teks. Tentu pengunjung akan tersita perhatiannya kepada rangkaian tulisan tadi. Apalagi warna tulisan yang putih begitu kontras dengan warna kedua lukisan, yang menjadi latar belakang teks tadi.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, tidak semua perupa tunduk pada teks sejarah tadi. Penulis memberi apresiasi tinggi kepada perupa asal Bali, Wayan Sujana Suklu. Lukisannya “Jawa Egosentris” (tinta dan akrilik di atas kanvas, 135 x 135 cm)  berhasil menghadirkan konteks kekinian dalam realitas politik Indonesia mutakhir. Sebuah peta Indonesia hadir dengan pulau Jawa yang dilukiskan berdiri tegak di atas pulau-pulau lain. Sedangkan pulau-pulau lain tiarap. Wayan dengan tepat menyindir begitu dominannya kekuasaan Jawa, baik sebagai pusat politik, ekonomi, budaya, dan pemerintahan sehingga meminggirkan warga-warga pulau-pulau lain. Perilaku demikian rawan terhadap disintegrasi bangsa. Inilah kritik keras Wayan terhadap pemegang kekuasaan agar mereka menata kembali Indonesia, sebuah Indonesia tanpa diskriminasi dan saling berdiri sejajar dengan satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tak mau harus penulis akui bahwa konteks kekinian inilah yang luput digarap para perupa lain. Hanya sebagian kecil dari mereka yang menangkap ini seperti Djoko Pekik, Mangu Putra, dan Nus Salomo. Kendati demikian, menyaksikan pameran ini kita sekurangnya diajak untuk merenung tentang keindonesiaan sekaligus masa lalu kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 Oktober 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-744645327641360024?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/744645327641360024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=744645327641360024' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/744645327641360024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/744645327641360024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/10/pameran-dari-penjara-ke-pigura-ketika.html' title='Pameran “Dari Penjara ke Pigura” Ketika Teks Masa Lalu Bertemu Perupa'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-1088876158801223804</id><published>2008-10-24T13:11:00.001+07:00</published><updated>2009-03-14T15:13:05.346+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Habis Utan Kayu, Terbitlah Salihara</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGGAGAS Komunitas Utan Kayu, penyair dan wartawan senior Goenawan Mohamad, kini tengah sumringah. Pembangunan gedung Komunitas Salihara yang  direncanakan sejak sekitar setahun lalu akhirnya rampung juga. Pada Jumat (17/10) malam, kantong budaya di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu pun resmi dibuka untuk umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian kompleks Komunitas Salihara bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, Komunitas Utan Kayu di sekitar Rawamangun, Jakarta Timur, tempat Goenawan dkk bergiat selama ini, dipandang tidak lagi representatif untuk  menampung aktivitas berkesenian. &lt;br /&gt;Baik Teater Utan Kayu maupun Galeri Lontar yang menjadi bagian Komunitas Utan Kayu dinilai sudah terlalu sempit untuk menggelar pertunjukan teater, film, tari, diskusi maupun pameran seni rupa, yang rutin digelar tiap bulan oleh komunitas ini. Ini memang bisa dimaklumi karena sejatinya kompleks Utan Kayu adalah sebuah ruko sempit yang disulap sedemikian rupa untuk tempat berkesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks Salihara menyita lahan seluas 3.237 meter persegi. Komunitas Salihara terdiri atas tiga unit bangunan utama: Teater Salihara, Galeri Salihara, serta bangunan kantor dan wisma seniman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus Teater Salihara dapat menampung hingga 252 penonton dengan tempat duduk nyaman sekelas bioskop 21. Bandingkan dengan Teater Utan Kayu, yang tempat duduknya hanya berupa kayu tiga undak, di mana penonton harus duduk berdesak-desakan bila ada acara teater atau sekadar diskusi tengah digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung Teater Salihara juga diklaim sebagai gedung teater black box pertama di Indonesia. Disebut black box karena letak dan ukuran panggungnya fleksibel, tulis Totom Kodrat, konsultan tata suara Komunitas Salihara seperti termaktub dalam katalognya. Bagian atap juga dirancang sebagai teater terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajarlah bila Goenawan berharap banyak dengan kantong kesenian ini. Untuk menggaet penonton, bekas pemimpin redaksi majalah Tempo ini dengan dibantu anak buahnya menggelar festival Salihara, terhitung mulai 17 Oktober s/d 6 Desember 2008. Terhitung sejumlah acara telah disiapkan dalam kurun waktu tersebut, mulai dari pameran seni rupa, pertunjukan tari, musik, teater hingga kuliah umum oleh Adonis Ali Ahmad Said, penyair asal Suriah yang telah beberapa kali dinominasikan sebagai peraih Nobel Sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu yang lebih menggembirakan Goenawan malam itu adalah sambutan para undangan. Mereka menyemut! Hal ini terlihat saat pertunjukan Truntung Tak Terduga oleh Orkestra Arupadatu, Komunitas 5 Gunung, Magelang. Tempat duduk pertunjukan terisi penuh. Penonton bahkan tak beranjak dari tempat duduk untuk terus menikmati konser Folk Jazz Titi Aksan and Friends yang kebagian manggung terakhir sekitar pukul 22.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sabtu (18/10) pukul 20.00 WIB Komunitas Salihara akan menggelar pertunjukan tari Didik Ninik Thowok, dilanjutkan dengan pagelaran tari karya Jecko Siompo asal Papua bertajuk In Front of Papua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-1088876158801223804?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/1088876158801223804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=1088876158801223804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/1088876158801223804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/1088876158801223804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/10/habis-utan-kayu-terbitlah-salihara.html' title='Habis Utan Kayu, Terbitlah Salihara'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-5837808499340444007</id><published>2008-10-17T14:40:00.002+07:00</published><updated>2009-03-14T15:09:40.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esei'/><title type='text'>DUA KELAS MASYARAKAT INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KINI zaman para bandit berkeliaran! Itulah istilah yang kian populer belakangan ini, merujuk pada merajalelanya  para koruptor di negeri ini. Korupsi di negeri ini memang bak kanker ganas. Tak pandang bulu, perilaku korup merambah ke semua jabatan publik, mulai dari pejabat terendah setingkat lurah hingga bekas presiden. Semua lembaga negara ini, dari eksekutif, legislatif hingga yudikatif  tenggelam dalam lumpur korupsi. Inilah musuh Indonesia sesungguhnya. Korupsi berjamaah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira sudah saatnya anak bangsa yang masih bersih untuk menegaskan sikap mereka untuk membabat habis para koruptor itu. Sebuah kampanye masif bukan saja harus terus diintensifkan, kalau perlu tekanan yang lebih keras harus dilakukan. Saya membayangkan ada sekelompok orang antikorupsi saking geramnya pada suatu ketika di pengadilan tindak pidana korupsi, berhasil “menculik” seorang koruptor kelas kakap yang hendak divonis.  Koruptor kakap yang nahas itu kemudian digebuki ramai-ramai hingga tewas. Saya membayangkan yang dihakimi tersebut adalah seorang anggota DPR, bergelar haji dan doyan main perempuan. Kebetulan adegan brutal itu berhasil terekam oleh sebuah kamera amatir dan lantas disiarkan berulang-ulang di stasiun televisi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengandaian yang liar itu perlu saya tegaskan bahwa di negeri yang hukumnya masih tidur nyenyak ini, sebuah polarisasi yang tajam perlu dirumuskan. Para koruptor di negeri ini hanya 3 persen saja, tapi membuat 97 persen masyakat kita menderita. Mereka sedikit, tapi mematikan. Mereka membuat kita tampak bodoh dan ditertawakan seluruh dunia. Kalau negeri lain harum namanya karena prestasi, maka Indonesia harum karena selalu menjadi juara korupsi dalam sepuluh tahun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sungguh membuat kita geram adalah perlawanan balik para koruptor. Mereka mulai mencari-cari celah dengan mengutak-atik undang-undang. Misalnya dengan mengusulkan penghapusan pengadilan tipikor untuk diganti dengan pengadilan biasa, melucuti kewenangan KPK karena dianggap terlalu kuat sehingga mengancam kelangsungan demokrasi, dan sederet manuver tak resmi lainnya seperti lobi-lobi yang tentu saja ujung-ujungnya adalah duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sudah jelas ini adalah pertarungan “kita” versus “mereka”, antikoruptor melawan koruptor. Tidak perlu alasan yang bagus untuk menerangkan pertarungan ini. Mereka adalah korup dan karena itu musuh kita. Kita akan mengejar mereka hingga ke liang lahat. Tentu saja ini akan menjadi pertarungan yang panjang. Meski demikian, kita optimistis bakal menjadi pemenang walau harus ditebus dengan nyawa kita. Saya ramalkan benturan antara kelas koruptor dan kelas antikoruptor ini akan mewarnai sejarah kontemporer Indonesia hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-5837808499340444007?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/5837808499340444007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=5837808499340444007' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/5837808499340444007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/5837808499340444007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/10/dua-kelas-masyarakat-indonesia.html' title='DUA KELAS MASYARAKAT INDONESIA'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-2656805006641287357</id><published>2008-10-17T14:38:00.001+07:00</published><updated>2009-03-14T15:06:58.065+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>Musik dan Politik, Sinergi yang Terlupakan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musisi berpolitik bukanlah hal yang aneh. Musik memang memiliki sifat khas yang  dianggap mampu menerobos sekat-sekat ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Para musikus yang sadar sepenuhnya akan potensi ini lalu secara cerdik menggunakan instrumen ini untuk menyampaikan sikap politiknya terhadap kekuasaan. Mereka mencipta dan menggubah lagu bertema politik, kemudian memperdengarkannya ke khalayak. Bila lagu itu kemudian menjadi hit, tentu pesan politiknya kian banyak diketahui orang. Di sini lagu yang populer ternyata berfungsi secara positif dan tidak bertujuan untuk meninabobokan kesadaran masyarakat  sebagaimana yang dilontarkan para kritikus kebudayaan massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat misalnya dedengkot The Beatles, John Lennon, yang mengampanyekan perdamaian lewat lagu Imagine dan Give Peace a Chance. Sadar atau tidak, dengan menggubah lagu tersebut, John Lennon sebenarnya sudah berpolitik. Bahwa lagu itu lantas ngetop dan enak pula didengar menjadi nilai plus untuk karya itu. Pemusik lain yang juga gemar berpolitik lewat lagu adalah pelopor musik reggae, Bob Marley. Penyanyi asal Jamaica ini, misalnya, menggubah lagu Get Up Stand Up sebagai upaya menyadarkan hak-hak kaum tertindas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemusik dalam negeri tidak mau ketinggalan. Iwan Fals telah lama menyatakan keprihatinannya terhadap kekuasaan Orde Baru lewat lagu-lagu protesnya yang merakyat. Bukan sekali dua pertunjukan Iwan Fals dicekal semasa Orde Baru. Saking konyolnya, bahkan suatu waktu Iwan pernah dicekal aparat saat hendak mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya sendiri. Edan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan berikutnya, sejumlah musisi tidak puas hanya dengan memprotes lewat lagu-lagu saja. Mereka bergerak dalam spektrum yang lebih luas. Mereka lantas menanggalkan atributnya sebagai musisi dan terjun langsung ke tengah masyarakat untuk mengampanyekan sikap dan tujuan politiknya seperti yang dilakoni Bob Geldof. Yang paling terkemuka dalam kasus ini adalah penyanyi Bono dari grup rock U2. Vokalis asal Irlandia ini getol berkampanye agar negara-negara miskin mendapatkan pengurangan utang dari para donor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikatan Kuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri, sepanjang sejarahnya para pemusik punya ikatan yang kuat untuk andil dalam perubahan sosial. Yang paling membekas hingga kini adalah festival Woodstock “3 Days of Peace &amp; Music” yang digelar di New York, 15-17 Agustus 1969. Dalam suasana pengap perang dingin dan pro-kontra keterlibatan tentara Amerika dalam perang Vietnam, sejumlah musikus ternama seperti Janis Joplin, Ravi Shankar, Santana, Ten Years After, The Who, Jimmy Hendrix dll ambil bagian dalam pagelaran yang ditonton sekitar 450 ribu orang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di festival inilah orang-orang muda, lelaki maupun perempuan, kaum hippies berkumpul dan melancarkan pemberontakan terhadap nilai-nilai mapan. Mereka mengisap mariyuana, melakukan seks bebas, dan dengan gamblang menyatakan sikap pasifnya dalam slogan make love not war (bercinta, bukan perang). Sesungguhnya Woodstock adalah sebuah turbulensi sosial melawan kondisi sumpek Amerika zaman tersebut. Bagi penulis pribadi, festival musik yang belum ada duanya itu merupakan pertemuan antara gagasan antikemapanan kaum muda dan concern bersama para pemusik terhadap kelesuan sosial Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kita tarik dari festival Woodstock ini? Mengapa nilai-nilai yang diperjuangkan mereka dan gaya hidup yang nyeleneh seperti melakukan seks bebas dan mengisap ganja yang malah terus hadir bersama kita hingga hari ini? Tentu sangat tidak mudah menjawab pertanyaan ini karena diperlukan analisis dan riset yang mendalam untuk hal ini. Bagi penulis, biarlah para ahli yang berkompeten di bidangnya untuk menjawab pertanyaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang pasti, bagi  penulis pribadi festival Woodstock adalah prakarsa konkret para musisi dalam perubahan sosial. Inilah “lagu abadi” ciptaan para musisi yang pantas dikenang sebagai “produk kebudayaan”, kalau istilah ini bisa digunakan. Sebuah kenikmatan bermusik yang menciptakan sebuah kepatuhan yang ritmis*, di mana pendengar menjadi tunduk dan patuh terhadap “irama Woodstock tadi” seperti pemberontakan terhadap nilai-nilai lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali membandingkan peristiwa Woodstock dengan aktivitas musisi di Indonesia mungkin terlalu jauh. Namun saya melihat para musisi kita belumlah terlibat secara intens dalam melakukan perubahan di negeri. Kalaupun mereka terpesona oleh Woodstock, yang mereka maknai hanya mempraktikkan seks bebas dan menggunakan narkoba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang yang saya tahu, para musikus di negeri ini seringkali menjadi pihak minoritas dalam menyuarakan perubahan di negeri ini, baik dalam pemikiran maupun dalam karyan mereka. Bila kita tengok Polemik Kebudayaan era 30-an hingga era politik kebudayaan yang menghadap-hadapkan pihak Lekra dengan kelompok Manifestan pada 60-an, nyatalah musikus kita sering pasif. Ini tentu sangat disayangkan karena karya musik (baca: lagu pop) sebenarnya lebih bergaung di khalayak ramai dibanding karya-karya sastra atau karya tulis lainnya, baik berupa opini atau esei serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Istilah ini saya ambil alih dari Theodor Adorno yang tentu saja pengertian aslinya berbeda dengan yang dimaksud oleh pemikir Mazhab Frankfurt itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-2656805006641287357?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/2656805006641287357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=2656805006641287357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/2656805006641287357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/2656805006641287357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/10/musik-dan-politik-sinergi-yang.html' title='Musik dan Politik, Sinergi yang Terlupakan'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-5846819257709890237</id><published>2008-10-17T14:07:00.001+07:00</published><updated>2009-03-14T15:03:50.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media'/><title type='text'>7 Bulan yang Tak Terlupakan di RM Online  [2]</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai media internet, problem yang mendasar kami hadapi tidak bisa tidak berita harus selalu di-update selama 24 jam. Apa daya seperti saya singgung di atas, kami sangat kekurangan orang di lapangan. Empat reporter kami biasanya mulai bertugas pukul 10.00 WIB dan selesai pukul 19.00 WIB. Sementara kami terus diingatkan agar jangan sampai ketinggalan “kereta” dengan detik.com dan radio Elshinta, terpaksalah praktik mencuri berita dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya saya dan redaktur lain diminta Iga sesekali mengutip berita dari media lain. Lama kelamaan praktik curang ini terus mewabah. Saya sudah tak tahan lain. Sering saya dan Yayat karena malas mengutip disebut tidak sensitif terhadap berita. “Dia ini kalau udah keduluan detik dan Elshinta, jadi panik,” pemred saya berkomentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling kami benci terhadap redpel ini adalah spekulasi dan plintirannya dalam menulis berita, kalau perlu merekayasanya. Kasus yang paling saya ingat hingga kini adalah kasus suap anggota Komisi Yudisial Irawady Joenoes. Saat itu detik.com dan Elshinta memberitakan tentang perkembangan terbaru kasus Irawady. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iga memandang perlu angle lain dan lalu meminta saya menulis bahwa pengacara anggota Komisi Yudisial itu sedang mengusahakan penangguhan penahanan. Padahal baik di detik maupun di elshinta, sang pengacara yang dimaksud  tidak pernah berbicara hal tersebut. “Gila lo Ga!” reaksi spontan penolakan saya terhadap permintaan itu. “Gak apa-apa. Logika pengacara pasti kayak gitu,” ujarnya dengan  nada yakin. Ketika beberapa jam kemudian prediksinya benar, Iga dengan tenang berkata, “Benar kan Mak. Hari ini berarti kita leading!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gaya jurnalisme Iga seperti itu saya tahu bahwa situs ini tinggal menunggu waktu saja untuk terkena perkara. Bersama Yayat dan Atmo, redaktur lain, kami bersepakat bahwa gaya Iga merupakan contoh sempurna wartawan grup media ini, yang koran cetaknya  memang sudah beberapa kali bermasalah dengan beritanya. “(Wartawan media ini) mlintir melulu,” kata Atmo terkekeh. Saya teringat strategi Yayat yang lebih memilih pelan-pelan untuk memerangi kebiasaan Iga tersebut. Saya ragu dengan efektivitas tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu pengalaman yang paling sulit saya lupakan selama berkantor di Graha Pena itu adalah kasus calo alutsita. Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB, salah seorang kontributor kami melaporkan adanya dua anggota legislatif (sebenarnya ada tiga, namun saya hanya menulis dua) yang menjadi calo anggaran. Saat itu seingat saya hanya ada saya dan Iga. Yayat sudah seminggu tidak masuk karena sakit, Atmo belum datang. Bak petir di siang bolong saya mendengar nama populer anggota DPR terlontar dari mulut kontributor kami. Saya merasa tidak enak hati, lalu berdiskusi dengan Iga. Untuk memastikan saya telepon lagi kontributor itu dan ia sekali lagi membenarkan bahwa nama-nama yang menjadi calo itu sudah diketahui di kalangan wartawan yang mangkal di Senayan. “Soalnya namanya mau ditaruh dijudul ama Iga,” kata saya. Sang reporter tak keberatan, “Oh, mau taruh dijudul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iga mengedit lagi tulisan saya. Paragraf terakhir saya dirombak total. Kalimat asli saya di berita itu, Sumber myrmnews menyebutkan bahwa dua nama itu yakni….. dan … merupakan calo alutsita lantas diganti Iga dengan kalimat Bisik-bisik yang berhasil dikuping myrmnews menyebutkan bahwa nama… dan … . Lantas paragraf diakhiri Iga dengan kalimat pertanyaan Benarkah?  Kalimat yang menuai kecaman dari bos situs kami yang tengah belajar di Hawaii. “Sampaikan kepada Zamak kalimatnya itu aku kritik keras,” ujar sang bos melalui chatting dengan Iga. Anehnya, Iga lagi-lagi tidak jujur menyebutkan bahwa itu kalimat editannya. Padahal sejujurnya demi dunia dan akhirat, kalimat saya bukan seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, beberapa saat berita itu di-publish Iga, gedung 11 lantai itu langsung gempar. Pimpinan kelompok media tempat kami bernaung langsung menelpon dan meminta Iga mengonfirmasi kebenaran desas-desus itu kepada dua anggota legislatif itu. Senayan juga heboh karena berita itu dari segi isu memang bukan kategori kacangan. “Siapa yang ngomong itu? (Menhan) Juwono kurang ajar,” maki anggota DPR itu melalui telepon. Wakil rakyat yang satunya lagi bahkan mengancam akan menuntut Rp 1 triliun karena mencemarkan nama baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang harinya si reporter muncul ke kantor dan terungkaplah bahwa isu calo alutsita didengarnya dari mulut wartawan koran lain. Menurut rekannya, isu calo mengemuka saat halal bihalal Juwono dengan rekan-rekan pers. “Gue pikir bagus dimainin di online,” ucap reporter celaka itu seraya mengakui ia juga tidak hadir dalam acara halal bihalal tersebut. Ia menambahkan lagi, waktu itu Juwono menyebutkan nama-nama anggota DPR tersebut. Namun Menhan mengingatkan bahwa berita tersebut adalah off the record. “Berita off the record lagi, mampus aja lo!” ujar Zul, reporter kami yang kebetulan datang ke kantor petang itu. &lt;br /&gt;“Lo datang gak Zul saat pertemuan itu?” tanya reporter tersebut.&lt;br /&gt;“Gue juga gak datang,” jawab Zul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zul yang dekat dengan Menhan kemudian mengonfirmasi kabar itu kepada wartawan lain yang hadir dalam halal bihalal. “Tidak ada Menhan ngomong begitu,” kata Zul usai menelpon dengan mimik serius. Kami yang mendengar kabar itu terdiam saling melempar pandang. Beberapa detik lamanya tidak ada yang bersuara. Saya dan si reporter celaka itu terbenam di kursi di masing-masing. Saya perhatikan raut muka Iga yang putih tampak memucat. Di akhir pertemuan, si reporter yang bermasalah itu mencoba menghibur diri. “Moga-moga kasusnya akhirnya kayak Taufik Kiemas. Saya terhenyak begitu mengetahui bahwa ternyata si reporter juga pernah bermasalah sebelumnya. “Benar-benar media kuning,” maki saya dalam hati.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kasus ini, salah seorang anggota DPR yang dituding sebagai calo alutsita melaporkan kasus ini ke polisi. Celakanya lagi, anggota DPR itu juga cerdik dengan membawa perkara itu ke Dewan Pers. Saya merasa tipis kemungkinan kami bisa lolos dari lubang jarum karena kami bersandar kepada tiang yang rapuh. Sebab sudah jelas bahwa isu calo alutsita ini murni berita bohong. “Gue dituntut satu triliun. Gue mau bayar pakai apa,” keluh reporter yang tak tahu diuntung itu. Saya sendiri sampai tidak bisa tidur dua minggu lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah setelah melakukan pertemuan beberapa kali, kasus calo alutsita tadi berakhir damai. Redpel mengubah judul dan alinea terakhirnya yang bermasalah sesuai kesepakatan antara kami dengan anggota Fraksi PAN itu. Saya merasa lega, tapi kasus itu menyisakan trauma bagi saya. Barangkali ada satu bulan lamanya saya tidak mau menerima laporan dari reporter yang tak tahu diuntung tadi. Yang saya tidak habis pikir, meski ada kasus seperti itu, sepanjang yang saya tahu si reporter yang bermasalah tadi tetap bertugas seperti biasa. Mungkin karena redaksional kami berbeda, ia wartawan cetak sehingga saya tak mengetahui sanksi apa yang diterimanya dari kasus calo alutsita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, secara keseluruhan redaksional kami tidak berubah. Judul-judul kami tetap garang walau sempat berhati-hati sesaat. Namun yang makin membuat saya waswas adalah kami masih suka mencuri berita dari media lain. Saya takut kalau salah satu media yang kami  curi beritanya tahu perbuatan kami dan lantas menuntut kami, habislah riwayat kami. Demikian gelisahnya saya sehingga kecemasan terus menghantui saya sepulang dari kantor. Ide hengkang yang sering terbetik dalam pikiran saya mulai saya pikirkan masak-masak. Ketika bos kami datang dari Hawaii akhir 2007, saya tahu masa depan saya tidak di sini lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal 2008 redpel kami naik jabatan menjadi pemimpin redaksi. Tidak hanya itu. Ia juga diangkat Teguh, bos kami, sebagai pemimpin umum sekaligus pemimpin perusahaan. Saya berpendapat sudah tidak ada gunanya lagi bertahan. Atmo mencoba menahan saya, namun saya bergeming. Reaksi Yayat saat mengetahui putusan saya adalah reaksi maklum dari teman yang telah mengenal saya bertahun-tahun sejak kuliah dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, sejujurnya masih banyak hal yang ingin saya bicarakan seperti pilkada Jakarta dan cara media kami mencari iklan dengan cara-cara tidak patut. Saya berharap pada kesempatan lain masih punya waktu untuk menuliskannya. Secara keseluruhan, walau hanya kurang delapan bulan di website www.myRMnews.com, namun rangkaian pengalaman yang saya dapat tidak akan saya lupakan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-5846819257709890237?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/5846819257709890237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=5846819257709890237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/5846819257709890237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/5846819257709890237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/10/7-bulan-yang-tak-terlupakan-di-rm_17.html' title='7 Bulan yang Tak Terlupakan di RM Online  [2]'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4592090789846235559.post-6463317319889007530</id><published>2008-10-17T13:49:00.001+07:00</published><updated>2009-03-14T14:58:32.791+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media'/><title type='text'>7 Bulan yang Tak Terlupakan di RM Online  [1]</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Zamakhsyari Abrar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEDUNG BERTINGKAT 11 di Kebayoran Lama itu terlihat mencolok. Kaca-kaca di tiap lantai berkilau disiram cahaya matahari. Keberadaan gedung itu makin menonjol karena perumahan dan apartemen di sekelilingnya tidak ada yang menyamai tingginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang pada akhir Mei 2007, saya muncul di lantai 9 gedung itu dan bertemu seorang pria gemuk. Kami pun saling berkenalan dan berbicara seperlunya, lazimnya interview antara calon buruh dan majikan. Ia mengaku telah tujuh tahun bekerja di perusahaan pers ini. “Selama saya bekerja di sini, teori-teori sosial itu dihancurkan,” ujarnya memulai pembicaraan. Saya pun tertarik.. Sayangnya ia tidak berkomentar lebih jauh apa yang dimaksudnya dengan “teori-teori sosial itu dihancurkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah konferensi pers Amien Rais di Jogjakarta yang membuat pembicaraan kami terputus. Dengan serius pria gemuk itu menyaksikan temu pers yang disiarkan langsung sebuah televisi swasta nasional itu. Sigap ia memanggil dan muncullah Yayat, pria kurus berkacamata, yang dipacak sebagai pemimpin redaksi media online ini. ”Ambil-ambil,” ujarnya kepada Yayat sambil menunjuk layar televisi. Cekatan pria kurus itu menyimak isi konferensi dan menuliskannya di komputer. Suara ketukan keyboard terdengar berirama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temu pers Amien itu memang penting karena menyangkut dana nonbujeter Departemen Kelautan dan Perikanan, kasus yang sedang hangat-hangatnya waktu itu. Dalam tempo tak kurang dari 10 menit, berita tentang konferensi pers tersebut telah di-up load ke situs media itu. Itulah kedatangan pertama saya ke sana dan langsung mengalami sendiri cara kerja media online itu dalam “mencuri berita”, tempat saya akan mengabdi sebagai buruh selama tujuh bulan lebih, dengan gaji Rp 2.200.000 per bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perlu mengemukakannya di sini karena selama menjadi redaktur di media yang menyebut dirinya myRMnews.com ini, mulai Juni 2007 hingga awal Januari 2008, praktik main kutip berita dari media lain sudah menjadi kelaziman. Dengan jumlah reporter hanya empat (selebihnya adalah kontributor yang dibayar Rp 15 ribu per berita) mau tak mau kami harus banyak mengutip dari media lain. Sudah pasti jumlah awak segitu sangatlah tidak memadai untuk sebuah media internet yang harus meng-update berita tiap 15 menit sekali dalam satu hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis meng-upload berita, pemred memperkenalkan saya kepada sejumlah redaktur lain. Mereka hangat dan bersahabat. Saya yakin akan baik-baik saja di sini, apalagi pemimpin redaksinya bukan orang asing bagi saya. Kami bersahabat baik dan pernah sama-sama  menjadi buruh di liputan 6 dot com. Dalam pembicaraan kami berdua, Yayat menjelaskan kondisi “busuk” media ini dan sebagai orang baru, ia dipandang bisa memberikan angin segar. Kelak ucapannya ini tidak terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resminya saya bergabung awal Juni meski tak ada surat kontrak yang menyebutkan hal itu. Sebagai orang baru, saya--perlukah disebutkan?--bersemangat menulis berita dan bahkan kerap menunda makan siang karena jam-jam perut keroncongan itu malah saat banyaknya laporan yang masuk dari reporter di lapangan. Jumlah redaktur yang hanya empat, ini sudah termasuk korlip, redpel, dan pemred serta satu menggawangi sepakbola mau tak mau membuat kami seringkali kekurangan orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan lagi, Iga, redpel saya, terkadang terpaksa meninggalkan tugasnya untuk menyelesaikan kuliah S2-nya, atau untuk mencari iklan karena ia juga menjabat manajer periklanan. Redpel saya ini termasuk lama di lapangan, gesit, dan militan. Saya prediksi usianya paling tua mungkin baru 29 tahun. Kecepatannya dalam menulis berita benar-benar mengagumkan. Saya kira saya tidak apa-apanya dibandingkan dengan orang yang ramah dan religius ini (Ia sering puasa sunah Senin-Kamis). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling saya ingat darinya, caranya membuat judul-judul berita yang menggigit. Tentang judul-judul yang menggigit ini memang pakem media online kami. “Kalau judulnya gak menarik, berita kita tidak dibaca orang,” ujar pria gemuk yang mewawancarai saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa redpel saya, pakem judul kami dirumuskan sebagai “judul harus cerdas, nakal, dan eye catching”. Demikianlah sering untuk mengejar judul yang menarik, kata-kata yang tidak ada dalam KBBI sering bersileweran di situs kami. Misalnya kata ojekers sebagai ganti kata tukang ojek, geruduk untuk pengganti serbu, jablay untuk menyebut wanita penghibur, dan berbagai kata slang lain seperti cuek, ngertiin, bangor, cem-ceman dan banyak lagi contoh lainnya.. Acap pula judul menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa asing. Ini sebenarnya memalukan. Yayat secara  sinis mengatakan kepada saya kemungkinan Iga tidak pernah belajar bahasa Indonesia jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara cermat Iga terus mewanti-wanti agar judul  yang kami tulis sesuai dengan pakem. Begitu kreatif dan “gatalnya” tangan redpel saya ini, hingga kalau dirasanya tidak sreg, ia seenaknya mengganti judul berita yang telah di-upload tanpa meminta izin penulis yang bersangkutan. Saya berbilang kali mengalami hal ini. Pada beberapa kasus, judul yang diganti malah tidak sesuai dengan isi berita karena redpel hanya membaca berita sekilas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, dua kali saya “disemprit” reporter saya Henri karena judul dua berita yang dilaporkannya sangat bertolak belakang dengan isi berita. Anehnya redpel yang santun tersebut tidak pernah meminta maaf kepada saya. Menyadari hal ini, saya sering pasang mata-mata kalau judul saya telah berubah wujud. Yang kasihan, tentu saja pembaca situs kami karena bisa saja saat ia membaca sebuah berita judulnya masih A, setengah jam kemudian judul bisa berubah menjadi B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya saya memaklumi pakem judul ini karena sebagai media bercitarasa sensasi (yellow journalism) adalah penting untuk menulis judul yang sensasional. Tapi seiring berjalannya waktu, menyiasati berita yang isinya biasa-biasa saja, Iga bertindak kelewat jauh. Banyak berita yang isinya mengecoh pembaca karena sang redpel lebih mementingkan judulnya. Padahal ia sendiri beberapa kali mengingatkan kami agar tidak membuat judul yang memelintir seperti sering dipraktikkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4592090789846235559-6463317319889007530?l=pengulikkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pengulikkata.blogspot.com/feeds/6463317319889007530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4592090789846235559&amp;postID=6463317319889007530' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/6463317319889007530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4592090789846235559/posts/default/6463317319889007530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengulikkata.blogspot.com/2008/10/7-bulan-yang-tak-terlupakan-di-rm.html' title='7 Bulan yang Tak Terlupakan di RM Online  [1]'/><author><name>Zamakhsyari Abrar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07174789176209915843</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
